13

1.8K 265 7
                                        

Chapter tiga belas:

Memberikan batu bertuah pada Voldemort kelihatannya...mudah. Faktanya, Harry bisa secara harfiah menyelipkan catatan pada Quirrelmort tentang itu dan dalam perjalanannya. Dia tak harus melakukan petualangan membahayakan untuk mendapatkan batu itu. Well, dia seharusnya melakukan itu, mengingat dia di bawah pengawasan Dumbledore. Tapi sekali lagi, Harry tak peduli pada kambing tua itu.

Itulah mengapa saat pagi yang berawan dan dingin, Harry menulis surat mendadaknya saat pelajaran DADA. Quirrel ada di depan kelas, terbata akan kata-katanya dan menunjukkan sesuatu di papan tulis di belakangnya. Ron mengayunkan kakinya di bawah meja di samping Harry, bersenandung pelan saat dia mencatat. Smentara Verde dan Nimmy berbaring di atas meja, bertengkar tentang sisik siapa yang lebih lembut dan lebih indah. Nimmy kelihatannya menang.

Tersenyum, Harry mencelupkan pena bulunya ke dalam tinta dan mulai menulis. 'Dear, Voldemort.' Berhenti sejenak, Harry mengangkat kepala ke samping dan kemudian mencoret dua kata itu. 'Dear, Tom,' sebaliknya dia menulis itu, 'Batu bertuah itu ada di koridor lantai tiga di sisi kanan, di bawah pintu jebakan. Sayangnya pintu itu dijaga oleh anjing berkepala tiga. Namanya Fluffy dan dia cukup lucu kalau kau mengabaikan taring tajamnya. Terlihat seperti dirimu.' Harry mengetukkan pena bulu ke bibir bawahnya. Dia menggeser duduknya dan bersandar lebih dekat ke meja, membungkuk di atas perkamennya sehingga terlihat seperti sedang mencatat. Di belakangnya, Draco menggumamkan sesuatu pada Parkinson yang membuat gadis itu tertawa. Mengayunkan pena bulunya di atas perkamen, Harry lanjut menulis. 'Saat kau sampai ke rintangan terakhir, kau akan berada di ruangan kosong dengan sebuah cermin. Cermin itu hanya akan memberi batunya pada seseorang yang ingin mencari tapi tak ingin menggunakannya.' Dia menggaris bawahi kata 'mencari' beberapa kali, jaga jaga kalau Voldy tua itu tak cukup paham. Dia menandainya dengan kalimat sederhana, 'with love, HP.'

Harry menghabiskan sisa pelajaran dengan menggambar hati kecil di atas surat sambil membayangkan wajah jijik Quirrelmort saat dia membacanya. Hal itu membuatnya pusing.

Di akhir kelas, Harry berjalan ke arah kandang burung. Dia bisa saja meninggalkan surat itu di meja Quirrel tanpa ada yang tahu sesuatu dalam amplop polos itu. Tapi, Harry akan merasa sedih kalau Hedwig akan kecewa dengannya kalau dia tak jadi memberinya surat untuk dikirim. Dengan desahan lelah, Harry mengikat surat itu ke kaki Hedwig. Dia memekik padanya dengan girang, matanya berkilauan. Harry tak tahan untuk tak tersenyum. "Alright, girl. Jangan sampai orang lain kecuali V melihatmu." Hedwig memberinya tanda setuju dan kemudian terbang, dengan anggun melewati salah satu dari banyak jendela.

Tampaknya Voldemort memutuskan untuk menunggu dirinya mencari batu bertuah. Dia masih di Hogwarts, tetap mengajar DADA dan sesekali dia akan melihat ke arah Harry dan matanya akan berkilat merah. Itu selalu meninggalkan deru antisipasi mengalir melalui Harry, bekas lukanya berdengung dan serasa ada kupu kupu di perutnya. Ini membingungkan, karena sebelumnya bekas lukanya terasa seperti terbakar dan berdarah serta menyakitkan kapanpun Voldy menatapnya. Dia belum pernah merasakan ini...aneh tapi menyenangkan. Seperti dia bahagia pada perhatian yang diberikan Voldemort. Selama salah satu demonstrasi, Voldemort terus menatapnya, suaranya datar, dengan nada rendah yang sangat dikenal Harry dan matanya berkilat merah. Hal itu membuat Harry menelan ludah, tiba tiba rambutnya berubah menjadi pink. Itu bukan warna pink bubblegum biasa yang menyilaukan mata. Kali ini pinknya lembut, lebih terang, lebih... sesuatu yang Harry tak tahu namanya. Bukannya heran, dia mengabaikan hal itu dan melanjutkan kegiatannya. Pada akhir minggu, rambutnya kembali ke warna gelap normalnya.

Halloween datang dengan cepat. Labu labu diukir dengan senyuman lebar, Muggleborn ada di sana, ada banyak permen dan lilin yang disihir agar mengapung di atas kepala mereka. Si kembar Weasley meledakkan bom glitter di salah satu koridor sehari sebelum perayaan dan para Professor berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga semuanya tetap utuh. Harry melihat McGonagall mengintai aula besar hari berikutnya dengan wajah serius, jubahnya terus berganti warna menjadi warna warna cerah dan mengundang tawa dari meja Gryffindor, dia tahu itu prank lain dari si kembar. Dumbledore memberikan pidato pendeknya, menahan tawa saat McGonagall mengambil tempat duduknya yang biasa dan kemudian pesta Halloween dimulai.

Harry. Exe Has Stopped WorkingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang