24

1.2K 148 2
                                        

Chapter dua puluh empat:

"Aku tak percaya ini," Verde mendesis dari tempatnya bersarang di rambut orange Ron. "Aku tak percaya kau tak bertanya pada Sirius apa yang dia lakukan di tempat yang celaka itu atau, ATAU, kenapa Sirius bukanlah wali sahmu,"

"Verde--," Harry berusaha menjawab berkali-kali tapi terus terpotong

"No," geram Verde. "No. Kau tak boleh bicara, Master. Tidak sampai aku mengeluarkan semua ini. Bagaimana bisa kau begitu bodoh? HOW?"

"Dia berdesis padamu sepanjang hari," kata Ron sambil memindahkan pion catur ke seberang papan. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.

"Lebih seperti apa yang tak kulakukan," Harry menjawab dengan pelan. Dia memindahkan pion caturnya ke seberang papan dan merosot ke kursi kuning yang dia duduki dengan dramatis. "Aku tak percaya aku dihukum oleh familiar ku sendiri," erangnya.

"Dan kau tahu kusebut itu apa?" Verde terus berlanjut seakan Harry dan Ron tidak baru saja membicarakannya. "Bullshit,"

"Aku, um," Ron ragu sesaat dengan menggigit bibir bawahnya. Dia pada akhirnya mengangkat ksatria dan memindahkannya ke seberang papan. "Aku sadar kalau, um," dia memelankan suaranya menjadi bisikan. "Hannah Abbott dan teman-temannya terus menatapmu,"

Harry mengarahkan pandangannya pada ruang rekreasi Hufflepuff di seberang dan berbicara dengan nada datar, "Aku tau,"

Sulit untuk tidak. Abbott dan dua temannya, Macmillan serta Finch-Fletchley terlalu mudah untuk diperhatikan. Hampir seperti mereka memang ingin terlihat oleh Harry, tapi, yah, dia tak tertarik. Harry sudah punya kumpulan teman yang memaksanya untuk makan saat dia lupa dan membawanya berjalan-jalan mengelilingi Hogwarts seperti seekor peliharaan yang mereka usahakan untuk tetap hidup.

Ironis, sungguh.

Hidup Harry selalu seperti sebuah candaan yang luar biasa.

"Aku tak tertarik pada mereka," ujar Harry kembali menatap Ron.
"Tapi kau ingin tau kenapa aku tak tertarik pada mereka, kan?"

Ron menghela napas dalam, "Treacle tart," jawabnya datar.

"Tepat," Harry berlagak. Dia berdiri dan memberi isyarat pada Ron agar mengikutinya. "Aku sudah tak bersama dengan treacle tart kesayanganku sejak tiga jam yang lalu," dia membuat suara tangisan yang anehnya terdengar nyata, "Bagaimana bisa aku bisa selamat sampai sekarang?"

Ron membuntutinya dengan jengkel tapi juga suka. Dari atas kepalanya, Verde tak sekalipun berhenti mengolok Harry. "Apa kau mendengarkanku? Hello? Lihat, inilah kenapa kau tak bisa menyelesaikan apapun. Master! Master!"

"Kapan kau akan berhenti?" Harry merengek, dia mendorong pintu dan berjalan melewati jalan pintas. Didorongnya beberapa tong dan berakhir di dapur. "Aku paham, sungguh, hanya saja itu tak mudah,"

"Oh itu mudah," jawab Verde sengit, "Yang perlu kau lakukan hanyalah bertanya,"

Harry mengerang keras dan memutar bola mata hijaunya. "Aku tak bisa, aku kerasukan dan lalu, yah," Harry berhenti bicara saat wajahnya memanas karena malu.

"Uh huh," gumam Verde. "Kau terbius oleh endorfin dan sel otakmu, dua duanya, berhenti bekerja. Baik saat bersama dengan pembunuh bodoh itu atau dengan si anjing dungu,"

"Sirius tidak dungu," bela Harry akan ayah baptisnya. Dia memimpin Ron menuju sebuah meja kecil di dapur yang sudah disiapkan oleh para house elf Hogwarts untuk mereka. "Dan aku tak bisa berkomentar soal Tom karena itu benar,"

"Ini treacle tart Mr Harry, sirs," seorang elf muncul di samping meja dan meletakkan senampan penuh akan treacle tart yang sangat menggiurkan di atasnya.

"Thank you," ucap mereka kompak, duduk di kursi mereka dengan senyuman kecil. Peri itu menghilang dan Harry dengan cepat memakan treacle tart miliknya. Ron memakan miliknya dengan lebih lambat.

