12. Kakek Azzam Tiada

43 3 0
                                        

بسم الله الرحمن الر حيم

♡♡♡

"Zam? Kamu dimana?"

"Iya Ma? Ini Azzam lagi diluar, ada apa?"

"Kakek mu Zam, udah gak ada." Terdengar isak tangis diseberang sana. Azzam langsung mengiyakan, ia segera bergegas menuju kediaman kedua orang tuanya.

Sebelum itu, Azzam sudah memberitahu Farrah lewat telfon. Azzam begitu gemetar sekarang, jantungnya berdetak begitu cepat kala mendengar kabar buruk itu dari Feni-Mamanya.

Sementara itu, ada Rumi yang tengah menikmati semilir angin yang berhembus ditaman kota, setelah pertengkarannya dengan Azzam tadi pagi ia memilih mencari udara segar diluar.

Rasanya gak mau balik lagi kerumah itu, aku tau ini salah. Udahlah keluar gak ngasih tau suami. Tapi gimana Ya Allah.

"Miza? Ngapain ngelamun disini siang-siang?" Pertanyaan itu menghentikan lamunan Rumi, pandangannya teralihkan kesumber suara.

"Eh? Enggak ngelamun kok Far, ini ak-aku lagi, lagi nikmatin angin sejuk aja kok," jawab Rumi terbata dengan senyum kecilnya. Ya, lelaki itu adalah Faruq.

Faruq mengernyit melihat ekspresi Rumi yang menurutnya agak janggal. "Gitu ya, itu matamu kenapa kok bengkak?"

Rumi yang mendapat pertanyaan itu langsung mengalihkan pandanganya dari pemuda itu, ia tak ingin membuat sahabatnya ini khawatir.

"Gak apa-apa kok Far, keknya aku kebanyakan nonton drakor deh, makanya kek bengkak gini mataku."

"Oalah, kirain abis dibuat nangis sama suamimu. Oiya mau jajan ice cream gak? Aku traktir kok," tawar Faruq, ia tak ingin banyak bertanya pada wanita itu. Ia tak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangganya, jika memang benar terjadi sesuatu dalam rumah tangga Rumi.

"Boleh deh, tapi aku nunggu disini aja ya?" Ucap Rumi tersenyum yang langsung di angguki Faruq.

Pemuda itu membawa langkahnya menuju penjual ice cream yang berada diseberang taman.

Miza, kamu gak berbakat untuk boong. Matamu mengatakan sebaliknya, kamu sedang tidak baik-baik saja. Tapi aku gak bisa berbuat banyak, jika saja lelaki itu penyebab kamu seperti ini. Maka, aku tak akan tinggal diam. Lihatlah wajahmu tak se cubby dulu, andai saja aku yang menjadi suamimu, tak akan kubiarkan kamu menangis kecewa.

"Ini ice cream untuk tuan putri," ujar Faruq memberikan ice cream kepada Rumi.

Rumi menerima ice cream itu dengan tersenyum. "Makasi ya Far."

Faruq hanya tersenyum lalu ikut duduk disamping Rumi, menikmati ice cream masing-masing tanpa ada suara.

♡♡♡

"Ma, kasian Kakek, Mama gak boleh berlarut seperti ini." Azzam membawa Feni kedalam pelukannya, wanita setengah baya itu masih terisak sedari tadi.

"Sudah beritahu Farrah?" Tanya Feni kala isakannya sudah sedikit mereda, Azzam hanya menjawab dengan anggukan.

Saat ini sudah banyak orang yang tengah berada didalam ruangan ini, para tetangga sudah berdatangan untuk melayat.

Lentera Takdir Arumi [Slow Update]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang