bab : 20 - samudra

5.4K 1K 41
                                        

Kacau. Seperti Formula X-57 di warehouse Majesty yang nyaris setengahnya terbakar akibat ledakan ranjau. Sementara Pram hanya bisa memandang puing-puing bangunan yang hangus dan berjatuhan. Kepulan asap pekat membumbung. Mengundang para pencari warta.

Anak-anak sialan itu ...

“Permisi, Pak.”

Pram menoleh sedikit mendengar suara bawahannya.

“Ada saksi mata yang melihat para sandera dibawa kabur ke arah stasiun.”

“Kerahkan tim dan bawa mereka kembali sekarang.” Keputusan itu mutlak. Sehingga sang bawahan hanya perlu menunduk patuh dan segera melakukan tugas.

Dari balik jendela itu, Pram melihat dua mobil datang menerobos kerumunan reporter. Satu orang berpakaian jas formal, satunya lagi berseragam dokter, dengan para bodyguard mereka. Laki-laki itu meraup wajah kasar. Sambil memikirkan jawaban andai saja Arjuna dan Arsenio menuntut penjelasan mengenai putra-putrinya. Tidak lama kemudian pintu ruang kerjanya menjeblak terbuka.

“Katamu ini tidak akan berbahaya.” Arjuna langsung menodong. Mata yang setajam milik putranya itu meminta penjelasan.

“Semua terjadi di luar kendali. Kalau mereka tidak memberontak dan menyerang para penjaga, ini tidak akan mungkin terjadi.” Pram, sang Wakil Rektor menyatakan kebenarannya. “Kerugian lebih dari 2 milyar. Kita juga harus bertanggung jawab pada Keenan karena bengkelnya ikut terkena dampak ledakan. Asuransi karyawan—”

“Saya tidak peduli. Di mana anak-anak?” Arjuna memotong kalimatnya.

“Seseorang membawa mereka kabur ke arah stasiun. Orang-orang suruhanku sedang berusaha mencari mereka.”

Arsenio menghela, menyibak lengan jas putihnya merasa perlu memeriksa jam di pergelangan tangan. “2 jam. Jika tidak, saya akan mengajukan tuntutan.”

“Besok pagi.” Pram bernegoisasi.

Laki-laki bersetelan jas dokter itu berpikir sejenak dan menatap Arjuna yang tampak tidak keberatan. “Besok pagi sebelum Aksana melakukan konferensi pers.”

“Baik, Dokter.”

****

“Sebentar lagi mungkin Aksa bikin konferensi pers klarifikasi soal rumor yang kita buat. Masyarakat sudah terprovokasi karena demo mahasiswa. Apalagi gedung Majesty sempet terbakar tadi. Reporter pasti sibuk cari berita. Sedangkan orang-orang sibuk mencari fakta.” Deretan pemikiran gila yang Shaka ucap dari isi kepalanya lagi-lagi membuat semua orang tercengang. “Kita harus berterimakasih sama keadaan.”

Nadine menatap cowok yang menciumnya di belakang kontainer tadi dengan kerut menelisik. Merasa ada yang berbeda dari Shaka sekarang. Bukan penampilannya, melainkan energinya. Seperti bukan Shaka si problematik yang memicu demonstrasi anarkis tahun lalu, yang suka terlambat kelas, dan lemot bila diajak ngobrol. Tapi Shaka yang disegani semua orang karena arogansinya.

“Tapi ini tidak akan lama." Semua memusatkan atensi pada Dipta. "Karena sekarang mungkin terjadi perdebatan antara pemegang saham. Dan konferensi pers tidak akan dilakukan sebelum kalian kembali. Bisa jadi—”

“—mereka mengirim beberapa orang untuk cari keberadaan kita?” sambung Claire. “Karena untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat mereka perlu bukti kalau kita yang bersalah.”

That's it.

Terlihat sorot lampu dari beberapa mobil. Terakhir kali Jo mengecek jam tangan, waktu sudah mendekati tengah malam. Seharusnya tidak ada kendaraan umum yang melintas dengan kecepatan tinggi di tempat terpencil seperti ini. Kecuali itu mobil orang biasa yang memang perlu melewati daerah sana untuk sampai ke rumah. Atau mobil anak buah Majesty yang berhasil menemukan mereka seperti yang dikatakan Dipta.

ARSHAKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang