Chapter 19 - Kidnapped

4K 544 1
                                        

Bel pulang sekolah berbunyi, Lian berjalan santai setelah berpamitan dengan Adell. Gadis itu sudah dijemput oleh ibunya. Tak sengaja ia melihat Tante dan Om nya—Santi dan Bram—berdiri di dekat mobil. Tanpa pikir panjang Lian menghampiri mereka. Mungkin mereka ada perlu dengannya.

“Tante? Ngapain di sini?”

“Kamu ikut Tante sebentar, ya.” Diluar dugaan Lian, Santi mencengkeram lengannya seraya memaksanya masuk ke dalam mobil. Bram kembali duduk di kursi kemudi setelah istrinya selesai melakukan tugasnya.

Jantung Lian langsung berdebar takut. Bagaimana Santi memperlakukannya barusan, ia tau dirinya akan bernasib buruk. Lian menduga-duga apa lagi yang akan mereka lakukan padanya.

“Kita mau kemana?” Lian memberanikan diri untuk bertanya.

“Kamu bilang rumah itu penting untukmu, 'kan?” Santi balik bertanya.

Lian mengangguk.

“Kamu boleh menempatinya lagi.”

Lian menatap tidak percaya. “Benarkah?”

“Benar. Tapi dengan syarat, kamu harus menandatangani surat ahli waris.”

Surat ahli waris? Apa dia akan mendapatkan warisan yang sudah disiapkan oleh orangtuanya? Lian tidak mengerti. “Apa itu?”

“Jangan banyak tanya. Nurut aja kalau nggak mau kena masalah,” sahut Bram kesal.

Lian menelan ludahnya. Dari apa yang dia rasakan sepertinya bukan hal yang baik.

Mereka sampai di rumah mendiang tuan Ronald. Lian menatap rumah tersebut dengan pandangan rindu. Rumah masa kecilnya yang penuh kenangan bersama orangtua dan kakaknya. Benarkah dia akan menempati rumah itu kembali.

“Ayo masuk.” Bram menarik Lian dengan kasar membawanya ke depan sebuah ruangan yang tertutup berukuran sangat kecil 1x1 meter sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan. Lian menatap takut Bram di hadapannya.

“Dengar,” Bram menatap nyalang. “aku akan serahkan rumah ini kembali padamu jika kamu menyerahkan semua harta warisan dari orangtuamu kepada kami.”

Lian membelalak tidak percaya. “Se-semuanya?” Seberapa banyak warisan itu sampai mereka mau menukarnya dengan rumah yang bagi Lian sudah sangat besar.

“Benar. Kamu hanya perlu menandatangani surat terima dari pengacara ayahmu, lalu kamu serahkan semua uang itu padaku dan kamu akan mendapatkan rumah ini kembali.”

“Aku tidak mau!” Lian menyentak Bram. Dia tidak akan menyerahkan harta yang sudah dikumpulkan oleh ayahnya. “Aku sudah tidak membutuhkan rumah ini lagi!”

Dirinya sudah memiliki Gwen, baginya rumahnya sekarang adalah wanita itu. Dengan segala kenangan yang dia miliki, percuma jika dia menempati rumah itu tanpa adanya seorang pun yang menemani. Lebih baik dia tetap bersama Gwen. Bersama wanita itu jauh membuatnya lebih aman dan merasa nyaman.

Dia harus pulang sekarang. Jangan sampai ia kembali membuat Gwen khawatir seperti hari-hari sebelumnya. “Biarkan aku pulang.” Lian mencoba pergi. Tapi Bram mencengkeram pundaknya membuatnya seketika meringis kesakitan.

Kemudian pria itu menatap tajam Lian seraya berujar penuh penekanan. “Kalau saja aku tidak membutuhkan tanda-tangan mu, aku tidak akan sudi membagi milikku padamu.”

“Milikmu? Semua itu milikku!” Lian berteriak.

PLAKKK!

Bram menampar keras sampai membuat kepala Lian terbentur pintu. Ia sontak berteriak kesakitan. Di belakangnya Santi terlonjak, tidak percaya sang suami melakukan hal senekat itu.

AfeksiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang