FTF - Eleven

1.2K 207 13
                                        

Happy Reading

.
.
.















_

Jisoo menyesap coklat hangatnya sembari memandangi jendela yang menampakkan keadaan gerimis kecil diluar. Dia amat merasa tenang, tidak jarang pria Kim itu juga menampilkan senyumannya.

Kejadian satu minggu lalu yang tidak akan terlupakan. Jennie berada dalam dekapannya, menunjukkan sisi lain dari gadis dingin itu. Jisoo lagi-lagi hanya merasa beruntung diatas kesialannya terkunci semalaman di perpustakaan.

"Sudah tidak waras dia". Seseorang berdiri menyerong di hadapan Jisoo. Melihat bagaimana bodohnya pria yang dieluh-eluhkan para gadis di Sekolahnya, mereka tidak tahu saja jika dibalik wajah sempurna Kim Jisoo, dia amat aneh. Itu pikirnya.

Jisoo tidak menyadari kehadiran sang adik yang sudah mengejekknya dengan berbagai kata-kata, dia terlalu larut memikirkan Jennienya.

Rosé mengambil coklat hangat ditangan Jisoo dan barulah pria berbibir hati itu menyadari akan sosok sang adik.

"Yakk". Dia berujar tidak terima, ah lebih tepatnya tidak terima menganggu pikirannya akan Jennie.

"Oppa aku tahu kau itu aneh, tapi haruskah setiap malam kau senyum-senyum bodoh seperti tadi? Kasian Mom and Dad jika ternyata anak prianya terganggu kejiwaan--". Jisoo menoyor kepala adiknya yang sok pintar dengan pikirannya yang bahkan jauh dibawahnya.

"Oppa sakit!". Rosé merengek. Wajahnya dibuat sok kesakitan tapi itu malah semakin membuat Jisoo ingin melempar adiknya dari jendela.

"Kau itu, harus ya memganggu ketenanganku? Kau tidak punya teman, dasar jomblo". Rosé mendelik tidak terima. Walau yang Jisoo ucapkan memang benar tapi tidak haruskan dijelasakan juga.

"Seperti kau tidak saja dasar bucinnya Jennie". Rosé melenggang menuju ruang tv, sudah jadwal drama kesukannya tayang.

Jisoo? Sudah jelas dia mengumpati semua kelakuan adiknya yang tidak pernah benar yang mungkin tidak dihiraukan Rosé.




-



Jarak yang terjalin terkikis begitu kedua benda lembut itu saling bersentuhan, menyalurkan rasa baru yang aneh namun sangat menyenangkan. Dibawah emperan toko yang sudah tutup, mereka berteduh karena salju yang lebat mengguyur kota.

Ciuman itu tidak terelakkan. Si gadis yang awalnya ragu-ragu perlahan namun pasti mulai mengalungkan tangannya pada si pria, menopang sebagian berat tubuhnya pada si pria karena tidak tahan oleh rasa yang muncul akibat ciuman yang semakin panas.

"Emhhh.. jishhh~". Si gadis mengerang tertahan merasakan perih pada bibirnya yang digigit.

Tangan nakal itu terus mendorong tengkuk si gadis agar memperdalam tautan panas yang terjalin, bahkan satu tangan lainnya digunakan untuk melepas kancing pada white blouse si gadis, tidak peduli mereka dimana. Mereka hanya sedang dibakar nafsu.

"Jen~ahhh...".





Brakkk

Jisoo membuka matanya, sedikit terkejut karena jatuh dari atas ranjang, tubuhnya terbelit selimutnya seperti kepompong, dia tergeletak diatas lantai merasakan sakit.

"Apa tadi itu cuma mimpi?". Jisoo belum sepenuhnya sadar, pikirnya masih ngambang.

Sampai..

From The Future (Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang