Karna kejadian dimana Zahra yang pingsan tadi akhirnya mereka memutuskan untuk pulang malam hari itu juga.
"Lo gapapa kan Ra,gue takut lo kenapa napa tadi"ucap Diana yang memeluk Rara dengan erat seolah mereka berdua tidak akan bisa bertemu lagi.
"Gue gapapa Diana cantik,kan tadi dokter bilang gue cuma kecapekan dan butuh istirahat aja,udah ya gausah nangis gini lagi"ujar Rara membalas pelukan Diana,sebenarnya dia tidak yakin dengan omongannya barusan tapi ini sudah menjadi konsekuensi nya bahwa teman teman dan sahabatnya tidak boleh mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya.
"Yaudah gue ke villa sama yang lain ya mau siap siapin barang,kita balik malem ini karna gue gamau kejadian ini keulang lagi"ujar Diana panjang lebar yang hanya diangguki Zahra.
Setelah kepergian Diana dkk kini hanya tersisa Reza dan dirinya didalam ruangan itu,sebenarnya Zahra sudah menyuruh Reza untuk pergi saja ke villa tapi dirinya bersikeras ingin menemani Zahra.
Zahra yang sudah bosan dengan suasana yang hening ini memutuskan untuk bermain ponsel saja toh cowok yang ada didepannya itu cuek saja.
"Ra"panggil Reza.
"Zahraaaa"masih belum didengar juga.
"Raraaaaa,gue manggil lo"panggilan ketiga akhirnya Zahra menoleh kesumber suara itu dimana Reza sedang berjalan mendekati brankarnya dengan wajah yang sudah seperti kanebo kering,canda kanebo wkw.
"Apa Ejaa"tanya Zahra kepada Reza yang sudah duduk disamping brankar gadis didepannya.
"Lo beneran gapapa kan?lo gak ada yang disembunyiin dari gue kan?"tanya Reza dengan lembut sambil menatap manik mata gadis dihadapannya itu.
"Gue gapapa Ejaa"jawab Rara sambil tersenyum yang dipaksakan,tangannya beralih untuk mengusap rambut cowok didepannya itu dengan sayang.
Reza yang mendapati perlakuan seperti itu semakin memejamkan matanya,dia lelah sekaligus dia khawatir dengan keadaan sahabatnya ini.
Tidak lama itu akhirnya terdengar napas yang teratur dari cowok itu menandakan bahwa dia sudah tidur.
"Gue gapapa Ja,gue baik baik aja lo gak perlu khawatir sama keadaan gue karna mau segimana pun lo khawatir itu gak akan pernah bisa ngerubah takdir tuhan buat gue,gue usahain buat baik baik aja didepan lo supaya lo gak sedih disaat gue udah bener bener gak sanggup untuk pura pura gapapa didepan lo,GUE SAYANG LO EJAA"gumamnya dengan air mata yang menetes deras dipipinya.
Cukup lama ia menunggu temannya yang katanya sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit untuk menjemput nya.
Tiba tiba suara dari Riyan membuat cowok yang sedang tidur dengan posisi kepalanya ia letakkan diatas tangan gadis yang tidak kena inpus itu terbangun.
"ASSALAMUALAIKUM YA AHLI KUBUR"teriak Riyan memasuki ruangan itu.
"Berisik bego"ucapan sekaligus jitakan yang ia dapat dari si es balok berjalan siapa lagi kalo bukan Dimas.
"Hehe sorry hilap gue"ujar Riyan dengan cengiran tak berdosanya.
"Lama banget sih,gue gabut tau"ucap Rara sedikit kesal menatap temannya itu yang baru tiba.
"Ya maap tadi tuh si Riyan boker dulu katanya"adu Diana kepada Rara.
"Gapapa,yaudah ayok berangkat kasian Rara dia butuh istirahat"ucap Diana lagi yang diangguki semuanya.
Setelah mendapat izin pulang dari dokter yang merawat Zahra tadi mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu.
"Lo kalo ngantuk tidur aja,nanti kalo udah nyampe gue bangunin"ucap Reza memasuki mobil,Zahra yang diberi perhatian seperti itu hanya mengangguk senyum senang.
Karna ini malam jadi jalanan pun sudah mulai sepi jadi perjalanan mereka tidak terlalu lama.
Dua mobil itu akhirnya sampai didepan rumah Zahra.
