FTF - TwentyFour

1.2K 233 26
                                        

Sorry for typo ..

Happy Reading
.
.
.















_

"Ji ini kenapa jadi aneh, kau merusaknya". Dibalik pantry Jennie mengomel karena pancakenya jadi berantakan, padahal tadi dia yakin sudah menyusunnya dengan cantik saat ditinggal mengambil sausnya.

"Kim Jisoo kau dengar tidak sih". Seru Jennie lebih kesal, dia tidak suka diabaikan.

Sedangkan pria yang diteriaki Jennie mulai mengalihkan fokusnya pada sang kekasih yang berdiri siap membakarnya dengan tatapan kesal.

"Bukan aku. Jasmine yang melakukannya dan dia langsung kabur saat tahu kau yang membuatnya". Dalam hati Jisoo merutuki anak cerobohnya. Dia yakin jika anaknya itu hanya takut pada Jennie, dimana harga dirinya sebagai kepala keluarga.

Oh iya sejak tiga minggu ini Jennie tinggal bersama Jasmine di Apartemen Jisoo. Hidup gadis itu mulai tertata kembali setelah menyadari masih ada banyak orang yang menyayanginya.

Melupakan sosok sang Ayah yang sudah diklaimnya sebagai seorang pembunuh, walau kejadian itu tanpa kesengajaan.

Tapi meski begitu, Jennie tetap menerima fasilitas Ayahnya. uang, mobil, Kredit card, Apartemen bahkan Jennie masih menjadi pewaris tunggal dari Perusahaan sang Ayah. Namun untuk saat ini Jennie lebih nyaman berada di Apartemen Jisoo bersama gadis yang selalu membuatnya negative thinking.

"Dimana dia". Gartak Jennie. Nyali Jisoo melorot walau dia tidak tahu apapun.

"Jasmine ! Jasmine Kim ! Aku tahu kau belum berangkat. Yakk, apa yang kau lakukan dengan pekerjaanku"

"Sayang sudahlah, itu masih bisa dimakan". Jisoo tidak tahan dengan teriakan-teriakan ini. Selama ini dia sudah kenyang dengan teriakan sang adik, jangan sampai Jennie menambahinya.

Lagipula kenapa gadis kucing ini jadi hobi teriak sih, beda sekali dengan diluar sana yang cuek, angkuh dan dingin.

"Kau membelanya lagi, Ji sebenarnya aku atau dia kekasihmu sudah sering kau lebih memihaknya". Jisoo tahu sekarang Jennie tidak bisa hanya diberi ucapan halus. Pria Kim berjalan mendekati Jennie dan menarik bahu gadis itu agar menghadapnya.

Cuph !

Satu kecupan ringan mendarat

"Apa selama ini yang kulakukan masih kurang, Sayang kau tahu bagaimana aku sangat-sangat mencintaimu. Jasmine? Dia seperi anak bagiku, tidak ada seorang Ayah yang mencintai Anaknya seperti pada wanitanya".

"Anak-anak.. kau selalu mengatakan itu. Bagaimana bisa saat usia kalian sama kau mengagapnya anak".

"Susah menjelaskannya sayang, tapi yang jelas aku tidak mungkin mencintai Jasmine lebih dari itu".

Setiap kali mendebat masalah hubungan Jisoo dan Jasmine. Jennie selalu frustasi karena Jisoo tidak pernah memberikan alasan lain selain pembelaan, mengatakan Jasmine sudah seperti anakanya.

Jennie bosan mendengarnya dan dia selalu berhenti bicara, bukan mengalah tapi malas.

"Tidak bisakah kau meng upgrade alasamu.. aku bosan mendengarnya".
Sigadis kucing mulai sedikit rileks, walau kesal tapi selalu saja dia tidak bisa benar-benar marah akan kedekatan keduanya.

"Selamat pagi. Kalian berisik sekali, apa yang kalian lakukan". Jasmine muncul dengan wajah tanpa dosanya.

Jennie melirik malas sebelum melepas tangan Jisoo dari bahunya.

From The Future (Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang