I Loved You, I Always Do.

561 39 4
                                        

"Adinda, hari ini kamu manis."

Aya diam. Lalu mengernyit sekaligus melotot tepat ke arah mata gue setelahnya.

"Siapa Adinda? Kakanda mendua?"

Jawabnya lebih mendramatisir kalimat gue barusan. Mungkin dalam takdir gue tuhan sengaja menyandingkan gue dengan orang yang kelakuan nya emang gak jauh beda sama gue, walaupun begitu bukan berarti dia gak melengkapi bagian yang gak gue miliki. Ah, hari ini gue cuma mau jadi penggombal ulung seharian penuh sekalipun nantinya mungkin bakalan dicaci maki sama anak anak gue yang kadang suka rese kalo ngeliat mak bapaknya sayang sayangan.

"Kakanda siapa? Aku kan Brian mu?"

"Udah ah, gue kesel beneran lama lama." katanya masih fokus entah lagi ngeladenin siapa terus terusan sibuk sama hape nya

"Adinda kamu cantik malam ini," kata gue belum menyerah beranjak posisi mindahin kepala keatas pahanya sebagai bantalan dan ngebuat gue jadi bisa mendongak keatas ngeliat Aya dari bawah sini

"Aku bukan Adinda. Cantiknya hari ini aja? Biasanya jelek?"

"Tiap hari tambah cantik maksutnya,"

"Alah." sambutnya melengos

"Kenalin aku Brian bukan kakanda." merhatiin rautnya yang lagi berlagak serius itu ngebuat gue jadi ingin terus berusaha merebut atensinya supaya beralih ke gue

"Iya Brian, diem dulu ya jangan aneh aneh. Ini belum selesai." denger sautannya yang kayak lagi marahin anaknya begitu bikin gue seketika tertawa dalam hati,

"Ngeladenin siapa daritadi gak kelar kelar?" ini udah yang ketiga kalinya gue protes hal yang sama berturut turut

"Ada yang diobrolin sama Edgar,"

Gue diam dan beralih menatap asal tv yang sedaritadi nyala. Malem ini cuma ada gue dan Aya dibawah, diam berdua-dua an diatas sofa tanpa ngelakuin apapun. Udah cukup lama kami nggak begini. Gue kangen. Beberapa hari belakangan gue jadi sering denger nama Edgar disela sela pembicaraan antara kami berdua. Gue sampe bosen.

Bermenit menit saling diam, cuma ada suara tv yang gak begitu kenceng dan gue menunggu Aya yang akhirnya sedikit menunduk mengalihkan fokusnya ke rambut gue lalu mengusap usap rambut di dekat telinga gue sambil matanya seolah memindai seluruh bagian rambut lainnya.

"Udah gondrong deh bri,"

"Udah beres?" balas gue mengabaikan pertanyaan Aya dan nannyain hal lain

"Udah," saut Aya berganti nempelin jari berlagak sok mengukur dahi gue "Jidat lo makin lebar deh."

"Mana ada, dari dulu emang segini."

"Bri,"

"Mmm?"

"Lo begini ngerayu mau beli yang aneh aneh ya?"

"Curiga mulu."

Aya lagi lagi mengernyit keliatan menerka nerka menatap gue

"Inget bri, kemarin kan ngurusin mobil yang habis nabrak itu udah habis berapa duit. Jangan buang buang uang."

"Enggak, dibilangin gue bukan lagi mau beli motor baru."

"Tuh kann. Padahal gue gak nyebut nyebut motor baru?"

"Beneran Ya,"

"Lalu?"

"Idih, lalu." gue bergerak merangkul pinggangnya masih tetep belum berpindah dari pangkuannya

"Ntar anak anak turun terus diliat mereka bri, jangan ginii."

Partner HidupTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang