Chapter dua puluh sembilan:
Harry tak pernah menyukai lautan.
Memang itu terlihat indah dan banyak yang bisa disukai, tapi Harry tak melihat ketertarikan itu seperti orang lain.
Mungkin itu karena orang lain menggunakan laut sebagai tempat pelarian, untuk mendinginkan diri mereka di musim panas atau untuk merasakan kebahagiaan sederhana dari berenang dan menyelam untuk mendapat harta karun di bawah pasir.
Harry, yang tak pernah normal, menggunakan laut untuk melupakan.
Dia mengirim ingatannya pada lautan, lalu membiarkannya berenang menyeberangi pantai, menyatu dengan ombak dan menghilang. Itu adalah cara yang lebih mudah-- lebih mudah untuk melupakan alasan mengapa dia tak menyukai berenang lagi, kenapa sup tomat berasa seperti racun di mulutnya atau mengapa pikiran soal dikhianati mengalir di tenggorokannya seperti abu dan membakar bagian dalamnya seperti asam.
Itu akan lebih baik kalau dunia di sekelilingnya blur dan menjadi suram, kalau dia melupakan segalanya.
(Mungkin juga perasaan kekosongan ini akan terlupakan)
Jadi, Harry berenang menyeberangi pantai. Dia tak peduli akan ombak yang melawannya dan hanya sepersekian detik sebelum ombak itu menelannya, hanya untuk kemudian dilahap sepenuhnya oleh lautan.
(Tetap saja, perasaan kosong itu bertahan dalam dirinya)
(Harry tau hanya ada satu cara untuk mengatasi perasaan seperti ini)
(Dia ragu apakah orang-orang akan melupakannya)
Harry tak sadar, tapi dunia di sekelilingnya tetap berlanjut, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan.
Kemudian, April berganti Mei.
Mei berganti Juni.
Dan Juni berganti Juli.
"--arry! Harry! Apa kau mendengarkan?"
"Hm?" Harry berkedip, pandangannya berubah jelas dan memperlihatkan Hermione yang duduk di depannya dengan jengkel. Semua terasa benar dan salah secara bersamaan. Harry berdehem, "Maaf, aku hanya sedang berpikir. Apa kau mengatakan sesuatu?"
Hermione menghela nafas, menggosok keningnya dengan ujung jari. Kukunya hijau aneh. "Aku bertanya soal rencana musim panasmu," jelas gadis itu. "Aku akan pergi ke Paris dengan orang tuaku, tapi karena aku diundang di pesta dansa Malfoy, aku akan kembali dengan floo selama beberapa hari. Apa kau akan hadir?"
"Oh itu," Harry berhenti berkata dan sedikit mengerut. "Aku akan tinggal dengan relatif ku," bohongnya halus, melirik ke bawah pada perkamen yang terbentang di atas meja di depannya. Ada beberapa coretan catatan tentang Transfigurasi dan yang Harry tebak gambaran dari macam-macam bahan ramuan. "Itu akan tergantung pada apa yang mereka rencanakan tahun ini," Harry berkata, mengambil perkamen itu mendekat untuk memeriksanya. "Jadi aku tak yakin apakah aku boleh menghadiri pesta itu,"
Kerutannya semakin dalam saat dia melihat tanggal yang tertulis di ujung, angkanya saling bertumpuk. Aneh, pikirnya, melihat tanggalnya jauh dari Paskah. Harry menggulung perkamen itu, seperti yang Hermione lakukan pada miliknya sendiri dan meletakkannya di dalam tas.
"Tak apa, Aku senang ujiannya sudah selesai," kata Hermione, meregangkan lengannya di atas kepala. Ada suara gemeretak kecil dari tulangnya dan membuat Harry berjengit.
"Sekarang yang harus aku khawatirkan adalah hasilnya," gumam Hermione sambil meletakkan dagunya di atas telapak tangan.
"Iya," kata Harry setuju, merasa seperti ada orang lain yang menguasai tubuhnya. Mulutnya bergerak tanpa persetujuannya. "Aku yakin kalau kita sudah melakukan yang terbaik, Mione. Apalagi kau membuatku belajar dengan mu selama ini,"
Hermione tertawa. "Iya, aku tau. Tapi tetap saja," gadis itu berdiri, "Sudah lambat. Kita harus kembali ke asrama,"
Mengangguk, Harry mengikuti gadis Ravenclaw itu keluar dari perpustakaan dan menuju koridor Hogwarts. Ada beberapa murid, kebanyakan tahun atas, yang masih berkeliaran, tertawa pelan di sudut dan berbicara pelan dengan penuh semangat. Alis Harry menukik pada sepasang Hufflepuff yang berjalan menuju mereka dengan senampan penuh makanan ringan yang hangat.
Hermione mengambil potato scone dengan senyum malu-malu dan mengatakan, "Terima kasih" singkat.
Harry mengambil sausage roll. Hangat dan meleleh di mulutnya. Hardy tak ingat merasa lapar, tapi perutnya tiba-tiba minta diisi lagi. Dia menggumamkan terimakasih pada sepasang Hufflepuff itu dan melihat mereka menghilang di sudut, dalam perjalanan mereka menawarkan makanan pada yang lain.
"Aku tak sabar ingin di posisi merek," Hermione bergumam penuh khayal, "Seorang tahun ketujuh, dengan nilai terbaik dan pekerjaan terbaik--"
"Kau sebenarnya ingin lulus?" Harry menyela. "Ku pikir kau ingin tinggal di Hogwarts selamanya,"
Hermione memerah. "Ha ha," dia mengerutkan hidungnya, sudah di ujung batasnya menjadi baik hari ini dan melambai pada Harry, "Aku akan menemuimu besok. Malam, Harry," katanya sambil menaiki tangga.
Harry dengan linglung melambai balik.
Dia tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar, atau bagaimana dia tertidur. Saat terbangun, rasa takut merambat ke seluruh tubuhnya.
Dia meredam perasaan itu, membiarkannya perlahan memasuki lautan sampai menghilang bersamaan, sampai menjadi tak ada— sampai Harry menjadi bukan apa-apa.
Dia menutup matanya, berhitung sampai lima dan saat dia membuka mata, dia sedang duduk di great hall dengan setengah scrambled egg yang sudah termakan setengahmya. Dari sebelahnya, dia mendengar Pansy dan Draco berdebat soal pertanyaan dari ujian Mantra.
Harry berkedip dan dia berada di ruang rekreasi Slytherin, duduk di perapian dengan tahun pertama yang lain dan membuka hasil ujiannya. Dia menatap perkamen itu, semua E dan A.
Harusnya dia merasa lega dan puas, tapi yang Harry rasakan adalah rasa dingin yang mematikan. Dia melirik perapian dengan bingung.
Kedip.
Harry meletakkan barang terakhirnya ke dalam koper dan mengunci pengaitnya.
Kedip.
Harry keluar dari Kings Cross, tersandung dalam keramaian para murid yang berlari ke arah orang tua mereka dengan semangat. Mereka berteriak kegirangan dengan senyum lembut dan tawa yang menggelegar.
Kedip.
Harry mendongak pada Grimmauld Place dengan perasaan bersalah. Harry menghirup lautan seperti dia menghirup udara di sekitarnya. Itu mengisi paru-parunya dan membuatnya tak bisa bernapas.
Butuh beberapa menit, tapi perasaan bersalah itu tinggal dan berubah menjadi ketiadaan.
(Terlupakan)
(Apakah orang-orang akan melupakannya?)
Kedip.
Sirius merengkuhnya erat, "My little pup, ada apa?" tanyanya, menggumamkan kata-kata itu di rambut berantakan Harry.
"Dingin," jawab Harry, mengaitkan dirinya pada pria yang lebih tua. Pria itu hangat. Harry butuh kehangatan. "Sangat dingin,"
Sirius mengerut, "Ayo tidur," katanya.
Kedip.
++++++++
uwaaaaaa one chapter to go
(p.s kalau ada yang bingung, harry kehilangan waktu melalui disosiasi.)
g'night.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harry. Exe Has Stopped Working
FanficA Tomarry story Harry Potter sudah tak peduli lagi. Ya begitu. Itu alurnya. {{Dan itu semua karena Death melakukan sesuatu yang sangat amat bodoh di belakang Harry}} Atau; Harry mati dan bangun lagi di dalam lemari bawah tangga. Kenyang menjadi main...
