Chapter Dua Puluh Dua
Bellatrix membuat Harry mencoba semua makanan yang mereka punya. Tumbuh dengan dianiaya dan ditelantarkan tentu membuatnya tak terlalu pilih-pilih. Dia bahkan menjelaskan bagaimana rasanya, hanya karena hal itu membuat wanita itu senang.
Ternyata sup tomat itu menjijikkan dan jam rolls itu enak. Eton Mess memang mess, tapi masih cukup enak. Ada meringue dan krim manis dengan buah di atasnya jadi masih cocok dengan lidah Harry. Telur Scotch ya telur Scotch, tak ada sesuatu yang baru soal itu dan sapi panggang dengan kentang tumbuknya seenak biasanya. Tapi, ayam yang dilumuri dengan saus kental adalah yang paling dia suka.
Dia bahkan mencoba sesuatu yang belum pernah dimakan sebelumnya seperti kol keju dan ok, tidak buruk. Hanya meninggalkan rasa ameh di mulutnya. Sup bawang lah yang sangat, sangat tidak untuknya. Yang terakhir dia coba adalah roti panggang berisikan daging sapi dan sayuran. Itu enak. Sangat enak. Harry menilainya dengan sebelas dari sepuluh. Meskipun begitu, treacle tart tetap akan jadi yang nomor satu baginya.
Setelah mencicipi, Bellatrix membawanya keliling Manor. Ruang tamunya indah, tak ada kata lain untuk itu. Dapurnya besar dan Harry gatal ingin memanggang sesuatu di oven mengkilat itu. Ada banyak ruangan lain seperti kamar tidur dan banyak toilet. Bellatrix bahkan membawanya ke ruang bawah tanah dimana mereka bertemu dengan Professor Snape yang sedang mencampur ramuan.
Snape tak terlihat terkejut saat melihatnya. "Potter," dia menghela napas, terlihat begitu sengit dengan kehadiran Harry, "Aku sedang membuat ramuan kedamaian. Katakan, berapa kali aku harus mengaduk ke setiap arah setelah ramuannya berubah menjadi putih?"
"Tujuh," Jawab Harry sebagai pengganti sapaan, matanya berkedip seperti burung hantu.
"Ya, aku tau," ucap Snape kesal. "Tapi kalau kau yang membuat ramuan ini? apa yang akan kau lakukan? Berapa kali kau akan mengaduknya?"
"Oh," kata Harry, menyembunyikan senyum lebar di balik tangannya. "Aku akan mengaduknya sepuluh kali ke setiap arah. Aku tak tau denganmu Professor, tapi kurasa angka sepuluh itu angka yang cantik--
"Bawa dia pergi," pinta Snape, pria itu melihat Bellatrix dengan memohon. "Dan jangan pernah membawanya kembali kesini,"
Bellatrix tertawa, yang lebih mirip dengan kikikan. "Oh, jangan seperti itu, Sev," Wanita itu tersenyum. "Dia hanya anak-anak yang punya keahlian dalam ramuan. Tapi aku heran dia mengingatkanku pada siapa ya?"
Snape merengut dan mengisyaratkan jari telunjuknya pada pintu. Harry dan Bellatrix kembali dengan terkikik geli.
Ruangan duel ditunjukkan padanya, ruangan itu besar dengan patung kayu untuk latihan. Di sana bahkan ada senjata yang tergantung di dinding. Harry menatap pedang dan kapak era medieval itu. Mereka sangat mengkilap dan sangat tajam. Dia bahkan berpikir kalau ada darah berceceran di lantai, tapi kebutaan Harry yang jelas membuat hal itu tak mengkhawatirkannya.
Perpustakaannya tua, luas, dan hangat. Ada rak buku yang menjulang dari lantai sampai langit-langit berisi volume kuno. Harry mengusap buku bersampul kulit dan tak bisa untuk tak menyeringai. Dia tahu Hermione akan mengorbankan apapun demi di sini. "Aku suka perpustakaan," ungkapnya. "Mereka selalu membuatku merasa aman,"
Untuk sesaat Bellatrix menatapnya dengan aneh dan ekspresinya berubah secepat kilat. Sangat cepat hingga membuat Harry terkejut. Penyihir itu mengusak rambutnya yang sudah berantakan dan tersenyum padanya. "Apa kau mau mengambil satu?"
Harry mengangguk dengan sedikit bersemangat. Dia mencari di perpustakaan ke atas dan ke bawah lalu tiba-tiba berhenti di antara dua rak buku paling belakang. Sesuatu yang aneh berada di udara, seperti listrik tapi bukan. Hampir seperti sesuatu atau seseorang memanggil dirinya.
Linglung, Harry membiarkan dirinya dituntun menuju dua rak tersebut. Dia berhenti di rak kedua dari yang paling bawah dan membungkuk untuk mengambil sebuah buku tipis dan rapuh. Itu buku yang kecil. Kelihatannya sangat tua. Dengan hati-hati, Harry mengusapkan jarinya pada sampul biru pucat itu. "The Tales of Beedle The Bard," gumamnya pelan.
