-Lentera Takdir Arumi-
Rumi tengah duduk di sofa kamar Azzam, ia tak berani duduk diatas ranjang besar itu. Mengingat bahwa dirinya adalah istri kedua dari seorang pria yang tak ia ketahui sudah memiliki istri, bahkan masih berstatus sah dimata agama dan negara.
Rumi mengeluarkan amplop yang diberikan Feni tadi. Didalamnya terdapat selembar kertas yang berisi pesan dari Kek Imran untuk dirinya.
Untuk Arumi.
Rumi, kakek benar-benar minta maaf karena sudah membuat hidup kamu berantakan.
Maaf karena kakek tidak memberitahu kamu bahwa Azzam sudah menikah, jika kakek beritahu mungkin kamu tak akan mau menjadi istri kedua Azzam.
Kakek tau ini salah, tak seharusnya pernikahan itu terjadi, ini adalah permintaan terakhir kakek pada Azzam, Azzam satu-satunya cucu kakek, dan kakek menginginkan cucu kakek menikah dengan perempuan yang kakek pilihkan untuknya. Mungkin ini terkesan bahwa kakek mempermainkan pernikahan. Tapi kakek tak bermaksud seperti itu Rumi.
Mohon maafkan Kakek, Azzam dan Mamanya.
Rumi boleh mengambil keputusan apapun setelah membaca surat ini, tak akan kakek paksa lagi Rumi untuk mengambil keputusan sesuai keinginan kakek.
Tertanda.
Imran.
Rumi menghela napas panjang setelah membaca kalimat terakhir dari surat itu. Ia terpegun membaca isi surat itu.
Apa ini? Kenapa mereka seolah-olah mempermainkan kehidupanku?
Rumi tak habis pikir, bagaimana bisa pria itu menyetujui pernikahan ini jika ia terpaksa? Akhirnya Rumi mengetahui alasan kenapa pria itu tak mau menyentuhnya selama ini.
Astaghfirullah, sadar Rumi. Ini udah jalannya kamu berada dalam situasi ini. Jangan menyalahkan takdir! Jangan egois!
"Kenapa tidur disana?" Rumi membuka matanya kala mendengar pertanyaan itu. Sedaritadi ia mencoba untuk tidur tetapi hasilnya nihil.
Ia merubah posisinya menjadi duduk, menatap pria yang sedang duduk diatas ranjang berukuran besar itu. Azzam tak mengubah posisinya, ia menunggu jawaban perempuan itu.
"Maaf Mas, sepertinya saya gak pantes untuk tidur disana, ada hati wanita lain yang tengah kamu jaga Mas. Maaf, tak seharusnya saya membahas ini sekarang." Rumi tertunduk.
Azzam membawa langkahnya pada Rumi dan ikut duduk disamping perempuan itu. "Saya benar-benar minta maaf Rumi, karena saya kamu berada dalam posisi sulit ini. Entah apa yang membuat kita bertemu dititik ini, jujur. Saya sebenarnya memang keberatan menerima perjodohan ini karena saya sudah memiliki keluarga kecil, saya tak berniat untuk mempermainkan kamu."
Rumi menatap pria itu dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, ia tak berhenti beristighfar didalam hatinya agar emosinya tak meledak.
"Menangislah," ujar Azzam membawa tubuh Rumi kedalam pelukannya. Tangisan Rumi pecah saat Azzam memeluknya untuk pertama kalinya. Tak ada lanjutan lagi dari penjelasan Azzam tadi, Rumi pun juga tidak berbicara sepatah kata pun.
"Mas, bolehkah saya menenangkan diri dirumah orang tua saya? Saya ingin membicarakan ini dengan mereka, dan saya ingin meminta petunjuk Allah untuk mengambil keputusan terbaik untuk kita." Rumi mengurai pelukannya dengan Azzam, ia menghapus jejak air mata yang masih mengalir dipipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Takdir Arumi [Slow Update]
Espiritual"Jadi, apa keputusanmu?" "Ceraikan aku Mas," ujar Rumi tersenyum, sesak rasanya saat tiga kata itu harus terucap dari bibirnya untuk suaminya. °°° "Aku percaya Allah telah menyiapkan skenario terbaik-Nya untuk ku, karena rencana-Nya jauh lebih bai...
![Lentera Takdir Arumi [Slow Update]](https://img.wattpad.com/cover/271950727-64-k658244.jpg)