"Bri! Kesini cepetannnn."
Setelah teriakan barusan yang muncul dari balik pintu belakang malah Danan. Suara saya sepertinya sudah kelewat menggelegar sampai sampai Danan yang sedang diatas jadi berlarian kebawah.
"Kok kamu yang nongol? Ayah kemana?"
"Suara mama tuh kenceng banget, kenapa lagi itu si malik?" Katanya lalu menghampiri ke dekat kolam
Akhir akhir ini Brian sedang obses ingin membuat rumah ini jadi seperti kebun raya. Bagaimana tidak, dua minggu lalu dia memesan beberapa tanaman hias yang saya tidak tau apa namanya satu persatu. Jangankan saya, Brian yang membeli pun tidak mengingatnya saat saya tanyai. Awalnya hanya ada dua tanaman yang datang. Lalu besoknya ada lagi, begitupun besok besoknya dalam seminggu berturut. Saat ditanyai mengapa, dia bilang karena bunga bunga itu terlihat cantik jadi dia membelinya.
Aneh.
Brian memang terkadang suka random, tapi belum pernah dia tertarik apalagi dengan tanaman sampai sebegitunya. Sebetulnya salah satu alasan dibalik itu adalah akhir akhir ini Brian sering memantengi toko online tanaman hias saat senggang. Saat saya protes, dia bilang
"Aduh sayang, ini murah kok. Kan bagus juga tuh kalo disimpen di halaman depan."
"Awas aja pokoknya jangan dijual lho ya'. Lagian biar lo gak ngurusin koi melulu." Begitu katanya
Mungkin dia pikir yang mengurus ketiga anaknya selama ini tetangga sebelah.
Semenjak minggu lalu dia juga jadi rajin sekali merukuni tanaman tanaman itu setiap pagi. Kira kira ada sekitar lebih dari sepuluh jenis tanaman baru yang terkumpul di depan dan berkumpul dengan tanaman lainnya yang sebelumnya sudah ada. Belum lagi tiga hari lalu Brian membawa pulang seekor kura kura berukuran sedang kerumah dan menamainya Malik.
Apalagi kura kura itu benar benar tidak bisa diam di satu tempat karena malah terkadang dilepas begitu saja oleh Brian. Sebenarnya sudah ada niatan untuk membuangnya. Tapi kemarin saya urungkan karena tiba tiba rasa berprikebinatangan saya muncul.
Halaman depan rumah kami sudah benar benar terlihat rimbun dan sedikit sesak karena ukuran tanaman tanaman itu yang tidak kecil. Tanaman lain yang sebelumnya sudah ada saja jarang saya perhatikan, mungkin hanya sesekali menyiraminya saat dirasa tanaman itu akan sekarat jika tidak segera disirami.
Brian sepertinya hanya ingin menambah nambah pekerjaan saya. Memang benar dia sendiri yang merukuni nya tiap pagi, tapi saat siang hari jika dia sedang tidak dirumah Brian suka tiba tiba menelpon dan menyuruh saya memperhatikan anakan barunya itu atau mungkin memerintah saya untuk sekedar menyambangi itu semua. Entah apa tujuannya tanaman harus ditengok begitu.
Hhhhhhhhh.
"Panggilin ayah kamu sekarang cepetan."
"Oke ma, bentar."
"Lho Nan? Kok malah obok obok kolam, panggilin itu ayah kamu."
"Iya nih ah.. dipanggilin sekarang." Tuturnya kesal
Belum ada lima menit Danan balik lagi dengan langkah gontainya yang malas malasan.
"Katanya lagi sibuk ma.."
"Sibuk apa?"
"Sibuk gak ngapa ngapain sih."
"Bilangin, kalo gak kesini sekarang si Malik mau mama lelepin ke kali."
"Jangan kejam begitu dong ma. Itu si Malik kan lucu.."
Akhirnya Danan menuruti dan pergi pada Brian untuk menyampaikan titah. Setelah cukup lama menunggu disini akhirnya dia muncul juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner Hidup
FanfikceOrang bilang yang sempurna itu tidak ada. Tapi Brian adalah perwujudan dari kata sempurna yang saya definisikan sendiri, ah cinta memang buta. Ini tentang Brian yang lebih dari kata 'kebagusan' untuk seorang yang tidak 'sebagus itu'. Brian yang sela...
