2

4K 416 0
                                        

Harry pergi ke kotak pos, mencari cari surat yang dialamatkan kepadanya. Ketika dia menemukannya, dia menatap surat itu lumayan lama, menelusuri matanya di atas huruf-huruf gila itu dan stempel merah berlambang Hogwarts. Hal itu membuatnya bernostalgia. Seperdetik kemudian dia memikirkan Hermione dan Ron kemudian menangis. Sesuatu mengganjal di tenggorokannya.

"Cepat!!" Uncle Vernon berteriak dari dapur. Hal itu membuat Harry tersadar dari lamunan. Sambil mendesah, Harry mengedipkan mata agar air matanya hilang. Dia mendorong surat Hogwartsnya ke bawah pintu lemari dan surat lain ke Uncle Vernon yang telah menunggu.

"Oh," Vernon bersuara, berbalik menatap Petunia yang dengan ribut mengintip tetangga dari jendela dapur. "Marge sakit" katanya.

"Sayang sekali," Aunt Petunia bergumam. Dia menjauh dari jendela dan duduk di samping Dudley di meja makan. Harry dengan cepat menata bacon dan sosis di piring mereka, dengan lapar menatap makanan-makanan itu. Terakhir kali dia makan adalah sekitar seminggu yang lalu dan itu hanyalah sepotong roti dan keju. Bibinya sepertinya sadar akan wajah kelaparan yang terpampang dalam ekspresinya, karena dia mengusir Harry seperti seseorang mengusir anjing yang menghalangi langkah mereka.

Kemudian, dengan kedok berkebun, Harry menulis balasan dengan selembar sobekan kertas. Dia mengirimnya dengan burung hantu yang telah mengelilingi rumah mereka sejak pagi dan burung itu memekik sebelum terbang. Kali ini tidak ada surat-surat yang mengalir seperti sungai di perapian, tidak ada perjalanan panjang di seluruh negeri, atau bahkan Hagrid menendang pintu dan membawanya pergi dengan motor terbang.

Matahari bersinar terik dan tak ada awan, membuat Harry berkeringat dalam balutan baju oversized nya. Dia mencabut hama di antara bunga berwarna warni dan merenung.

Dia tak bisa tinggal dengan keluarga Dursley. Dia harus pergi secepat mungkin. Dia juga butuh tongkat. Mencoba melakukan sihir tanpa itu terbukti merepotkan. Dia sudah berhasil mengapungkan sebuah buku di depan wajahnya selama lima menit sebelum akhirnya merosot di kasur dan pingsan.

Ah, tapi kemana dia akan pergi? Harry, seandainya dia bisa tinggal di Leaky Cauldron. Dia butuh penyamaran.

Menggeram, Harry pasrah pada takdir yang  selamanya mengalami keberuntungan terburuk.

Minggu demi minggu berlalu sama saja, hari-hari menjadi satu. Harry melatih sihirnya saat tengah malam. Dia menerbangkan buku, berhasil membuat crayon menulis di dinding kecilnya dan bahkan memperbaiki kacamatanya yang dirusak Dudley sehari sebelumnya. Penampilan tak ternilai dari wajah Aunt Petunia semuanya sepadan, meskipun dia mencoba menghilangken 'keanehan' darinya.

Ketika matahari terbenam lebih awal, dan udara mulai dingin, Harry mengepak barang apapun yang dia punya ke dalam tas tua yang lusuh dan menunggu malam datang. Saat jam di lorong menunjukkan pukul dua belas tengah malam, Harry memfokuskan sihirnya pada pengait yang terdapat di bagian luar lemarinya. Hal itu membutuhkan beberapa saat untuk bekerja, tapi setelah Harry memohon, memohon dengan kuat, engsel terbuka dengan bunyi 'klik' pelan.

Menggunakan sihir membuatnya mengantuk dan dia berkedip beberapa kali untuk membuat dirinya tetap terjaga. Harry menggelengkan kepala dan mencubit tangannya. Hal itu cukup untuk membuatnya tetap terjaga. Dengan perlahan keluar, Harry menutup pintu di belakangnya dan mengaitkan engselnya lagi. Dia meringis akan suara yang ia buat, terasa lebih keras ketimbang saat siang hari. Beruntungnya, hal itu tak membangunkan paman, bibi, ataupun sepupunya.

Harry mengambil beberapa pounds dari mantel Petunia. Cukup untuk membeli makanan dan transportasi London. Terbersit pemikiran dia akan tetap tinggal dan menunggu guru menjemputnya dan membawanya berbelanja di Diagon alley; seperti yang pernah dilakukan Hagrid. Dan pemikiran itu hilang, Harry kabur saat malam.

Menyenangkan menyusuri jalan dalam kegelapan malam, rasanya seperti.... tak asing. Dia berhenti di taman yang pernah ia kunjungi beberapa kali saat masih kecil. Kapanpun Dudley dan uh... temannya, memutuskan untuk bermain Harry Hunting, bersembunyi di taman adalah hal yang paling mudah. Tempat ini memiliki persembunyian yang bagus.

Menghela napas, Harry duduk di sisi trotoar dan menunggu bus tiba. Hanya ada satu bus yang tiba di jam seperti ini. Bus ini tua, reyot, yang sudah ada jauh lebih lama dari Harry maupun keluarga Dursley. Harry pernah menaikinya sekali— Di malam dia kehilangan nyawanya.

Ketika bus sampai, Harry membayar dan duduk di belakang, jauh dari mata yang mengintip. Ada beberapa pasang orang di bus, remaja yang gaduh dan kebanyakan pekerja yang pulang telat. Harry kemudian menatap hati-hati, takut bahwa dia akan tertangkap.

Setelah setengah jam perjalanan, Harry turun dan berpindah ke bus lain. Dia berdiam disana sekitar dua puluh menit karena seorang wanita dengan baju perawat mulai bertanya padanya. Harry sudah menghindari dari menjawab pertanyaannya dan mengeluarkan kebohongan seperti. "Aku sebenarnya sedang akan pulang. Aku punya kelas malam kau tahu."

Perawat itu tak terlihat yakin dan Harry harus pindah ke bus lain. Dia tetap di bus yang ketiga sampai dia tiba di London, meringkuk di belakang dengan lutut ditekuk ke dada dan wajah berkonsentrasi saat dia berusaha merapalkan mantra Notice Me Not.

Sebagian besar berhasil.

Have a great day☺️

Harry. Exe Has Stopped WorkingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang