Setiap sepekan sekali Lian selalu mengunjungi kakaknya. Hari ini sebelum pergi bekerja ia mampir ke salah satu tempat pemakaman di Jakarta. Membawa bunga mawar di tangannya, Lian menuju pemakaman kakak laki-lakinya.
Ia berdiri di depan makam bertuliskan Liam Sydney.
Lagi-lagi terdapat bunga tulip merah di maisan tersebut. Sejauh ini ia belum tau siapa yang mengirimkan bunga tersebut. Yang Lian tau, dia perempuan. Bapak penjaga pemakaman yang memberitahu dirinya. Bukan cuma sekali dua kali, ini sudah yang kesekian kalinya apalagi belakangan ini orang itu semakin intens mengirimkan bunga untuk mendiang kakaknya.
Lian berjongkok, meletakkan setangkai mawar yang ia bawa. Kemudian kedua tangannya terkatup. Lalu ia memejamkan matanya, mulai melantunkan doa.
Membuka matanya, setitik air bening mengalir melewati pipinya. “Harusnya aku ikut kalian, seharusnya saat itu aku ikut Mama dan Papa pergi,” ujarnya lirih.
Ia menyeka air matanya yang merembes. Hidungnya mulai memerah dan berair karena menangis. Seandainya saat itu Lian memaksa ikut, akan lebih baik jika dirinya juga mati bersama orangtuanya. Dengan begitu ia tidak akan hidup sengsara seperti sekarang seorang diri.
Orang-orang yang dia sayangi semuanya pergi.
Dan jika seandainya Liam masih hidup, dirinya pasti tidak akan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Liam sangat menyayanginya, dia pasti tidak akan membiarkan Lian bekerja keras karena laki-laki itu yang akan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Lian berdiri, tak ingin berlarut dalam kesedihan. Semakin lama dia berada di depan makam kakaknya, semakin besar pula keinginannya untuk mengakhiri penderitaannya. Ia ingin tidur di sebelah kakaknya, atau di tengah-tengah orangtuanya juga tidak apa-apa.
Mata coklatnya menatap bunga tulip di atas maisan. Kedua tangannya kembali terkatup. “Siapapun kamu, terima kasih sudah mendoakan kakakku. Semoga Tuhan selalu memberkatimu, dan semoga suatu saat kita bisa bertemu sehingga aku dapat berterima kasih secara langsung kepadamu.”
Setelah itu Lian berbalik, menjauh dari makam kakaknya dan meninggalkan tempat pemakaman.
***
Gwen berdecak menatap ponselnya, teleponnya tidak diangkat oleh Vanessa. Kemana dan apa yang dilakukan wanita itu sampai pesannya tidak dibalas dan panggilan teleponnya juga tidak diangkat.
Menghela napas berat, mendadak kepalanya pening. Kontras dengan hatinya yang berdenyut nyeri. Beranjak dari kasurnya, ia berjalan keluar mengambil kaleng bir di kulkasnya. Dia butuh air keras tersebut untuk menenangkan pikirannya.
Sambil membuka kaleng bir nya, Gwen berjalan lalu mendudukkan pantatnya di sofa. Seketika tenggorokannya terasa terbakar begitu ia meneguk minuman tersebut. Menyenderkan punggungnya, pandangan matanya menatap sekeliling rumahnya, tidak ada orang lain selain dirinya. Tidakkah rumah itu terlihat begitu sepi dan dingin?
Ia hanya menginginkan Vanessa datang dan menemaninya. Mengakhiri rasa kesepian yang dia rasakan. Gwen menatap ponselnya sejenak kemudian menelepon kekasihnya untuk yang kesekian kalinya. Tetap tidak ada jawaban. Gwen kembali menenggak minuman kerasnya sampai habis sekaligus.
“Akh!” Keningnya spontan berkerut menahan sensasi panas yang menusuk hidungnya. Tenggorokannya juga semakin terbakar, panas dan perih ia rasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afeksi
RomanceAfeksi, dimana kasih sayang serta kenyamanan membuatku tidak menyadari dengan siapa aku jatuh cinta. *** Bagi Lian, tidak ada yang lebih menyakitkan dari kematian orangtuanya. Tidak setelah sang kakak meninggalkan dunia 5 tahun lalu. Dalam sekejap d...
