Dengan bantuan Elang, Awan dan Sammy, akhirnya Nabas terangkat ke ranjangnya lagi. Pelangi hanya bisa menangis dan mendekati Nabas yang masih lemas itu.
"Tante minta tolong kalian jagain Nabas, ya! Tante mau masakin mie buat kalian dulu. Soalnya kelihatan pada lemes juga kayak Nabas, nih," kelakar Shava.
"Budhe," panggil Nabas dengan nada melas.
"Eh? Ponakannya Budhe belum tidur, toh? Mau apa, Sayang?"
"Ngepeng!"
"Eh, Nabas badannya sudah ga panas lagi, loh! Kenapa? Mau manja-manjaan sama Budhe? Oke, tapi Budhe siapin makan dulu buat temen-temennya Nabas, okay?"
"Emoh!"
"Eh, kok emoh loh? Malu loh dilihat temen-temennya, hihh! Masa ngepeng di depan teman-temannya?" tanya Shava sedikit menggoda.
"Ngapain malu? Kemarin aja mereka biasa aja pas aku dikata-katain dosen, malah dibilang kayak anak kecil juga sama salah satu dari mereka. Ngapain malu, 'kan?" sindir Nabas sambil melirik Pelangi.
Mereka menunduk, tapi Elang berusaha menengahi semua.
"Em, Tante. Kayaknya Nabas butuh waktu sendiri, deh. Dan iya, yang bisa bujuk Nabas kayaknya cuma Pelangi, iya, 'kan, Ngi?"
"Sok tahu kamu, El. Aku masih mau ngomong sama Budhe, kok. Lagian aku bukan anak kecil, ga perlu dibujuk sama orang paling dewasa," jawab Nabas sambil mengambil lengan budhenya.
"Bas, kayaknya bener deh yang dibilang Elang. Kamu itu perlu waktu sendirian." Shava seolah tahu bahwa Nabas selama ini sedang bermasalah dengan Pelangi selain juga ada masalah dengan dosennya.
Mendengar budhenya yang meminta, Nabas akhirnya mulai luluh. Dilepaskannya lengan budhenya, kemudian membiarkan mereka pergi satu per satu, kecuali Pelangi yang diminta Elang menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Nabas.
Nabas dan Pelangi saling diam.
"Ga capek berdiri?" tanya Nabas, membuka obrolan keduanya.
"Eh, pinjem kursinya, ya!" Pelangi menyeret kursi untuk duduk di depan ranjang Nabas.
Mereka diam lagi.
"Mana aja yang sakit? Boleh aku pijitin?" tanya Pelangi sedikit ragu.
"Kalau hatiku yang sakit, bisa dipijitin?" Nabas bertanya balik, sembari memperlihatkan luka di lututnya karena kecelakaan kemarin.
"Apa susahnya sih ngaku?" protes Pelangi sambil memijat kaki Nabas.
"Susah."
"Apanya?"
"Buat melihat kamu khawatir."
Pelangi tersenyum salah tingkah.
"Tapi harus banget ga ngaku?"
"Ga juga."
"Aku minta maaf."
Nabas menghela napas, "Kamu ga salah. Yang kamu bilang sudah bener, kok. Aku memang seperti anak kecil, Ngi."
Pelangi kembali muram,"Ngi?"
"Kenapa? Nama kamu Pelangi, 'kan?"
"Iya, sih ... tapi--"
"Oh, itu. Bukannya semuanya harus dibiasakan?"
"Apanya yang dibisiakan?"
"Ya, berakhirnya hubungan kita."
Pelangi melepaskan tangannya dari kaki Nabas.
"Maksudnya?"
"Kita sudah berakhir, 'kan, Ngi?"

YOU ARE READING
Tak Setinggi Langit
RomanceBumi akan tetap jadi bumi walaupun memanjat dengan cara apapun. Begitupula yang harus menjadi takdir Nabastala yang tidak akan bisa menjadi seperti yang diharapkan Pelangi.