"Kau sudah gila," Verde memuji Harry dengan sangat manis, "Bagaimana kau bisa masih hidup, Master?"

"Itu karena rambutku," jawab Harry serius. "Tapi kau benar, aku sudah gila. Karena itu menyenangkan. Aku suka melihat Tom dan melihat mayat di lantai dan berpura-pura tak melihatnya,"

"Sweet Salazar," Verde menghela napas. Harry rasa kalau Verde bisa, ular itu akan memutar bola matanya.

"Apa yang salah dengan melakukan apa yang ku inginkan?" tanya Harry dengan hidung berkerut. Dia memasukkan sesendok penuh treacle tart ke dalam mulutnya untuk menenangkan diri dan efeknya instan.

"Master, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan," ujar Verde, "Aku hanya khawatir, Nimmy juga khawatir, kalau kau akan kenapa-napa,"

"Physically atau emotionally? karena dampaknya sudah ada dan-

"Master,"

"Fine," Harry mengalah. "Aku akan lebih hati-hati,"

"Dan bagaimana soal mencari wali sah mu?" tanya Verde.

"Dokumennya seharusnya sudah ada di sini," jelas Harry. "Kurasa Gringotts bukan bank yang akan lupa. Bagaimana kalau kita mampir di sana saat liburan?"

"Fine," jawab Verde. Dia meluncur ke bawah kepala Ron, melewati lengannya dan melintasi meja untuk melingkarkan diri pada pergelangan tangan Harry.

"So," ujar Ron saat melihat Verde tak lagi berdesis pada Harry, "Kau baik?"

"Yeah," Harry mengangguk. "Hanya saja, pernahkah Gringotts lupa untuk mengirimi seseorang hasil keturunan mereka?"

Ron mengedipkan matanya perlahan kemudian menelan treacle tart itu. Ada sisa remahan di sekitar bibir bawahnya yang membuat Harry ingin meraih dan mengelapnya. "Um," Ron berkedip lagi. "Kurasa tidak?" kepalanya dimiringkan dengan lucu. "Itu akan berarti membahayakan uang mereka. Dan erm, para goblin sangat menjaga emas mereka,"

"Ronnie, sweetie," goda Harry, senyumnya melebar saat wajah Ron merona. "Apa kau ingin bertemu Draco?" Itu adalah satu-satunya yang bisa Harry lakukan untuknya dan wajah imut itu dan cara menyukainya yang menggemaskan--

Ron membuat suara tercekat dan menyembunyikan wajah memerahnya di balik tangan. "Berhenti menggodaku,"

"Maaf, maaf," Harry tertawa lepas. Dia puas seperti ini, bersedia untuk menghabiskan hari-harinya menggoda Ron dan membuat Hermione menanyakan pertemanan mereka. Bersedia membiarkan Draco merecokinya seperti seorang ibu yang penyayang dan membiarkan para baby death eater bertengkar di belakang punggungnya saat mereka berjalan menuju kelas.

Kebahagiaan adalah konsep yang aneh untuk Harry. Seperti apa rasa kebahagiaan yang sebenarnya? Apakah kebahagiaan itu saat melihat Draco mengumpulkan keberaniannya untuk menggandeng tangan Ron? atau saat melihat Blaise dan Theo berdebat dengan Pansy hanya untuk dipisahkan oleh Tracy saat semuanya kacau? apakah kebahagiaan ada pada rengkuhan Sirius dan berada dalam kehangatannya saat dia bisa? atau kebahagiaan itu saat dia duduk di pangkuan Tom, tertawa dan berdebat serta memaafkan sesuatu yang tak seharusnya dimaafkan?

Harry pikir mungkin saja begitu.

Harry inginnya begitu.

Dan jadilah.

+++++++
verde:...
harry: tapi aku--
verde: motherfucker diamlah sekarang juga
------
harry&verde: *berdebat*
ron: *gembira dan tidak peka*
------+
hari itu
harry: hey draco
ron: um hi
draco: ..... kau membawa seorang hufflepuff ke ruang rekreasi slytherin?
harry: yuuuuuuuup
draco: .....
ron:......
harry: ngomong-ngomong
--------
verde: ada sesuatu dari pria itu yang membuatku benci
harry: pernahkah kau berpikir mungkin itu karena dia punya tangan dan kau tidak?
verde: bitch bukankah kubilang untuk diam, oh tunggu shit kau mungkin benar.
++++++

Halooooooo
aku balik hihi
happy reading ☝️

Harry. Exe Has Stopped WorkingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang