Gwen mengendarai motornya memasuki kawasan peternakan dekat area persawahan. Lian turun setelah Gwen memarkirkan kendaraannya, sambil menggendong tas ransel di punggungnya.
“Pakai maskernya.” Gwen mengambil alih tas dipunggung Lian, membukanya mengeluarkan masker dari dalam lalu menyerahkan satu pada Lian dan memakai sisanya.
Mereka masuk ke dalam peternakan, bersalaman dengan pemilik peternakan tersebut. Beliau mengarahkan Gwen dan Lian ke dalam sebuah kandang babi, dimana di dalam kandang tersebut hanya berisi satu ekor babi yang sedang terbaring sakit.
“Sudah berapa lama dia seperti ini?” tanya Gwen seraya berjongkok memperhatikan hewan tersebut. Di badannya terdapat luka lumayan lebar yang sepertinya sudah membusuk.
“Kemarin kondisinya semakin parah,” jawab Pak Rudi selaku pemiliknya.
Mengangguk mengerti, Gwen mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya kemudian memakaikan. Dia arahkan stetoskop tersebut ke jantung babi, merasakan apakah detak jantungnya masih normal atau tidak.
“Kira-kira kenapa dia bisa jadi seperti ini?” tanya Gwen sambil terus menajamkan telinganya.
“Sebenarnya dia pernah jatuh, terus luka. Karena saya pikir lukanya akan mengering dengan sendirinya, jadi saya biarkan. Ternyata semakin hari justru semakin parah,” jelas Pak Rudi.
Dari mana asalnya informasi yang mengatakan luka bisa sembuh tanpa diobati. Beginilah jadinya kalau berternak tapi minim pengetahuan. Bukannya untung, peternak jutsru dapat rugi besar.
Gwen mengeluarkan sarung tangan dan memakainya, kemudian mengeluarkan plastik berisi suntikan yang di dalamnya ada cairan bening, kapas dan sebotol alkohol. Setelah membersihkan salah satu titik di kulit babi menggunakan kapas yang berlumuran alkohol, Gwen mulai menyuntikkan bius pada babi tersebut.
Lian hanya berdiri memperhatikan.
“Lihat baik-baik. Jaga perut kalian agar tidak muntah.” Tiba-tiba Gwen memberi peringatan.
Lian dan Pak Rudi semakin memfokuskan penglihatan mereka sambil menerka-nerka. Menanti apa yang akan dilakukan Gwen setelahnya. Wanita itu mengeluarkan sebotol Betadine kemudian menuangkan cairan tersebut langsung pada luka di badan babi. Sedetik kemudian belatung dengan jumlah banyak keluar dari sana. Berjatuhan di dekat kaki Gwen.
Lian sontak menutup mulutnya yang sudah terbungkus masker. Keningnya mengernyit menahan gejolak di dalam perutnya karena melihat makhluk menjijikkan di depannya yang jumlahnya sangat banyak.
Tangan kanan Gwen menekan pinggiran luka tersebut, mendorong pelan supaya belatung yang keluar semakin banyak. Itulah kenapa dia membius babi itu, supaya saat dia meneteskan obat luka, hewan tersebut tidak merasa kesakitan. “Babi ini masih bisa diselamatkan, tapi setelah dia sembuh sebaiknya jangan dikonsumsi. Bagaimanapun juga dagingnya sudah pernah membusuk.”
Pak Rudi mengangguk tanda mengerti. Sebagai peternak babi dia sudah kehilangan satu kekayaannya.
Gwen menoleh, dibalik masker ia tersenyum melihat wajah jijik Lian. “Bagaimana? Jadi dokter hewan tak seindah kelihatannya, 'kan?”
Lian mengangguk.
“Kalau kamu mau jadi veterinarian, kamu nggak boleh gampang jijik.” Kemudian dia tertawa karena Lian bergidik setelah mendengar ucapannya.
“Bisa tolong ikat rambutku? Karet nya ada di tas,” pinta Gwen kemudian.
Lian menurut, mengambil karet rambut lalu menguncir rambut Gwen dengan rapi. “Bisa kamu senterin ini juga? Senternya ada di dalam.”
Lagi-lagi Lian menurut, melakukan perintah Gwen. Dia menyalakan senter tersebut dan terdiam. “Jangan bilang ini untuk itu.” Mata Lian menatap ngeri pemandangan di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afeksi
Storie d'amoreAfeksi, dimana kasih sayang serta kenyamanan membuatku tidak menyadari dengan siapa aku jatuh cinta. *** Bagi Lian, tidak ada yang lebih menyakitkan dari kematian orangtuanya. Tidak setelah sang kakak meninggalkan dunia 5 tahun lalu. Dalam sekejap d...
