Tangga Pertama

114 25 50
                                    

••Jakarta, 2019••

   Tangannya penuh tepung basah yang dipaksa untuk melukis ornamen di atas kue buatannya.  Disekanya keringat dengan lengannya, setelah itu tersenyum puas seusai semua jadi.

"Wah, cantik banget kuenya, kayak yang bikin!" puji Arga sambil tersenyum.

"Terima kasih, Papa. Hari ini Langit ulang tahun, Pa ... makanya Pelangi mau bikinin kue yang terindah untuknya," ungkap Pelangi.

"Oh iya? Tolong ucapkan selamat ulang tahun juga untuknya, ya!"

  Dengan motor Scoopynya, Pelangi nampak repot dengan teleponnya yang sedang menghubungkannya dengan sahabatnya.

"Di mana, Wan? Gua bingung, anjir!" umpat Pelangi kesal.

"Kan udah gua share lock! Dasar ye, semua cewek sama aja!" hina Awan.

"Tarik omongan lu atau gua tarik jangkun lu?! Gua beda ye, nanya aja ama Langit nanti!"

"Ye, di antara lima mantan gua, semua putus karena ga bisa baca Maps. Dan sekarang, sahabat gua sendiri ga bisa baca Maps? Ish!" keluh Awan.

"Ih, ketimbang curhat mending lu fotoin lokasinya, dah! Keburu rusak nih kue. Buruan Rawana, anak ganteng seantero Kota Metropolitan!" oceh Pelangi.

"Hadeh! Iye-iye!"

    Hari ini, Langit berulang tahun. Tetapi di wajahnya, ada rasa terdalam yang tak bisa diungkapkan. Itu seperti rasa cemas dan sedih, di mana Leonardo De Vinci sendiri tak mampu melukiskannya.

"Matiin lampunya, Wan!" perintah Pelangi sambil kerepotan membawa kue.

"Sekarang?"

"Nunggu ayam punya gigi! Ya sekarang dong, Rawana! Gua tumbalin beneran ke Sri Rama kejang-kejang, lu!" ancam Pelangi.

𝘿𝙚𝙥

Lamunan Langit hilang ketika seisi ruangannya gelap. Ia langsung menarik nafas berat, mencari ponselnya dan berusaha menyalakan senter di ponselnya.

"Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun, Langitku ... semoga panjang umur!"

𝙏𝙪𝙪𝙪𝙪𝙩𝙩𝙩

"Astaga kalian, toh! Gua kira lampu mati beneran!" Langit mengelus dadanya lega.

"Selamat ulang tahun ya, Sayang! Ssmoga panjang umur, sehat selalu dan selalu ada buat aku. Makasih atas 2 tahunnya, ya ... sangat berharga!"

  Untuk merayakan ulang tahunnya saja, kekasih dan sahabatnya memberikan rela menyewakan sebuah bar untuknya. Di sana teman-teman Langit ada, bermain dan bersula alkohol bersama. Tapi itu tidak dilakukan oleh Langit maupun Pelangi, keduanya duduk di kursi di mana di sana tidak terlalu ramai seperti kursi lainnya.

"Kuenya enak?" tanya Pelangi sambil memainkan jambang Langit.

"Enak, bikin sendiri?"

"Iya."

"Makasih ya!" Langit mendekap Pelangi erat-erat, membiarkan Pelangi mendapat kehangatan yang istimewa.

Tiba-tiba polisi datang ke bar. Bukan untuk menangkap mereka, melainkan seseorang saja yang akan ditangkap polisi.

"Dia, Pak! Segera tangkap dia! Saya sudah muak melihat wajahnya!" teriak Shava sambil menunjuk Langit dengan penuh kepuasan.

"Tante Shava? Apa salah Langit? Kenapa tante membuat Langit ditangkap oleh polisi?" tanya Pelangi polos.

Tangan Langit diberi kerangkeng lalu ditarik ke luar. Dengan nafas berat, ia mengikuti alur dari polisi.

"Apa yang terjadi, Tante? Kenapa tante...."

Tak Setinggi LangitWhere stories live. Discover now