Sebuah kisah yang terbentuk dari rasa iri yang akhirnya membuat manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai kunci kesuksesan mereka.
Berawal dari Salva, seorang penulis yatim piatu yang hidup berdampingan dengan mesin akibat tragedi kecelakaan y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
☆☆☆☆☆ Manusia boleh iri hati, tapi tidak boleh mengubahnya menjadi kebencian.
~AUCTOR~ ☆☆☆☆☆
Setelah melewati beberapa hari bersama Zacc, Salva mulai merasakan perasaan aneh tumbuh di hatinya. Bahkan, perempuan itu sering merasakan dadanya sesak apabila berdekatan dengan lelaki itu.
Di sinilah Salva sekarang, di sebuah rumah sakit yang ia datangi minggu lalu. Bukan untuk melakukan pemeriksaan, melainkan perempuan itu datang untuk kembali menemui perawat yang pernah ia temui sebelumnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Gue mau ke toilet dulu ya,” ucap Salva yang diangguki oleh Zacc.
Perempuan itu mulai berjalan mencari keberadaan toilet yang ada di rumah sakit itu. Namun, dirinya terlonjak kaget saat melihat seorang nenek yang terduduk di lantai depan toilet. Dengan perlahan, Salva berjalan mendekati nenek itu.
Salva memapah nenek tersebut dengan pelan, “Biar aku antar ke ruang nenek ya.”
“Kamu baik sekali. Ruang nenek ada di nomor 118,” ucap Nenek tersebut sambil menunjukkan ruangannya.
“Haiya, nenek dulu juga mempunyai dua orang cucu. Tapi, karena sifat egois ini membuat nenek berpisah dengan mereka.”
“Dan sekarang, nenek hanya bisa bertemu dengan satu cucu nenek karena satunya lagi sudah meninggal. Mungkin umurnya sama denganmu.”
Salva tersenyum menanggapi perkataan nenek itu. Ternyata, di dunia ini tidak ada yang sempurnya. Dari orang-orang yang telah Salva temui, sangatlah sedikit dari mereka yang mempunyai keluarga utuh.
Seperti Zacc contohnya, laki-laki itu juga sama dengannya tidak memiliki orang tua, bahkan Savero yang baru ia temui juga hidup sendirian. Ditambah hari ini ia bertemu dengan seorang perempuan berumur, ia juga berpisah dengan cucunya.
“Nenek sakit apa?” tanya Salva mencairkan suasana.
“Sudah tua, mudah kecapekan. Jadinya tubuh sering sakit.”