Sesuatu seperti pengakuan memancar di kepalanya. Harry berpikir dan terus berpikir akan judul itu tapi tak muncul apapun. Dia kira seharusnya dia ingat tapi tidak.
Tiba-tiba suara Hermione menggema di belakang kepalanya. Menakutkan dan lembut, hampir seperti bisikan '......dan karena sederajat, mereka meninggalkan kehidupan ini,'
Harry berkedip, pelan dan sengaja. 'Dengan senang hati' pikirnya. Sesuatu yang hangat dan lengket menetes dari wajahnya. Harry mengangkat yangan untuk menyentuh hidungnya dengan perlahan. Saat dia menurunkannya ada darah di sana. Tanpa sepengetahuannya, rambutnya berubah menjadi ungu gelap, sangat gelap hingga hampir menyerupai hitam.
"Aneh," gumamnya. Dia menyelipkan buku itu di bawah lengannya dan kembali pada Bellatrix dengan senyum lebar.
"Aku kembali," katanya sambil berbalik. Senyumnya melebar saat dia tak hanya menjumpai Bellatrix tapi juga Narcissa Malfoy.
"Definitely a Black," Nada suara Narcissa datar, tak ada sedikitpun emosi yang bisa ditemukan. Dia menatap Harry atas dan bawah dengan mata abu-abu yang dingin. Wajah anak laki-laki itu dipenuhi darah segar, merah melintangi bibirnya seperti lipstick. Mata hijaunya menyala dan rambutnya liar di sekitar wajahnya seperti halo yang tidak terawat.
"Senang bertemu denganmu juga," Harry mengesah dramatis. "Apa kau membawa Draco bersamamu?"
"No,"
"Aw, itu buruk,"
Dari Narcissa atau Bellatrix tak ada yang mengomentari wajah Harry yang berlumuran darah. Alih-alih, kedua wanita itu membawanya keluar dari perpustakaan dan kembali melewati beberapa koridor panjang. Harry memulai percakapan mengenai treacle tart. Bellatrix tak terlalu suka tapi Narcissa iya. Mereka berbicara mengenai betapa lembut teksturnya dan berapa banyak crust yang harus ada agar sempurna-- Yah, Harry yang berbicara. Narcissa hanya mendengar dan mengangguk sesekali.
"Itu adalah dessert terbaik di dunia, tak ada yang bisa menandingi. Itu--" Harry berhenti berkata juga berhenti melangkah. Matanya menatap pada celah terbuka antara pintu ganda berwarna biru periwinkle. Kelihatannya ruang tamu yang lain.
Hati Harry terasa sangat sakit di dadanya. Dia melihat rambut hitam panjang dan mata abu-abu yang tajam dan mematung. Dia tak tau apa yang harus dilakukan. Dia tak tau apa yang harus dipikirkan.
Mata abu-abu bertemu dengan hijau dan Harry lupa untuk bernapas. Rasanya seperti paru-parunya terbakar. Seperti disiram air dingin. Selerti dikubur hidup-hidup di bawah tanah. 'Monster' bisik sebuah suara di kepalanya, 'kau membunuhnya, Monster--'
"Harry," panggil Bellatrix khawatir, "Ada apa?" tanya wnaita itu sambil meletakkan tangan di atas pundaknya. Dia hangat dan kehadirannya stabil-- ketenangan tiba-tiba di dunianya yang berantakan.
Harry ingat untuk bernapas.
Dia menatap Bellatrix dengan mata melebar dan berair. Mencoba berbicara tapi tenggorokannya tercekat, sakit dan sakit. Sakit seperti ada ribuan duri di sana. Sakit seperti sesuatu yang berat bersarang di tenggorokannya. 'Monster tak boleh menangis,' suara itu mengejek. 'Monster tak pantas menangis,'
"Itu Sirius," Harry berhasil dengan memaksakan, suaranya parau dan badannya mati rasa. Dia dapat merasakan darah di balik tenggorokannya.
+++++
bella&cissa: *melihat harry berlumuran darah*
bella&cissa: ah, kegilaan black sudah mencapai dirinya begitu cepat
-----
hermione dari dimensi lain/masa lampau: aku penasaran apa bitch itu bisa mendengarku
harry: dafuq is this?? dafuq am i????
------
harry: treacle--
cissa: *mengangguk*
harry: ah, another of my kind
bella: *bergumam* satu saja sudah cukup, sekarang ada dua?? save me, merlin, save me.
-----
harry: oh no
bella: ????
harry: sad boi hours sudah diaktivasi berikan aku waktu beberapa hari
bella: bukannya jam?
harry: suka-suka aku la
------
harry&sirius: *meme five dan vanya umbrella academy papasan naik mobil*
*image on media
++++
KAMU SEDANG MEMBACA
Harry. Exe Has Stopped Working
FanficA Tomarry story Harry Potter sudah tak peduli lagi. Ya begitu. Itu alurnya. {{Dan itu semua karena Death melakukan sesuatu yang sangat amat bodoh di belakang Harry}} Atau; Harry mati dan bangun lagi di dalam lemari bawah tangga. Kenyang menjadi main...
