4

3.3K 353 0
                                        

Harry berjalan keluar dari Gringotts, kantongnya terasa lebih berat. Dia punya kantong moleskin di setiap sakunya, diisi sampai penuh dengan koin mengkilap yang dia bahkan tak tau harus dihabiskan dengan apa. Di sana juga tertera bahwa Dumbledore bukan walinya, yang mana terus terang, sedikit membingungkan. Jika Dumbledore bukan wali sihirnya, lalu siapa?

Menggelengkan kepala, Harry berjalan menuju toko Madam Malkin. Jika dia ingin menjelajahi dunia sihir, dia harus mengganti pakaian bekas dari Dudley. Dia juga bisa sekalian membeli seragam sekolah disana.

Bel di atas pintu berdentang ketika Harry masuk ke toko. Dia membiarkan pintu tertutup sendiri, mata hijaunya berkedip-kedip saat dia melihat sekeliling. Ada patung-patung di setiap sudut, berputar-putar dan bergerak pada nada yang hanya mereka yang bisa mendengar. Lembaran bahan mengkilap sedang menyatu dari satu sisi ke sisi lain, diikuti jarum berwarna warni dan batu permata yang indah.

"Kemari untuk seragam sekolahmu nak?" Madam Malkin bertanya, menjulurkan kepala di balik tirai di belakang mejanya. Ada bunga hiasan dan pita menempel di seluruh rambut wanita itu, tongkatnya diselipkan di telinga. Dia tersenyum kepada Harry dan hampir tersandung saat mengantarnya ke bangku.

"Um, ya." Harry menganggukkan kepala, berusaha untuk tidak gelisah ketika pita pengukur mulai mengukurnya dari kepala sampai kaki. Dia mulai merasa sedikit sadar tentang dirinya sendiri. Dia bukan sosok yang sehat dan tampan atau apapun itu.

"Wonderful!" Madam Malkin berseru. "Sangat menyenangkan bertemu dengan tahun pertama. Sepertimu, rasanya lebih menyenangkan daripada bertemu dengan tahun yang lebih tua. Kadang-kadang mereka begitu sibuk dengan diri mereka sendiri."

Harry tertawa, dan merasa dirinya bergaul dengan mudah. Madam Malkin bertanya dan Harry menjawab pertanyaan dan mengangguk ketika setuju. Dia menghabiskan sekitar sepuluh menit di atas bangku kecil ketika kilatan tak asing dari rambut merah memasuki toko dan menangkap perhatiannya.

It's.....Ron

Tenggorokannya tercekat dan dadanya terasa membuncah karena emosi, Harry berusaha untuk tak menatap Ron secara terang terangan. Tapi ini sulit, dan menyakitkan.

"Kembali untuk mengambil jubahmu, Mr. Weasley?" Madam Malkin menjauh dari Harry. Menyambut Ron dengan senyum suka dan kerutan untuk rambut jingganya. "Kukira si kembar yang seharusnya mengambilnya."

Ron mengangkat bahu, "Iya," Dia berkata pelan.  "Tidak apa kan kalau aku yang mengambilnya?" ujung bibirnya tertarik canggung, nyaris tersenyum dan hal itu membuat Harry menahan dirinya agar tak turun dari bangku dan memeluk sahabatnya.

"Tentu, bagaimana kalau kau menunggu disini, Mr, erm Mr.." Madam Malkin ragu, nada suaranya tak meyakinkan saat dia kembali untuk melihat ke arah Harry yang berada di atas bangku. "Maafkan aku, aku lupa menanyakan namamu."

Harry berdehem dan tanpa sadar meratakan poni di dahinya. Itu adalah kebiasaan buruk yang tak dapat dihilangkan. "Aku Harry," katanya dengan lembut, "Harry Potter."

Tampilan tertegun dari keduanya membuat Harry menahan helaan nafas. Mungkin dia harusnya mengatakan nama lain, atau hanya Harry saja.

"O-oh," Madam Malkin berucap gugup. Dia berkedip beberapa kali dan memberinya senyum meyakinkan. "Well Mr Weasley, kalau begitu kau bisa menunggu disini bersama Mr Potter." Wanita itu kemudian menghilang di balik tirai belakang mejanya, bergumam pada dirinya sendiri.

"Apakah kau... maksudku...benarkah?" Ron mencoba menyusun kata-katanya, menatap Harry dengan mata coklat besar penuh harapan.

"The scar?" tanya Harry.

Ron menganggukkan kepala, melingkarkan jarinya di depan sweter hitamnya sambil menggigit bibir gugup.

Harry menyibak poninya, memamerkan bekas luka yang berwarna sedikit pink, tipis dengan bentuk sambaran kilat yang berada di dahinya.

"Woah", Ron menghela nafas kagum.
"Ini benar-benar kau," Dia mengerutkan alisnya dan mendongak
"Tapi, kenapa rambutmu berwarna pink?"

Mendesah, Harry memberinya senyum masam "Ceritanya panjang," gumamnya. Sebuah ide muncul bagai percikan api di suatu tempat di benaknya dan dia menyeringai lebar penuh kegembiraan. "Aku bisa memberitahumu sambil menikmati es krim di Florean Fortescue, kalau kau mau?"

Dengan antusias Ron menganggukkan kepalanya, sisa hari itu mereka habiskan dengan memakan es krim yang lezat dan pergi dari satu toko ke toko lain. Harry membeli banyak jajanan untuk dibagi dengan Ron, meskipun Ron awalnya ragu untuk mengambilnya, dia mau ketika Harry memaksanya dan mengatakan bahwa teman selalu berbagi.

Rona di pipi pucat Ron begitu lucu. Harry melihatnya mengatakan 'teman' sekali lagi sebelum dia tersenyum, cerah dan ceria sambil cekikikan seperti gadis remaja yang duduk di samping pujaan hatinya.

Akhirnya mereka berhenti di toko hewan peliharaan. Toko itu kecil, dengan tumpukan kandang dan bau mengerikan. Ada burung hantu berotot memekik dan mendesis, tikus dengan mata licik bersemangat ketika mereka melihatnya. Ron menutup hidungnya dan bergumam sesuatu, "Jika kau ingin burung hantu kita bisa pergi ke Eeylops Owl Emporium. Baunya lebih baik dari tempat ini,"

Harry tertawa pendek,"Yeah," katanya "Aku tau," Ada seringai di wajahnya ketika dia beringsut ke toko depan dan berhenti di mejanya. Seorang perempuan duduk disana tak lebih tua dari seorang lulusan Hogwarts. Dia mengerutkan hidungnya pada Harry dan meniup gelembung besar sebelum dia meletuskannya. Permen karet pink itu menempel di bibir atasnya dan dia singkirkan dengan lidah.

"Apa?" dia mendengus dan menyangga dagunya dengan tangan.

"Aku ragu," Harry memulai, seringainya melebar ketik perempuan itu kembali meniup permennya,"Kalau kau punya ular di sini?"

Permen karet gadis itu tiba-tiba meletup. Di suatu tempat di belakangnya, Ron membuat suara tercekik.

Xoxo

Harry. Exe Has Stopped WorkingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang