Malam hari telah tiba, seperti biasa, Shava menyiapkan makanan untuk keluarga kecilnya.
"Belum datang ya si Nabas?" Shava celingukan mencari Nabas sembari membalikan piring.
"Ma, Melisa makan dulu, ya!" izin Melisa.
"Oh, iya, Nak. Silahkan, ya!" Shava tersenyum kepada Melisa, lalu memainkan ponselnya sembari menunggu kepulangan Nabas.
"Hooaaamm!" Nabas baru pulang dengan wajah lesu dan tertekan.
"Eh, Nabas? Sudah pulang? Sini, makan dulu!" ajak Shava sambil melambaikan tangannya ke Nabas.
"Ih, mandi dulu!" sela Melisa sembari menatap jijik wajah lesu Nabas.
"Halah, aku ga bau kok!" bela Nabas lalu duduk dengan santai di samping Melisa.
"Ga bau dari mananya? Kotoran sapi aja sungkem sama baunya Mas Nabas!" sindir Melisa.
"Gapapa, yang penting guwanteng!" Nabas menaikan leher bajunya dengan sombong, sehingga aromanya semerbak ke seluruh ruangan.
"Mas Nabasss! Bauuuu!" Melisa semakin gemas lalu mencubit Nabas sambil menggetarkan gigi gerahamnya.
"Sakit!" Nabas memperlihatkan tatapan elang miliknya.
"Sudah, Nabas--Melisa ... makannya dihabiskan segera! Mama mau tidur lebih cepat, nih!" omel Shava.
"Hayo, kamu diomelin!" Nabas memasang wajah paling menyebalkan di mata Melisa.
"Oh, iya, Bas ... Pelangi tadi nangis nyariin kamu, loh!" lapor Shava, berharap keponakannya memberikan respon bahagia seperti biasa.
"Terus? Ak-hu harus jo-ghet di at-has monas, gitu?" jawab Nabas sambil mengunyah.
"Eh, kalau lagi seneng itu ga usah ditutup-tutupi," goda Shava.
"Biasa aja. Dia itu nangisin aku karena dia kangen Mas Langit, bukan kangen aku." Nabas menatap Shava datar.
"Hahahaha, Mas Nabas itu korban perasaan!" ledek Melisa puas.
"Diem kamu!" bentak Nabas dengan emosi.
"Uluh-uluh-uluh, makanya, jangan kegeeran! Sakit, kan?! Kak Pelangi itu idamannya ga kayak Mas Nabas, tapi Kak Langit! Ga ada dalam sejarah, Pelangi sama Nabas ... yang ada, Pelangi sama Langit! Wlee!" cerocos Melisa.
"Tahu berita baru, enggak? Kemarin aku nonton di televisi, kakak sepupu membunuh adik sepupunya karena adik sepupunya meledek kakak sepupunya." Nabas berusaha menakut-nakuti Melisa.
"Nyeh-nyeh-nyeh! Bilang aja kalau hatinya panasss!" Melisa malah tak merasa takut dan tak lelah meledek Nabas.
"Aku ini lagi kecapekan loh, ya! Jangan bikin emosi, toh!" Nabas kali ini benar-benar marah.
"Ahay, lagi marah nih, badutnya Kak Pelangi!"
"MELISA!" Nabas berdiri lalu memukul meja dengan emosi.
"Nabas, sudah, Nak!" Shava berdiri dan berjalan menuju keponakannya.
"Ga mau, Budhe! Aku ini capek, kepalaku pusing! Aku lagi males bahas Pelangi, tapi dia malah keenakan meledeknya! Dikira yang punya perasaan dia doang, ngapa!" lapor Nabas dengan emosi.
"Mel, jangan gitu sama Nabas, toh!" tutur Shava.
"Ga usah dikasih tahu, Budhe! Aku mau tidur saja." Nabas pelan-pelan melepas tangan Shava yang ada di bahunya, kemudian meninggalkan Shava.
"Nabas, makan dulu, Nak!" teriak Shava lalu menangis lalu menatap Melisa dengan kecewa.
***
Sementara itu, keesokan paginya di kelas, Pelangi masih muram dan wajahnya sedih. Ia masih bertanya-tanya, di mana keberadaan Nabas sebenarnya.

YOU ARE READING
Tak Setinggi Langit
Lãng mạnBumi akan tetap jadi bumi walaupun memanjat dengan cara apapun. Begitupula yang harus menjadi takdir Nabastala yang tidak akan bisa menjadi seperti yang diharapkan Pelangi.