bab : 21 ㅡ pelabuhan ratu

6K 1.1K 115
                                        

Lagi-lagi tangannya dihempas kasar. Aksana berusaha kabur. Sampai lengan kekar yang memiting leher membuatnya kesulitan bergerak. Sikunya dikerahkan untuk memukul perut cowok itu. Tapi Shaka seolah tidak memberinya kesempatan untuk lari. Memang tidak. Tubuh Aksana yang lebih kecil darinya dengan mudah dihempas ke kap mesin mobil SUV milik Dipta. Seisi mobil terkejut. Terlebih ketika Shaka menahan tengkuk Aksana, menarik kupluk hoodie dan melepas topi dari kepala cowok itu yang membuat semua orang langsung mengenalinya.

“Aksana?” sebut Nadine, refleks.

Suara klakson kapal membahana cukup panjang. Tidak ada yang bergerak barang satu senti pun. Selain Shaka —dengan dendam tersendirinya— yang memborgol kedua tangan Aksana di belakang tubuh. “Bukannya gue udah sering bilang kalau nggak ada siapapun yang boleh masuk kamar gue tanpa izin?” gertaknya.

Satu sudut bibir Aksana ditarik menyeringai. “Masih berpikir kalau X-57 punya lo?”

Semua orang keluar dari dalam mobil saat Shaka menarik paksa cowok itu untuk bangkit dan mencengkeram kerah hoodie-nya. “Gue yang riset, gue yang bikin formulanya, gue yang rela nggak tidur berhari-hari demi X-57!”

“Ketiga,” kalimatnya terjeda sebentar, membuat Claire semakin penasaran, “pemilik Formula X-57 masih belum jelas.” Si gadis pirang sontak menjatuhkan rahangnya begitu ingat kalimat Papanya.

“Ya,” balas Aksana enteng. Tahu betul orang-orang terdekat Shaka —termasuk Nadine— pasti akan kecewa ketika mengetahui bahwa orang yang paling keras menyuarakan pemberhentian Formula X-57 justru adalah otak dari vaksin psikotropika itu. Kini ia bahkan berani mengangkat dagunya pada pemilik asli X-57. “Lo yang belajar sains berjam-jam demi kesempurnaan proyek ini. Terus kenapa sekarang berlagak menentang proyek yang udah lo rancang bertahun-tahun?”

Bahu Nadine meluruh serendah-rendahnya. Tidak jauh berbeda dengan Dipta dan Jo.
Shaka mengetatkan rahang. Cengkeraman tangannya semakit kuat. Dibuat meradang oleh orang tidak tahu diri seperti Aksana.  “Gue nggak pernah berpikir mengajukan X-57 untuk direalisasikan.”

“Makanya gue berinisatif buat—”

“Dengerin gue baik-baik.” Shaka menyentuh kedua bahunya. “Yang jadi permasalahan di sini bukan hanya kandungan psikotropika dalam formula itu. Tapi juga fakta penyelewengan Majesty. Pencucian uang, korban-korban yang dijadikan bahan percobaan, pencemaran, dan ngebiarin tikus-tikus laboratorium berkeliaran, jelas menyalahi K3. Kalau perusahaan saja nggak bisa menjaga kualitas produksinya, bagaimana bisa X-57 didistribusikan secara massal kalau bukan karena lo yang terlalu haus validasi sehingga semua dilakukan dengan sangat teburu-buru!”

Aksana tersinggung. Dada Shaka dia dorong kasar. “Lo bilang X-57 akan membawa revolusi besar buat negara kita!”

“Kenapa lo terlalu bodoh buat bedain mana hiperbola dan fakta yang sebenarnya?!”
Aksana telak. Kembali menerka jalan pikiran adik tingkatnya yang satu ini.

“Sebelum semuanya terlambat, adain konferensi pers kalau Formula X-57 nggak bisa dilanjutin dengan alasan yang gue sebutin.”

“Majesty bertanggungjawab atas seluruh resiko. Jangan asal menyimpulkan!”

“Buktinya apa?” Kali ini Jo angkat bicara. “Abimanyu dan anak-anak yang senasib sama dia gimana? Bukannya kompensasi cuma bakal dikasih setelah mereka sakit dalam bentuk biaya perawatan? Terus gimana kalau mereka mati?” Semua orang terdiam. “Apa Majesty bisa bikin mereka hidup lagi?”

“Ada kesepakatan sah dari kedua belah pihak yang sama-sama disetujui tentang jumlah nominal dari kerugian yang ditanggung.”

“Kita nggak bahas nominal!” sentak Nadine. “Kita lagi bahas apakah nyawa yang dipertaruhkan sebanding sama uang kalian tawarkan?!”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ARSHAKACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang