4

40 11 0
                                    

"Kisah itu berlanjut di guci ini" Ucapnya, "Guci ini tidak memiliki nama yang spesifik, tapi orang-orang menyebutnya, guci kemenangan. Banyak diantaranya yang menafsirkan gambaran di guci ini merupakan lanjutan dongeng di prasasti ilgob wangja tadi. Baiklah, aku akan melanjutkan kisahnya" Ia menghela nafas dan menyentuh sebuah gambar yang berada di mulut guci.

"Tidak sulit menebak apa yang terjadi berikutnya, dengan 3 kerajaan yang sudah tumbang, kerajaan negri-negri jauh pun membalik punggung mereka dan balas menyerang 3 kerajaan tersisa. Lelah setelah kehilangan banyak sumber daya dari peperangan sebelumnya, 3 kerajaan itu tumbang bersamaan. Kerajaan negri-negri jauh pun hanyut dalam euforia kemenangannya, mereka melupakan satu lagi kerajaan yang masih berdiri gagah di kaki gunung negara itu, kerajaan timur laut. Tidak rela melihat 6 kerajaan milik orang-orang yang dulu sudah ia anggap saudara jatuh ke tangan musuh, ia pun menyusun rencana. Demi menyelamatkan negara dan orang-orang di dalamnya ia harus berupaya lebih keras. Musuhnya sangatlah licik, jadi strategi perangnya pun harus lebih licik lagi. Serangan pertamanya sangatlah sukses, kerajaan negri-negri jauh tidak menyangka serangan dan terpukul cukup dalam. Padahal itu sebuah gerilya yang sangat sederhana, tetapi dilakukan di saat yang sangat tepat. Masih dalam keadaan kaget, kerajaan timur laut pun menyerang mereka lagi, sekarang dengan membawa seluruh arteleri lengkap dan persenjataan berat. Pangeran kerajaan timur laut sendiri yang memimpin serangan tersebut. Hanya dalam waktu 2 minggu, kerajaan negri-negri jauh tunduk pada kekuatan kerajaan timur laut. Mereka menyerah dan diusir secara tidak terhormat. Negara pun berterimakasih kepada pangeran kerajaan timur laut dan sepakat mengangkatnya menjadi raja mereka. Konon katanya, itu lah permulaan dari seluruh dinasti di korea" Ann sok menutup kisah itu dengan senyuman.

"Itu kisah yang sangat indah" Aku mengembalikan senyumnya, "Bolehkah aku menyentuh gucinya juga?" Tanyaku.

Ann sok tertawa ringan, sepertinya itu ciri khasnya, "Tentu saja tuan putri, apa saja untukmu" Aku tersenyum canggung atas panggilannya barusan dan menjulurkan tanganku dan menyentuh guci itu.

Tiba-tiba, aku merasa seperti ada getaran kecil di leherku. Refleks aku melepaskan tangan dari guci tersebut. Setengah karena kaget dan setengah karena geli. Apakah aku membayangkannya? Tanganku pun beralih menyentuh liontin mawarnya. Kalung itu tidak berubah posisi. Mungkin itu hanya persaanku saja.
"Mari, Lee Winter, aku tunjukkan hal-hal unik lainnya" Ucapan Ann sok membuyarkan lamunanku.

"Ah iya Ahjumma, maaf aku melamun tadi" Aku segera mengikutinya yang sudah berjalan beberapa langkah.

"Melamun? Wah, sangat tidak baik bagi wanita seumuranmu untuk melamun, Lee Winter" Ia tertawa ringan dan berbelok ke kiri "Ah iya, ini lorong favoritku juga" Racaunya, "Omong-omong Lee Winter, aku menyukai kalungmu"

---

Aku kembali ke kantor tepat saat waktu istirahat selesai. Tanpa menunda lagi, aku menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Pergi ke pameran tadi sangat memberiku semangat baru. Tak terasa pekerjaanku selesai lebih awal. Aku pun merentangkan tangan, sebuah senyum lebar menghiasi wajahku.
"Akhirnya selesai jugaa!"

"Omo! Cepat sekali Winter-ah!" Ja soo memandangku tak percaya, aku menoleh ke arahnya dan melihat ada 3 kaleng soda lagi diatas meja kerjanya.
Aku mengedikkan bahu, berdiri dari kursi dan melakukan peregangan sedikit. Perlahan, aku melangkah ke meja Ja soo dan mendorong jatuh semua sodanya ke tong sampah, "Seharusnya kau ikut aku tadi, pameran itu merupakan pelampiasan yang menyenangkan" Ucapku seraya mulai membereskan meja kerja, pura-pura tidak mempedulikan muka Ja soo yang tidak percaya atas perlakuanku terhadap soda-sodanya.

Finding My Way To You || Project Hypen (-) Jake SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang