Tangga Ketiga

39 10 25
                                    

   Dua tahun kemudian, semua keadaan mulai berubah. Kini Pelangi menjadi mahasiswa di Universitas Indah Permana, yang merupakan kampus swasta bergengsi di Jakarta.

"Pelangi Buwana dan Pak Arga, silahkan masuk!"

Pelangi dan Arga masuk beriringan ke ruang dosen Pelangi.

"Pagi, Pak Arga!" sapa ibu dosen.

"Pagi, Ibu."

"Saya sedikit berat mengatakan ini, Pak. Pelangi anak yang pintar dan rajin. Tapi, karena dia tidak pernah fokus saat pembelajaran, ia terpaksa harus mengulang satu semester lagi," jelas Bu Dosen.

Bukannya marah, Arga malah tersenyum dan mengelus kepala Pelangi.

"Maaf, ya, Bu. Saat SMA, Pelangi telah kehilangan cintanya. Hal itu membuat dirinya depresi berat. Tapi saya berjanji, akan mendidik dia lebih sabar lagi. Saya yakin, putriku bisa melewati ini. Terima kasih, ya, Bu."

Kembali ke satu semester memang begitu menyakitkan bagi Pelangi. Rupa-rupanya rasa sakit itu juga dirasakan oleh Shava. Kini dia harus menjadi orang tua tunggal untuk Melisa yang jelas-jelas menaruh kebencian yang tak terhitung lagi skalanya.

"Selamat sore, Melisa. Gimana sekolahnya? Seru?" tanya Shava ketika Melisa pulang sekolah.

Melisa tidak menjawab. Ia hanya melenggang pergi dan masuk ke kamarnya.

Shava langsung menangis di tempat. Belum luka penyesalan sembuh, kini luka dibenci anak sendiri menggores hatinya jua. Shava benar-benar butuh kawan untuk mencurahkan isi hatinya. Akhirnya ia menelepon Argita.

Saat itu Argita sedang menonton berita selebriti. Karena membahas sinetron kesukaannya yaitu, Ikatan Pocong.

"Mas Lebaran sama Mbak Angin cocok banget, sih!" Argita dengan gemasnya ia mencubit pipi Aria Talibun di televisi.

Dreeet ... Dreeet ....

"Ada aja yang nelepon, hadeh-hadeh. Oalah, kakak ipar. Oke, aku angkat!"

"Hallo, Gita!" seru Shava.

"Hallo, Kak. Eh, kakak kok kayak sedih gitu nada ngomongnya?" tanya Gita khawatir.

"Melisa bener-bener ga mau ngomong sama aku, Git. Sakit hati aku!" rintih Shava.

Argita pribadi bingung dengan perkataan Shava. Dia kasihan, tapi dia juga masih kesal dengan kelakuan Shava sebelum kematian Langit.

"Kakak yang sabar, ya! Kakak harus kuat untuk Melisa, oke!" Hanya itu rupanya yang bisa diucapkan Argita.

Sementara itu, di kamar atas, ada Nabastala, putra Argita sedang melihat timer ponselnya.

"Oke, 10-9-8-7-6-5-4-3-2-1-0! Jam 15:00!" seru Nabastala.

Ia langsung meloncat dari rebahannya. Lalu duduk di kursi komputernya.

"421XXXXXXXX!" gumamnya sambil mengetik nomor ujiannya pada label yang sudah dihafalkannya luar kepala.

"UGM, AKU DATANG!" teriaknya, padahal hasil tesnya belum keluar.

"GA MASUK LAGI?! TIDAK!" teriak Nabas depresi.

"Bener-bener ya UGM! Masa seorang Nabastala Buwana ditolak 2 kali? Mau ditaruh di mana muka aku?! Sial!"

Argita yang mendengar teriakan putranya langsung berlari ke atas.

"Kenapa, Bas?" tanya Argita khawatir.

"GA MASUK SBMPTN LAGI, BU!" teriak Nabastala di depan ibunya langsung.

"Syukurlah! Doa ibu kekabul!" Argita tersenyum dan mengucapkan syukur pada Tuhan.

Tak Setinggi LangitWhere stories live. Discover now