Lentera Takdir Arumi
grsnrindu
Farrah tersenyum melihat Rumi yang tengah membantu Nana belajar ditaman belakang.
Sepertinya aku sudah mulai ikhlas menerima kamu sebagai maduku. Semoga saja kedepannya kita lebih baik ya Rumi, aku harap tak ada kecemburuan diantara kita.
"Eh? Mbak, ayo sini duduk bareng kita," ajak Rumi kala melihat Farrah tengah berdiri didepan pintu.
Farrah tersenyum, lalu melangkah menuju Rumi dan Nana. Ia duduk disamping putrinya yang tengah belajar membaca.
"Mbak boleh aku usap perutnya?" Tanya Rumi saat melihat Farrah yang tengah mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat.
"Boleh kok, semoga kamu juga segera kasih Nana adik ya?" Ucap Farrah tersenyum.
Rumi hanya terkekeh kecil sambil mengusap perut Farrah yang membuncit. "Semoga ya Mbak, aku gak tau kedepannya aku bakal gimana Mbak, dilain sisi aku merasa bersalah banget karena gak pikir panjang dulu menerima perjodohan ini."
Farrah tersenyum. "Gak apa-apa, kita lewati ini bersama-sama. Memang berbagi hati itu gak mudah buat dijalani Rum, Mbak juga butuh waktu untuk terbiasa dengan semua ini, Mbak yakin pasti ada kebahagiaan diujung sana yang sedang menanti," jelas Farrah menggenggam tangan Rumi.
"Rumi benar-benar minta maaf ya Mbak, gak nyangka aja bakal kayak gini jadinya, maaf juga udah ikut tinggal dirumah ini bersama Mbak dan Nana, harusnya aku gak ikut tinggal disini." Rumi tertunduk, air matanya mulai berjatuhan tanpa ia minta.
"Nana main didalam rumah aja dulu ya, belajarnya nanti lagi," ujar Farrah mengusap rambut Nana yang langsung diangguki gadis kecil itu.
"Maaf Mbak aku malah nangis gini," ujar Rumi terkekeh.
Farrah mengusap lengan Rumi. "Kamu wanita yang baik Rumi, Allah pertemukan kita dengan cara seperti ini. Kita sama-sama saling menjaga saja ya, saling ikhlas."
Rumi memeluk Farrah erat, entah ia harus bersyukur atau bagaimana karena bertemu dengan wanita sekuat dan se sabar Farrah. Wanita yang rela dipoligami oleh suami tercintanya karena permintaan almarhum Kakeknya.
Mbak maafin aku, gak seharusnya aku masuk kedalam rumah tangga Mbak Farrah seperti ini.
"Sudah, gak usah berlarut. Mbak jadi ikutan sedih kalo kayak gini," ujar Farrah mengusap punggung Rumi.
"Eh maaf, Mbak gak boleh sedih ntar dedek bayi ikutan sedih, kasian." Farrah terkekeh mendengar ucapan Rumi. Ia akan menganggap Rumi sebagai adiknya.
"Yaudah kita masuk yuk, bikin cemilan biar hati agak tenang," ajak Farrah yang diangguki Rumi.
Sore ini Rumi tengah duduk digazebo dekat kolam ikan dirumah Farrah dan Azzam, ia duduk sembari memberi makan ikan.
"Makan yang banyak ya," lirih Rumi tersenyum melihat ikan-ikan yang berenang menuju makanan yang ia lempar ke kolam.
"Lagi ngasih makan ikan?" Pertanyaan itu mengalihkan pandangan Rumi kesumber suara.
"Eh? Mas udah pulang?" Tanya Rumi mencium punggung tangan pria yang baru saja menanyainya itu.
"Iya, gimana rasanya selama ini tinggal bareng Farrah dan Nana?" Tanya Azzam ikut duduk disamping Rumi.
"Aman kok Mas, maaf ya aku masih belum bisa memutuskan apapun untuk saat ini," jawab Rumi sambil tersenyum tipis.
"Gak apa-apa kok, yang penting kalian disini saling mengerti dan menghargai saja ya, saya gak tau apakah saya bersikap adil atau tidak pada kalian." Azzam tersenyum tipis.
"Bagiku selama ini udah lebih dari cukup Mas," ujar Rumi berusaha mempertahankan senyumannya.
♡♡♡
D
isebuah kamar bernuansa putih dan cream ini terlihat seorang wanita yang tengah membaca Alqur'an sambil duduk diatas sofa yang mengarah langsung keluar jendela. Ia tengah membaca surah Maryam agar proses persalinannya nanti lancar, meski usia kandungannya masih 7 bulan. Ini sudah menjadi kebiasaanya selama hamil, dulu semasa hamil Nana ia juga melakukan hal yang serupa.
Farrah menyudahi bacaannya kala pintu kamar terbuka yang memperlihatkan sosok pria yang sudah mengarungi rumah tangga bersamanya selama lebih kurang 6 tahun. Farrah tersenyum melihat kedatangan pria itu.
"Mas udah ketemu Rumi?" Tanyanya lembut.
Azzam tersenyum tipis. "Sudah, Maaf ya Sayang harus seperti ini." Azzam mengusap puncak kepala Farrah.
"Mas apaan sih? Udah begitu sering Farrah denger ini dari Mas loh," kesal Farrah mencubit lengan Azzam pelan.
"Iya maaf-maaf, reflek aja Sayang."
Farrah memeluk suaminya itu erat, ia tersenyum melihat suaminya yang sudah mulai membiasakan diri dengan Rumi, ia berharap suaminya itu bisa adil.
"Mas, nanti temenin aku USG ya? Keknya hari senin deh," ajak Farrah mencoba mengingat jadwalnya bertemu dengan dokter.
"Iyaa, nanti Mas temenin. Kamu sehat-sehat ya didalam," ujar Azzam mengusap perut Farrah.
"Oiya Mas, tadi Mama telfon aku."
"Mama bilang apa?"
"Mama ngingetin aku gak boleh capek Mas, kata Mama nanti kalo udah deket lahiran Mama mau kesini nemenin aku," jelas Farrah tersenyum.
Azzam tersenyum. "Alhamdulillah kalo gitu Sayang."
"Tadi Mama juga nanyain Rumi, kata Mama aku harus bisa akrab sama Rumi. Kalo ada apa-apa kasih tau Mama secepatnya, tapi aku bilang ke Mama. Kalo kita baik-baik aja disini, Rumi juga asik diajak ngobrol kadang kita juga masak bareng, nemenin Nana belajar bareng bahkan juga main bareng Nana, aku berasa punya temen kalo Mas gak ada dirumah," jelas Farrah mengingat kegiatan yang ia lakukan bersama Rumi.
Wanita itu terlihat senang meski hatinya mungkin masih mencoba untuk ikhlas menjalani kehidupannya yang sekarang.
☁️☁️☁️
Jumpa dipart selanjutnya, babay
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Takdir Arumi [Slow Update]
Duchowe"Jadi, apa keputusanmu?" "Ceraikan aku Mas," ujar Rumi tersenyum, sesak rasanya saat tiga kata itu harus terucap dari bibirnya untuk suaminya. °°° "Aku percaya Allah telah menyiapkan skenario terbaik-Nya untuk ku, karena rencana-Nya jauh lebih bai...
![Lentera Takdir Arumi [Slow Update]](https://img.wattpad.com/cover/271950727-64-k658244.jpg)