"Gue nggak mau nyari kacung ataupun majikan."
"Maksutnya harus yang menurut lo sepadan?"
"Kalo nyebutnya sepadan kesannya jadi beda ya kedengerannya," saut Aya
"Emang sepadan yang lo maksut yang gimana?"
"Gue nggak pengen sama orang yang nantinya harus selalu nurutin segala sesuatu yang gue bilang ataupun bisa diatur atur seenak hati. Gue juga gak pengen sama orang yang nanti maunya ngatur dan semena mena sama hidup gue meskipun gue udah jadi istrinya. Gue nyari partner yang bisa selalu jalan disamping gue, begitupun gue yang akan selalu jalan disamping dia."
"Beh," sergah gue
"Tenang aja gue nggak niat mau jadi yang suka seenaknya ataupun jadi laki laki yang nggak berpendirian kok." lanjut gue berucap sekaligus membalas meledek sok terpukau karena kalimatnya
"Ih?"
"Ih?" balas gue menirukan suara dan gaya bicaranya, Aya malah melengos beralih dari mata gue saking eneg nya liat kelakuan gue barusan
"Bri jawab serius ya?"
"Ntar gue seriusin nolak,"
"Capek. Asem urat tiap ngomong sama lo, becanda mulu."
"Ada apa dewiku??"
"Kenapa lo masih sama gue? I mean, its been five years.."
"Terus kenapa? Kalo udah nggak mau sama lo, sekarang gue nggak bakalan masih disini dan begini sama lo kan."
"Begini gimana?"
"Serius masih nanya Ya? Atau sebenernya lo mau ninggalin gue ?"
"Enggak, gue cuma heran aja."
"Ayana." dia cuma menoleh menanggapi gue
"Asal lo tau gue tuh sebenernya capek, capek banget. Ngapain amat gue belain dateng jam sebelas malem kalo cuma main main. Gue cuma mau ketemu sama lo. Its been almost a week we've been busy and haven't seen each other--"
"Iya iya stooop, gue percaya gausah dijelasin lagi. Gue tau lo capek, gue juga capek bri. Udah dibilang besok aja sekalian kita ketemunya, lo sih ngebet amat. Tidur gih sono gue juga udah ngantuk. Mumet gue hari hari ngejar deadline mulu nggak habis habis."
"Kenapa sih lo selalu mempertanyakan gue, emang gue se-meragukan itu?"
"Kalo meragukan lo, gue nggak akan ada di depan lo sekarang bri. Kan udah dibilang gue cuma heran aja."
"Iya, itu namannya lo meragukan gue--"
"Shut up. Nggak ada habisnya kalo diterusin,"
Gue masih inget percakapan kami berdua malem itu, malam malam lainnya dimana gue baru beres kerja balik tengah malem dan malah dateng ke tempatnya untuk sekedar ketemu secara langsung. Ngomongin apa aja asalkan kita berdua bisa ngobrol entah itu berkeluh kesah tentang yang terjadi hari itu, atau mungkin apapun. Cukup bisa ketemu lalu ngobrol dan saling memeluk itu udah cukup. Se sederhana itu.
Hubungan beberapa tahun yang berjalan sebelum gue dan Aya memutuskan untuk menikah waktu itu memang nggak selalu berjalan semulus bak lapisan porselen. Kalo orang bilang hubungan dalam konteks romantis antara laki laki dengan perempuan yang berawal dari temenan itu kebanyakan nggak selalu berjalan dengan semestinya seperti dugaan, gue setuju sama itu. Tapi buktinya, gue dan Aya bisa berhasil dan bertahan sampai di titik ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner Hidup
FanfictionOrang bilang yang sempurna itu tidak ada. Tapi Brian adalah perwujudan dari kata sempurna yang saya definisikan sendiri, ah cinta memang buta. Ini tentang Brian yang lebih dari kata 'kebagusan' untuk seorang yang tidak 'sebagus itu'. Brian yang sela...
