Akhir akhir ini segala sesuatu sedang terasa berat beratnya. Urusan pekerjaan serasa tidak ada habis habisnya. Bahkan karena sedang sangat pusingnya dengan pengaturan ini itu juga berbagai deadline, saya jadi marah marah pada wartawan harian tadi. Saya paham dia masih anak baru, tapi kenapa dia tidak juga mengerti kalau harus memenuhi deadline. Berita berita itu harus naik sesuai jadwalnya. Redaktur saya juga jadi protes pada saya habis habisan. Dan entah kenapa sekarang saya jadi kepikiran akibat sedikit merasa bersalah karena mungkin tadi sudah terlalu berlebihan.
Belum lagi Arkan si fotografer kampret yang juga ternyata hanya mengambil beberapa gambar saja yang bisa dikategorikan layak di lokasi tadi dan justru malah fokus memotret yang lain lain. Padahal tadi merupakan liputan berita yang sangat penting. Tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan sampai sampai lalai begitu, padahal biasanya dia selalu tepat sasaran.
Saya benar benar ingin segera pulang kerumah sekarang.
Setahun lalu saya berhasil naik setingkat sebagai Asisten Redaktur di salah satu media online yang cukup ternama tempat saya bekerja. Saking tidak ingat waktu, saya baru tersadar kalau sekarang sudah hampir jam setengah sembilan malam. Saya biasanya tidak sampai pulang jam segini, tapi entah kenapa jadi lupa waktu saking sedang riwehnya. Kalau bukan karena tadi ditugaskan untuk turut andil wawancara dengan salah satu narasumber penting yang ternyata memakan waktu lebih dari perkiraan, saya tidak akan se- terlambat ini untuk pulang.
Saya juga lupa mengabari Brian sejak tadi, terakhir dia menelpon saat jam makan siang. Setelah mengecek ternyata hp saya mati entah sejak kapan, sepertinya batrainya memang habis karena kelupaan mengisi. Saya harus secepat mungkin pulang kerumah sekarang.
Saya jadi merasa sangat bersalah karena meninggalkan anak saya yang bahkan masih berumur dua tahun dirumah. Pasti sekarang Jeje sudah dijemput dari rumah mama oleh Brian mengingat ini sudah lewat malam.
Kami berdua memang sepakat untuk sementara waktu menitipkan Jeje pada mama sampai salah satu dari kami pulang kerja. Untungnya mama malah menawarkan diri dan memang terlihat benar benar senang karena beliau bilang kesepian dirumah. Meskipun sebenarnya saya merasa tidak enak karena malah merepotkan mama. Terkadang saya merasa kalau sudah egois karena memilih meninggalkan Jeje dan lebih memilih pekerjaan.
Brian tidak pernah melarang apapun pilihan saya. Saya senang dengan pekerjaan ini. Tapi semakin kesini saya makin tersadar kalau sepertinya harus segera berhenti dari pekerjaan. Meskipun sekarang masih belum berhenti, tapi saya sudah memutuskan kalau tidak lama dari sekarang akan mengundurkan diri. Sedikit lagi.
"Mbaya!"
Terdengar suara Arkan si fotografer kampret yang saya bilang tadi berjalan menghampiri saya yang sedang bersiap siap untuk beranjak pulang. Ah iya, umurnya hanya berjarak dua tahun dibawah saya dan Arkan biasanya memang selalu memanggil saya seperti itu. Kami berdua memang sebenarnya akrab satu sama lain. Tidak hanya Arkan, saya hampir akrab dengan semua rekan kerja disini. Kecuali para anak baru tadi.
"Gausah ngelirik begitu dong Mbaya...serem buset." Lanjutnya
"Lagian gila lo! Mikirin utang?"
"Sekali lagi maafin nih, gue dari kemarin kemarin emang lagi kurang tidur aja."
"Awas aja besok besok begitu lagi lo. Udah, gue mau balik ditungguin anak gue."
"Bawa motor?"
"Enggak, gue tadi dianter Brian."
"Terus baliknya dijemput juga?"
"Gue mau pesen ojol ini, kasian kalo minta jemput sekarang."
"Ayo bareng aja sekalian, mumpung gue lagi tidak enak hati nih itung itung menebus dosa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner Hidup
FanficOrang bilang yang sempurna itu tidak ada. Tapi Brian adalah perwujudan dari kata sempurna yang saya definisikan sendiri, ah cinta memang buta. Ini tentang Brian yang lebih dari kata 'kebagusan' untuk seorang yang tidak 'sebagus itu'. Brian yang sela...
