28

961 97 5
                                        

Chapter dua puluh delapan:

"Fuck me," kata Harry sambil berkedip beberapa kali. "Aku sudah pernah melihat banyak hal tapi kelinci yang bisa bicara.... aku pasti sudah gila,"

"Gila?" Kelinci putih itu menirukan, tubuhnya semakin mendekat ke arah Harry, "Tentu saja tidak, Master. Kau hanya melihat apa yang seharusnya kau lihat,"

"Dia selalu begitu," Verde terdengar seperti akan menangis, "Ini sangat dingin. Buat dia diam,"

Tepat pada isyarat, Harry merasakan merinding lagi di punggungnya. Bukankah dia sudah melakukan mantra penghangat tadi? Sialan, apa yang terjadi? Dia seharusnya mengabaikan dua familiarnya itu dan tetap berada di kastil. Sesaat dia mengingat kehangatan dan kenyamanan dari kasurnya kemudian mengumpat akan sel otaknya (dua-duanya) karena membuat dirinya berada di situasi seperti ini.

"Yap benar," Harry memijat pangkal hidungnya dan menutup mata, "Ini pasti hanyalah mimpi. Mimpi yang buruk, tapi tetap mimpi. Yang harus ku lakukan adalah bangun, jadi--

Ada suara gemeretak, keras dan tiba-tiba, Harry dengan cepat menutup mulutnya. Dia tak berani membuka mata karena suara itu terdengar seperti tulang yang patah--- suara yang begitu familiar baginya. Ada suara lain juga, nafas berbisik dan Harry rasa itu adalah pergerakan otot.

Akhirnya, suara mengerikan itu berhenti dan Harry menghela nafas yang tak sadar dia tahan. Keringat dingin mengalir dari belakang leher sampai ke bawah membuatnya tak nyaman.

"Master," kelinci itu... menyentuh pipinya? Harry merinding, seluruh syaraf tubuhnya mendadak hidup fan dia merasa panas, jemari panas perlahan mengelus rahangnya. Harry membuka mata lambat dan jantungnya berdegup kencang, mata hijaunya melebar ketakutan.

Dia bisa melihat tangan tengkorak berada di pipinya, jemari panjang itu menangkup sampai rambut belakang Harry dengan jubah legam yang terpakai pada sosok itu, terlihat seperti menyatu dengan sekelilingnya, lalu akhirnya, pada sebuah wajah yang terbuat dari tulang putih, murni. Bukan, bukan wajah... lebih seperti topeng, dengan sisi kiri membengkok pada satu set gigi besar dan sisi kanannya membentuk tulang halus.

Mata emas tajam berkilau di bawah bayangan pria itu --- apakah dia pria?-- berupa tengkorak dan Harry merasakan pipinya menghangat karena malu akan ketakutan yang dia rasakan, itu ketakutan dari bekas lukanya. Yang mana mengundang pertanyaan...

"Kau Death?" tanya Harry dengan suara yang anehnya tinggi dan napasnya terengah. Dia bisa mendengar serangan gencar detak jantungnya dari telinga dan itu sangatlah keras dan jelas, seperti lusinan drum yang dimainkan bersamaan. "Itu kau, iya kan," kata Harry merasakan perasaan deja vu bercabang dalam pikiran rumitnya.

Dia...... ingat, tapi tak terlalu yakin apa. Atau siapa. Atau apapun soal itu. Rasanya seperti melihat pada cermin yang berkabut, siluetnya ada tapi tak cukup. Bekas luka Harry tiba-tiba terbakar penuh peringatan tapi dia mengabaikannya demi menyipit pada Death.

"Master..." Nimmy berdesis ragu dan pelan, "Kau tau makhluk ini?"

"Yeah," jawab Harry, "Aku hanya..." ugh. Rasa frustasi yang dia rasakan tak jelas, seperti semua jawaban sudah ada di ujung lidahnya tapi dia tak bisa mengatakannya. Harry menyipitkan mata lebih lagi pada Death, netra emerald itu bertemu dengan emas dan seakan ada bola lampu menyala di sebelah kanan rambut berantakan Harry.

"Oh," wajah Harry berubah marah, "Oh I fucking know you,"

Dia menampar tangan yang sempat berada di wajahnya dan mendorong dada Death dengan sekuat tenaga. "Dasar kau sialan¹, aku membencimu, aku benci padamu, aku sangat membencimu!"

Tak sedikitpun terkejut, Death mundur, membiarkan sang Master mendorong dirinya. "Master--"

"No!" Harry berdesis, mata hijaunya menyala penuh amarah. "Diam! shut the fuck up! Sudah kubilang, kan? Aku ingin mati. Aku sangat ingin mati," dia meninju dada Death dan yang bisa dia rasakan dari balik jubah hitam itu adalah tulang yang keras dan dingin, "Kenapa kau tak membiarkan ku mati?"

"Master," Death menangkap tangan Harry di antara jemari belulang panjangnya. Dia bertanya, "Apa kau tak bahagia?"

"Bahagia?!" Harry memekik frustasi luar biasa. Dia mencoba menarik tangannya dari genggaman dingin Death tapi gagal. "Soal apa? Ini? Dunia ini?" air mata berkumpul di ujung matanya, tapi Harry tak merasakan kesedihan, dia merasakan pengkhianatan dan kemarahan. Tak ada gunanya kalaupun dia berteman lagi dengan Ron dan Hermione, tak ada gunanya akan antek-antek Slytherin sekarang, tak ada gunanya kalau Sirius masih hidup atau Voldemort yang hampir sewaras mungkin. Tak ada gunanya kalau semuanya berbeda. Sangat amat berbeda.

'Tapi,' sebuah suara kecil dan bagian pengkhianat di otak Harry berbisik, 'ini lebih baik,'

"Aku hampir," Suara Harry parau dengan keputusasaan saat air mata mengalir di pipinya yang memerah. Di bawah sepatunya, rumput-rumput di sekelilingnya berubah menjadi coklat. "Hampir, yang harus kau lakukan hanyalah membiarkanku mati dan ini semua akan berakhir. Semua rasa sakit ini akan berakhir,"

Yang harus kau lakukan hanyalah membiarkanku mati dan ini semua akan berakhir. Semua rasa sakit ini akan berakhir. Death menarik Harry dalam rengkuhannya, sadar akan tubuhnya, dia melakukan mantra penghangat di sekeliling mereka. "Tidak apa-apa," gumam Death dengan memegang Harry hati-hati, seperti sedang menggendong bayi baru lahir. Dia menatap rumput yang sudah mati di sekeliling mereka dan berpikir, 'Sejujurnya, kau milikku seperti aku milikmu'

"Benci aku," Death mengelus punggung Harry untuk mengurangi gemetar dan perlawanannya, "Teriaklah dan hukum aku, tapi aku tak akan pernah menyakitimu, Master. Tak pernah,"

"Kau hanya tak akan mematuhi ku," kata-kata yang keluar terdengar parau dan teredam di balik dada Death, buku jarinya pucat karena meremat jubah hitam itu dengan putus asa, "Dan itu akan lebih sakit, seperti sekarang, seperti yang selalu terjadi,"

Sejujurnya, Death yang sudah belajar banyak kali, selalu lebih pendendam dan menyakitkan daripada kebohongan yang menghibur, tetap saja, Death akan memilih itu, sekarang lebih dari sebelumnya.

Memperbaiki hubungan mereka akan membutuhkan waktu, Death tau itu, tapi dia tak bisa untuk tak merasa posesif saat memegang sang master kecil di antara lengannya dan menggumamkan kata-kata menenangkan dan berjanji kalau dia akan memenuhinya tanpa pikir panjang.

Saat rasa lelah menyerang Harry, Death mengangkatnya dalam rengkuhan dan membawanya melalui hutan, kepala tuannya terkulai di bawah rahangnya dan terselip di antara leher dalam kehangatan. "Apa Master baik-baik saja?" Tanya Verde tertahan. Ular itu tau kalau dia tak akan menang jika melawan, tapi dia tetap terlihat dendam.

Death diam beberapa saat sebelum menjawab. "Dia akan baik-baik saja, nantinya,"

"Nantinya," gema Nimmy, tak puas dengan jawaban itu. "Apa pun,"  katanya, "Kami akan tetap membantu Master,"

Death tak akan berharap kurang dari itu.

+----+++----+

harry: apa aku.. takut?
also harry: yaudah sih gapeduli
-----
horcrux di dalam harry: KITA AKAN MATI, WHAT THE FUCK?? APA KAU BARU SAJA MENDORONG DEATH???
horcrux yg sama: cepat tulis! CEPAT Tulis!!
-------
death: *hadir*
harry: go FUCK YOURSELF
death: kalau kau memberiku kesempatan~~
--------
harry: kau sialan!¹
author: *membayangkan harry pakai isyarat tangan maddy* (kek gini 💅 yg dimaksud author tuh maddy dari Euphoria)
author: hmmm. mungkin aku harus hapus tiktok lagi...
-------
harry: *punya anger issues*
harry: *langsung tak mau berasosiasi setelah mengeluarkan seluruh emosinya*

+++++++++
ps.
¹sebenarnya author asli nulis umpatannya tuh cunt, ini kasar banget di luar, kalo di translate jadi v*gina, aku bingung mau artiin gimana so here it goes.

tinggal dua chapter lagi nih, kalian ada rekomen cerita tom/harry lain ngga buat aku terjemahin?

sebenernya aku dah ada draft terjemahan cerita yg baguss tapi authornya blum kasi ijin, kalo tetep aku post ada kemungkinan bakal aku take down gitu.

kalo ada request kasi tau aku ya! ciao!

Harry. Exe Has Stopped WorkingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang