Tangga Kedua

55 15 34
                                    

   Tubuh Langit telah memar-memar akibat siksaan polisi. Kini lagi-lagi dia diminta keterangan tentang kematian Ardi.

"Jawab sejujurnya, Langit. Kami tidak mau kamu mati di tangan kami!"

"Bapak hanya perlu tahu, tidak ada seorang anak yang tega menghabisi ayahnya sendiri. Saya hanya dijebak, dan sayangnya, ibuku lebih percaya pada pelaku ketimbang putranya sendiri," ungkap Langit sambil melirih.

"Siapa pelakunya?" tanya polisi sambil membawa sebuah balok.

Langit hanya diam, seolah menjebak dirinya sendiri. Ia sudah menganggap Anton sebagai ayah kandungnya sejak ia kecil.

"Kau tak kunjung mengakui kesalahanmu ... dan setiap kali kami menanyakan pelakunya, kau tidak mau menyebutkannya. Sebenarnya kau ini pelakunya atau bukan?!" bentak polisi sekali lagi.

"Bukan."

"Lalu siapa pelakunya kalau bukan kau?!"

Langit hanya diam.

"Pukuli dia sampai mengaku!" perintah polisi pada bawah-bawahannya.

Langit kembali dipukuli dengan balok kayu. Walau kesakitan dan tulangnya hampir patah, tapi dia tak kunjung mengaku.

"APA KAU PELAKUNYA?!"

"Bukan."

"KATAKAN  YANG SEBENARNYA!"

"Aku telah mengatakan yang sebenarnya-benarnya, tapi bapak tidak mempercayainya dan justru memukuliku."

"Lalu siapa pelakunya?" tanya polisi makin geram.

Langit hanya diam khawatir papa tirinya kenapa-napa.

"Langit!" teriak Pelangi.

Polisi dan jajarannya menjatuhkan kayu baloknya masing-masing dan keluar ke dari penjara Langit.

"Silahkan, Mbak!"

Pelangi berjalan lurus tanpa memandang dan membalas sapaan Pelangi.

"Jahat!" bentak Pelangi pada Langit.

"Ya, mau gimana lagi. Wong dijebak!" ucap Langit santai tanpa memikirkan perasaan Pelangi yang khawatir dan kecewa padanya.

"Kenapa ga ngelawan? Apa perlu aku yang lindungin kamu?"

"Enggak. Kan aku ga minta."

"Kamu mikirin perasaan aku, gak? Aku kecewa, aku khawatir, aku tak...."

"Kalau aku cinta kamu!" ungkap Langit.

"Aku ga bercanda!"

"Aku juga ga lagi bercanda, aku lagi cinta kamu!" goda Langit.

"Langit, cukup!"

Langit memegang tangan Pelangi dari jeruji-jeruji penjaranya lalu melihat matanya dalam.

"Pelangi, jangan khawatir! Aku baik-baik aja!"

"Aku udah denger semuanya yang terjadi sama kamu. Gimana ga sedih? Gimana ga khawatir? Gimana ga kecewa? Aku nanya,
Cewek mana yang tega pacarnya dituduh dan dipenjara? Ga ada, 'kan?" oceh Pelangi.

"Mbak, untuk masa kunjungannya sudah habis!" tutur polisi.

"Pak, semenit lagi, boleh? Dan, bolehkah saya keluar sebentar untuk berbincang sejenak dengannya?"

"Baiklah!"

Polisi membuka penjara Langit dan mempersilahkan Langit keluar. Kemudian, Langit mengalungkan tangannya ke leher Pelangi.

Tak Setinggi LangitWhere stories live. Discover now