"Mah!"
"Kenapa Nan?"
"Liat deh ma itu mbak Nata dikamarnya lagi sakit sekarang."
"Kok bisa? Tadi kan nggak kenapa napa?"
"Jidatnya panas banget ma barusan aku pegang."
Seusai perkataan Danan barusan saya langsung bergegas meninggalkan pekerjaan rumah yang sedang saya kerjakan sore ini menuju ke kamar Nata untuk memastikan keadaannya. Padahal tadi siang sepulang sekolah anak itu tidak terlihat sedang sakit sedikitpun. Pantas saja siang tadi setelah makan langsung pergi tidur. Danan sekarang tengah ikut berjalan dengan mengekori dibelakang.
Di jam segini Brian masih belum pulang, Jeje juga entah pergi main kerumah siapa. Hanya ada saya beserta Nata dan Danan dirumah. Diantara kami semua dirumah yang biasanya paling sering sakit adalah Danan, yang paling cengeng juga Danan. Tapi itu dulu, sekarang dia sudah kebal dengan sikap Jeje ataupun Nata yang terkadang suka kelewat usil.
Dan sekarang Nata tiba tiba sakit, biasanya dia termasuk yang paling jarang sakit. Kalau sedang sakit begini Nata akan meringkuk dikasurnya tanpa bersuara sama sekali. Jika tidak ada yang menengok mungkin tidak akan ada yang tau. Lalu Danan akan beralasan kalau sedang takut tidur sendiri, kemudian ikut tidur dengan Nata. Yang sebenarnya dia ingin menemani kakaknya itu sepanjang malam. Meskipun pada akhirnya Danan hanya akan tertidur seperti biasanya tanpa memperdulikan. Mungkin dia pikir ingin membuat kakaknya tidak merasa sendirian saat sedang sakit.
"Pusing Nat? Mama suapin makan aja ya, terus minum obat biar enakan."
"Gak laper mah.." lirihnya kemudian memeluk pinggang saya yang sedang terduduk diatas kasur
"Kenapa sayang?"
"Kaget ma, takut juga..."
Kemungkinan pertama jika Nata tiba tiba sakit adalah ini, dan dugaan itu hampir selalu benar. Pasti dia baru saja melihat satu wujud baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dan itu pasti bukan sesuatu yang biasa biasa jika Nata sampai-sampai sakit begini. Mungkin terdengar aneh dan tidak masuk akal, tapi
Nata memang anak saya yang cukup istimewa.
Menurut yang selalu Nata ceritakan, dia memang tidak bisa melihatnya secara jelas ataupun dalam bentuk yang utuh dan sejelas-jelasnya. Katanya hanya terlihat sekelebat saja terkadang. Perlahan semakin tumbuh besar sepertinya kemampuannya makin bertambah. Tapi harus saya akui kalau Nata benar benar anak yang pemberani. Meskipun, saat sedang benar benar kelewat kaget dia akan jatuh sakit juga sampai beberapa hari.
Sedari kecil dia malah jarang menceritakan tentang apa saja yang dia lihat. Jika benar benar ditanyai baru dia akan memberitahu. Dulu saya dan Brian begitu kebingungan mengenai apa yang harus kami lakukan untuk bisa membantu Nata. Tetapi pelan-pelan kami berusaha untuk membiasakan diri dengan itu semua. Katanya kemampuan Nata itu memang bukan ilusi belaka, parahnya kelebihan itu tidak bisa dihilangkan begitu saja karena sudah terbawa dari lahir.
"Belom pernah liat ya? Serem banget Nat emang?"
"Di sekolah tadi mbak?"
Yang ditanyai hanya menggelengkan kepala pertanda memang tidak ingin memberitahu tentang dimana dia habis melihatnya.
"Liat apasih mbak cepetan kasih tau kek.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner Hidup
FanficOrang bilang yang sempurna itu tidak ada. Tapi Brian adalah perwujudan dari kata sempurna yang saya definisikan sendiri, ah cinta memang buta. Ini tentang Brian yang lebih dari kata 'kebagusan' untuk seorang yang tidak 'sebagus itu'. Brian yang sela...