"Ra bangun kita udah nyampe"ucap Reza sambil mengguncangkan lengan Zahra sampai akhirnya sang empu pun bangun.
"Makasih Jaa,gue masuk duluan yaa"ucap Zahra membuka pintu hendak keluar mobil.
"Kalian hati hati dijalan yaaa"ucap Zahra lagi kepada yang lainnya.
"Kita balik ya Ra,dahhhhhh"ucap Diana sedikit teriak.
Setelah menunggu mobil temannya itu pergi Zahra pun berjalan memasuki rumahnya dengan memegangi kepalanya yang sebelumnya ia tahan dari Rumah Sakit di Bogor tadi.
"Assalamualaikum ma,Rara pulang"teriak Rara dari luar pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam sayang,lohh katanya pulangnya besok"tanya Andini lalu mengajak gadisnya itu kedalam.
"Kambuh ma"lirihnyaa.
Andini yang khawatir itu pun memeluk putri semata wayangnya itu dengan erat.
"Maafin mama ya sayang,mama gak bisa berbuat apa apa lagi buat kesembuhan kamu"ucap Andini diiringi isakan kecil.
Zahra yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya pertanda tidak ini bukan salah mamanya ini sudah takdir.
"Mama gak salah,ini udah takdir Rara ma,mama gak perlu nyalahin diri mama sendiri"ucap Rara menenangkan mamanya.
Sedangkan dari arah tangga terlihat Farel-papa Zahra itu terdiam kaku melihat adegan didepannya,dia pun sama sedihnya seperti yang dirasakan istrinya tapi dia juga tidak tau harus berbuat apa lagi selain berdoa demi putrinya.
"Yaudah kamu sekarang istirahat yaa besok kan masih libur juga"ucap Andini perhatian yang diangguki Zahra.
Ketika sampai dikamarnya seperti biasa Zahra membersihkan badannya dulu tidak lama karna ini sudah larut sekali selepas itu dia pun merebahkan tubuhnya ke Queen Sizenya.
Sebelum terlelap dia meminum obat pereda nyeri untuk kepalanya itu karna tadi siang dia lupa alhasil dia tadi pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit.
Pagi harinya seperti biasa karna ini masih hari libur jadi waktunya untuk bermalas malasan pikir seorang gadis yang enggan untuk beranjak dari Queen Size nya itu.
"Zahraaaaaaaaaaa bangun sayang"teriak mamanya dari luar kamar.
Tok tok tok
"Raraaaaa ini udah siang sayang sarapan dulu"ulangnya lagi dengan suara yang lebih keras.
"Eunghhhhhh... "Zahra berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal dialam mimpinya.
Ceklekk
"Apaan si ma,ini weekend lohh"ucap Rara dengan suara khas baru bangun tidur sesekali menguap dan mengucek matanya.
"Sarapan dulu,mama tunggu dibawah"ucap Andini tak terbantahkan dan berlalu dari depan kamar anak gadisnya.
Niat yang dari semalam ia lafalkan akhirnya buyar akibat perintah mama tercintanya itu.
Hanya butuh waktu 15 menit Zahra membersihkan tubuhnya,kini ia hanya memakai kaos putih oversize dan hotpants lalu turun untuk menemui kedua orang tuanya.
"Morning ma pa"sapa Rara hangat dan langsung menduduki tempatnya.
"Hari ini kamu ada kemo jadi kita harus ke Rumah Sakit"ucap Andini menghentikan kegiatan putrinya.
Kalau kalian tanya kenapa papanya diem aja ya karna memang Farel itu tipikal orang yang irit bicara tapi bukan berarti dia gak sayang dan gak peduli yaa.oke back to topik
"Maa"suara lirih dari anaknya itu seakan mengatakan kenapa harus aku yang mendapatkan takdir ini.
"Gapapa sayang biar kamu cepet sembuh"bukan,bukan suara Andini itu tapi suara dari Farel yang dari tadi menyimak.
"Oke deh"Zahra pun mengangguk lesu.
Aku kembaliiii yuhuuu, jangan lupa votenya dan jangan lupa juga follow ig aku @Isnamrf_
KAMU SEDANG MEMBACA
PENGAGUM RAHASIA:) [SUDAH TERBIT]
Teen Fiction"Tawa nya begitu candu, kepergian nya meninggalkan sendu"
![PENGAGUM RAHASIA:) [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/261721110-64-k850660.jpg)