Kumpul Dadakan. 1

397 39 4
                                        


Setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan banyak hal saya pada akhirnya memutuskan menerima tawaran untuk mulai menghandle kafe milik mas Aksa yang ada disini sekaligus juga cabang baru yang belum lama ini buka.

Karena kafe milik mas Aksa ini sudah terbilang cukup dikenal dan bahkan punya cabang tidak hanya disini tapi beberapa juga di Surabaya, urusan promosi dan semacamnya tidak begitu membutuhkan effort berlebih yang terlalu merepotkan. Belum lagi lokasinya yang memang cukup strategis, target pelanggannya memang para pekerja kantoran yang bekerja di gedung perkantoran depan sana dan lumayan dekat dari lokasi kafe berada. Meski begitu tidak jarang banyak anak anak muda yang sering terlihat berkunjung, terutama di akhir pekan kafe lebih didominasi para muda mudi itu. Akhir akhir ini saya juga masih lebih sering mengawasi cabang yang baru buka beberapa hari ini karena cabang baru butuh perhatian lebih untuk sementara waktu ketimbang cabang lama yang sudah berjalan.

Sebenarnya ini sama sekali bukan bidang saya, hal itu juga yang awalnya membuat saya ragu. Saya paham betul bagimana sulitnya memenuhi deadline berita berita yang harus segera naik, menjadwalkan banyak hal, lalu mengejar berita ataupun para narasumber, atau juga hal memusingkan lain seperti susahnya memutar otak yang sedang buntu buntunya saat menulis artikel ataupun berita yang sudah mepet waktunya. Tapi belum pernah sekalipun saya menangani yang seperti ini.

Bimbangnya meng interview sendiri para kandidat pegawai baru, lalu mengatur sekaligus menyesuaikan berbagai hal bersangkutan dengan para supplier kebutuhan stok untuk kafe, belum lagi mengawasi keluar masuknya uang sekaligus mengatur ulang tatanan keuangan yang sudah ada dengan tatanan baru yang ingin saya sesuaikan. Untungnya sedari awal saya tidak betulan hanya sendiri mengurusi semuanya. Meskipun mas Aksa terlihat seperti benar benar menyerahkan segala urusan sepenuhnya, syukurnya ada satu orang kepercayaannya yang dia minta untuk membantu saya. Kami bertiga juga sudah membicarakan segala hal termasuk mengenai urusan kuangan dan lain lainnya.

"Gar, mulai sekarang saya bakalan jarang nengokin kesini. Kalian berdua handle semuanya baik baik."

Edgar yang anaknya memang terlihat agak diam itu cuma mengangguk sambil senyum khas dengan tatapan yakinnya menanggapi ucapan mas Aksa barusan. Edgar ini orang kepercayaan yang sudah dari awal semenjak mas Aksa memutuskan pindah balik ke Surabaya untuk membantu mengawasi mas Aksa yang dulunya masih suka bolak balik kesini.

"Nanti kalo ada apa apa langsung kabarin mas, kamu jangan galak galak lho Ya sama Edgar.."

"Mana ada galak? Itu tanya aja si Edgar, udah seminggu ini kerja bareng sama aku galak apa nggak."

"Aman gar?" saut mas Aksa menoleh ke Edgar yang berdiri di sebelah kirinya

"Lancar pak, saya seneng juga bisa kerja sama mbak Aya."

Meski tugas Edgar disini adalah untuk membantu saya menghandle semuanya, justru terkadang saya yang masih lebih banyak bertanya pada Edgar. Dia sudah lebih lama dan sepertinya lebih mengerti setelah berkecimpung cukup lama di bidang ini. Walaupun terlihat mudah, tapi ternyata mengurusi ini tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya.

"Mas mau mbalek kapan?"

"Uwes pesen tiket kereta buat besok pagi."

"Naik kereta?"

"Iya, biasanya juga mesti naik kereta pulang pergi."

"Mas biasanya nginep dimana?"

"Di hotel sih, tapi jarang juga. Biasanya mas langsung balik soalnya."

"Ngapaik ke hotel sih mas, kok nggak nginep dirumah?"

"Suka suka mas lah,"

"Malem ini mas Aksa ikut aku kerumah. Mas iku nduwe sedulur nang kene, kok malah nginep nang hotel. Gausah sungkan sungkan mas,"

Partner HidupTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang