Kembalinya Lian disambut oleh tangisan Mom. Beliau langsung menangis sambil membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Lian membalas pelukan wanita tersebut sambil merasa terenyuh. Tak hanya Mom, dia juga melihat Reksa dan Adell di rumah itu. Tidak menyangka dirinya membuat banyak orang khawatir.
Mom melepas pelukannya, menatap Lian dengan sorot cemas. “Ini kamu kenapa? Ya Tuhan...” Mom menyentuh kening dan pipi Lian secara bergantian dimana terlihat bekas luka di sana.
“Kamu juga sangat pucat.” Mom menuntun Lian untuk duduk di sofa. Adell langsung mendekat dan memeluknya. Sebagai teman yang baik dia berusaha menenangkan Lian. Reksa juga duduk di sebelah Adell, menatap Lian dengan sorot yang tak kalah khawatir.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Adell.
Lian mengangguk lemas. “Hanya merasa pusing.”
Mom pergi mengambil obat-obatan. Ponsel Gwen berdering membuat Lian menoleh ke arahnya.
“Halo Niel, ada apa?” tanyanya setelah mengangkat panggilan dari pemuda itu.
“Ke kantor polisi sekarang?” Gwen tersenyum lembut ketika matanya bersitatap dengan Lian seraya mendengarkan penjelasan Daniel.
Mom datang membawa kotak berisi obat-obatan. “Ada apa, Gwen?”
“Mereka butuh saksi tambahan Mom, Lian sebagai korban tidak bisa datang ke sana sekarang karena kondisinya sedang sakit.”
“Saksi tambahan? Apa tiga orang cukup? Kamu temani saja Lian di sini, biar Mom dan mereka yang ke kantor polisi.” Mom menaruh kotak yang ia bawa di meja sambil menatap Adell dan Reksa bergantian mengisyaratkan ia bisa datang ke kantor polisi bersama mereka.
“Sebaiknya jangan libatkan anak-anak, Mom,” ujar Gwen setelah mematikan teleponnya.
“Nggak apa-apa, Dok.” Reksa menyahut seraya berdiri. “Kami juga ingin membantu.”
Gwen menatapnya agak lama sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah. Setelah selesai membuat laporan langsung pulang.” Ia menyerahkan kunci mobilnya kepada Mom yang langsung diterima oleh beliau.
“Kalau gitu kamu obati dia,” ucap Mom.
Gwen mengangguk. Kemudian Mom, Adell dan Reksa meninggalkan rumahnya. Mom mengendarai mobil sedangkan Adell dibonceng Reksa menuju kantor polisi.
Sepeninggalan mereka Gwen berjongkok di depan Lian, menatap kekasihnya yang terlihat pucat dengan bekas luka di wajahnya. Tangan kanan Gwen bergerak, sedikit bergetar menyentuh bekas tamparan di pipi kiri Lian.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Aku baik-baik saja.”
“Seharusnya tadi aku menjemputmu.”
Lian menggeleng lemah. “Tidak ada yang tau akhirnya bakal begini.” Benar, siapa sangka jika hari ini gadis itu akan diculik oleh keluarganya sendiri.
“Maafkan aku.”
“Dokter tidak perlu meminta maaf. Aku tidak suka mendengarnya.”
Tetap saya. Meskipun Lian berkata begitu, tidak akan menghilangkan rasa bersalah di hati Gwen. “Aku merasa sangat menyesal.”
“Sudahlah.” Lian memegang tangan Gwen yang ada di pipinya. Menggenggamnya dengan kedua tangannya. Bibir pucat nya bergerak mencium tangan tersebut. “Dokter sudah menyelamatkanku. Aku sekarang baik-baik saja berkat Dokter.”
Hati Gwen bergemuruh. Matanya berkaca-kaca mendengar ungkapan Lian. Ia lantas berdiri, memutuskan tatapan mereka. Gwen tidak bisa melihat lebih lama keadaan kekasihnya yang begitu sangat buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afeksi
RomansaAfeksi, dimana kasih sayang serta kenyamanan membuatku tidak menyadari dengan siapa aku jatuh cinta. *** Bagi Lian, tidak ada yang lebih menyakitkan dari kematian orangtuanya. Tidak setelah sang kakak meninggalkan dunia 5 tahun lalu. Dalam sekejap d...
