Revised
.
.
.
Dua belas tahun.
Semua orang pasti punya setiap pertama kali - pertama kalinya dalam hidup. Pertama kalinya jatuh cinta, pertama kali sakit hati, pertama kali kecewa, atau bahkan hal hal pertama kali lainnya seperti bisa memotong kuku sendiri, juga pertama kali bisa berjalan sendiri, dan ribuan pertama kali lainnya.
Termasuk pertama kalinya saya saat merasakan akan jadi seorang ibu.
Meskipun ada beberapa hal yang membuat saya teramat kecewa pada ibu saya, sejak saat itu saya jadi merasa benar benar ingin berterimakasih pada beliau sebagai seorang anak. Saya ingin berterimakasih sebesar besarnya karena sudah mau mengandung saya selama lebih dari sembilan bulan juga sekaligus melahirkan saya, yang ternyata amat sangat tidak mudah. Meskipun tidak tau nantinya anaknya akan jadi seperti apa, entah jadi pembangkang atau mungkin jadi anak cengeng dan sebagainya. Ibu saya tetap mau merawat dan membesarkan saya sedari saya dilahirkan ke dunia ini hingga tumbuh jadi orang dewasa.
Jevaro Pratama.
Itu adalah nama anak saya. Kami dan semua orang disekitarnya biasa memanggilnya Jeje. Karena dia sendiri yang menciptakan nama panggilan itu. Saat pertama kali saya mengajarkan untuk menyebutkan namanya sendiri dia selalu menyebut nyebut "Jeje! Jeje!" begitu celotehnya. Ah ya, sekarang anak saya itu sudah besar dan sudah jadi remaja smp yang semakin tumbuh tinggi. Jika saja waktu itu saya tidak memasukannya ke sekolah setahun lebih awal, mungkin sekarang dia masih jadi anak sd.
Kalau ditanya bagaimana rasanya pertama kali saya mengetahuinya waktu itu, saat saya akan segera menjadi orangtua. Satu yang saya ingat, saya terlalu takut tidak bisa jadi figur orangtua yang benar benar baik. Yang saya pikirkan saat itu tentunya saya hanya ingin jadi sosok ibu yang dia butuhkan. Jadi orangtua artinya tidak akan ada jeda atau istirahatnya meskipun sehari saja, karena sampai kapanpun jika sudah menjadi orangtua sungguhan maka akan sampai mati tugasnya.
Saya jadi sering mengeluh karena ini itu banyak hal. Saya bilang pada Brian kalau jadi gampang capek, diawal awal memang belum terlalu terasa beratnya. Tapi perlahan lahan rasanya hanya untuk dibawa berjalan saja berat sekali. Banyak sekali perubahan dalam diri saya saat itu, juga kesusahan kesusahan lainnya yang terlalu banyak jika harus disebutkan. Tapi tidak apa, saya bangga pada diri saya sendiri.
"Buseeet, ibu bentar lagi udah mau jadi ibuk ibuk ya? Ini kapan buk brojolnya?" Ucapnya sambil melihat kearah perut yang semakin membesar itu sambil kemudian mengambil duduk disebelahnya karena ingin sedikit mengamati lebih dekat
"Bacot lo ah! Masih lama gue lahiran."
"Cepet banget tiba tiba udah segede gini, apa kita aja yang udah lama gak ketemu?"
"Lo aja sok sibuk. Eh, Haru kenapa tadi gak diajakin sih? Gue kangen banget udah lama gak ketemu tuh anak."
"Telpon gue aja gak diangkat dari semalem. Gue samperin ke kantornya juga gak mau, katanya lagi ribet banget sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner Hidup
FanfictionOrang bilang yang sempurna itu tidak ada. Tapi Brian adalah perwujudan dari kata sempurna yang saya definisikan sendiri, ah cinta memang buta. Ini tentang Brian yang lebih dari kata 'kebagusan' untuk seorang yang tidak 'sebagus itu'. Brian yang sela...
