Bonus : Bab 2

251 48 23
                                        

"Moh!" seru Yongseung seraya bersilang dada.

"Tap—"

"Emoh! Gak mau!"

"Tapi aku gak nawarin kamu Yongs," jawab Yeonho merasa bingung lalu menyodorkan kembang gulanya pada Kangmin.

Kangmin menerima kembang gula itu ragu. Ini posisi paling krisis yang pernah Kangmin alami selama 4 tahun ia hidup.

Posisinya sekarang Yongseung masih marah ke Kangmin tapi Kangmin takut buat minta maaf. Soalnya kata Yeonho, Yongseung itu akan memaafkan seseorang kalau orang itu udah hafal angka dibelakang koma pi sama tabel periodik unsur.

Otak kecil Kangmin mana paham :(

Yeonho nggak bohong kok soal itu. Itu fakta, soalnya Yeonho pernah ngerasain. Untungnya dia bisa nego sedikit ke Yongseung supaya dia cuma ngehafalin empat angka di belakang koma pi dan dan satu baris tabel periodik Golongan I.

Yeonho waktu itu mikirnya buat apa dia ngehafalin hal-hal gak berguna macam begituan? Ya kalau di Yongseung jelas berguna soalnya dia bercita-cita jadi astronot. Lah kalau Yeonho? Yeonho kan mau jadi penyanyi dangdut masa iya perlu ngafalin angka pi sama tabel periodik? Gak relate bos, begitu pikir Yeonho.

Yongseung sebenarnya cukup baik hati kok. Ingat, cukup.

Dia mau aja beri keringanan kalau orang yang mau minta maaf mau negosiasi. Masalahnya di sini adalah, Kangmin udah parno duluan soalnya Yongseung kalau ngambek serem.

Kangmin makin menciut saja. Waktu mereka semua mengitari pasar malam, dia sembunyi di tengah-tengah Dongheon dan Hoyoung. Pokoknya sebisa mungkin ngejauhin Yongseung lah.

"Mau telur puyuh dadar gak?" tanya Dongheon sumringah ke Kangmin setelah itu ia nengok ke belakang tempat di mana Minchan, Gyehyeon, Yeonho, dan Yongseung lagi gandengan.

Gandengan itu ide Hoyoung. Jadi tangan sebelah kanan Hoyoung gandeng Minchan dibelakang, terus Minchan gandeng Gyehyeon, Gyehyeon gandeng Yeonho, dan Yeonho gandeng Yongseung. Terus tangan kiri Yongseung gandengan sama tangan kiri Dongheon. Sedangkan Kangmin ada di tengah-tengah Dongheon dan Hoyoung.

Dah macam kolam ikan aja bentuk kotak.

"Beliin yang agak mahal dong hyung, masa ngajak jalan tapi gak modal." sahut Minchan menatap stand telur puyuh dadar tak berminat.

Di depan SD Minchan setiap pulang sekolah pasti ada yang jualan telur puyuh yang di dadar pakai cetakan bulat-bulat itu, udah hafal rasanya si Minchan ini. Jadi buat apa gitu lho jauh-jauh ke pasar malam cuma buat beli si telur puyuh?

"Lah itu dua ribu doang, kemana-mana juga masih mahalan ciki Yeonho, hyung." jawab Gyehyeon sambil lepas bentar gandengan tangannya dari Minchan, terus dia ngambil cokelat Ferriro Rochir dari saku baju kodok Yeonho. Yeonho diam aja cokelatnya diambil. Gak masalah sama sekali soalnya dia punya stok banyak di rumah.

Tersentil lah ginjal Dongheon.

Hoyoung terkekeh bentar setelah itu bilang di dalam hati 'Ayo dong terhasut, keluarin jiwa kompetitif lo Heon. Mana tahu abis ini gue bisa makan enak haha.'

"Ya justru karena gue gak ada modal makanya ngajakin kalian ke pasar malam. Beda cerita kalau lagi ada duit, mungkin sekarang kaki lo semua napaknya di lantai marmer swalayan bukan rumput kering ini."

Jawaban Dongheon barusan membuat penonton kecewa.

"Tapi lo kan kaya, Heon. Setahu gue di tanggal tua pun kalau duit bulanan lo abis, Papa lo tetep bakal transfer deh," kata Hoyoung yang ngebet banget pengen makan enak. Soalnya akhir-akhir ini Mamanya cuma masak sayur bayam sama tempe goreng terus. Kasihan perutnya yang sesekali perlu makanan berkualitas.

With the Baby | VERIVERYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang