Tangga Kelima Belas

9 2 0
                                    

Nabas dengan panik memasukan ponselnya kembali ke saku. Lalu menatap Pelangi dengan emosi, "Mbak Cantik, kok ngeselin gini, toh? Kalau seumpama Ibu tahu aku pacaran gimana? Bisa-bisa aku diomelin habis-habisan!" cerocosnya.

"Ehem, rupanya ibu kamu melarang untuk berpacaran, ya. Bukankah hari pertama kamu bertemu saya langsung menembak saya?" goda Pelangi.

"I-ya, cuma jangan sampai ketahuan Ibu."

Pelangi tersenyum jahil, "Baiklah, perjanjiannya kita ubah sedikit, deh."

"Apa?" tanya Nabas dengan sedikit emosi.

"Kalau kamu menjauh dari saya, maka akan saya laporkan kepada Ibumu segala kelakuanmu itu. Jika tidak menjauh, maka untuk selamanya itu akan saya rahasiakan. Bagaimana?" tawar Pelangi.

Nabas tersentak, matanya menatap ke segala arah sembari berpikir.

"Satu ... dua ... tiga ... hiiiiiaaakkkhs!" Pelangi dengan gesitnya mengambil ponsel Nabas yang masih belum sepenuhnya masuk ke sakunya.

"Astaga, Mbak Cantik, loh!" Nabas merengek seperti seorang bocah SMP yang kuncritnya disita oleh teman laki-lakinya.

"Mana ya kontaknya Ibunya Nabaassssss...." Pelangi sibuk mencari kontak milik Argita.

Tapi terlambat, Argita menelepon balik. Nabas semakin panik dan keringat dingin, sementara Pelangi langsung menerima telepon dari Argita.

"Hallo, Tanteee!" seru Pelangi.

"Kamu siapa? Bukan pacarnya Nabas, 'kan?" tanya Argita.

Pelangi terdiam, menahan tawa melihat wajah panik Nabas. Pelangi menambah kepanikan Nabas dengan menaikan alisnya dengan cepat.

"Hallo, apa kamu dengar suara saya?" tanya Argita, kali ini lebih keras.

"Hallo, Bu!" teriak Nabas histeris.

"Hallo, Nabas ... dia siapa, Nak?" tanya Argita.

Pelangi mendekatkan wajahnya ke Nabas, membuat nyali Nabas semakin ketar-ketir dibuatnya. "Tante, aku ini pa...."

"Ibu, itu temannya Nabas. Ga tahu, dia jahil banget, Bu. Aku ga pacaran, kok ... beneran!" ucap Nabas cepat membuat Pelangi semakin gemas melihatnya.

"Nabas ga boong, kan?" Argita bertanya lagi.

"O-ra, Bu ... ora," jawab Nabas dengan logat Jogjanya.

"Ya udah, Ibu tutup dulu ya teleponnya. Ini Ibu masih sibuk buat acaranya Bapak. Semangat terus, ya, Bas!"

Akhirnya telepon berakhir, membuat Nabas lega bukan main. Pelangi langsung tertawa terbahak-bahak, sampai semua orang menatapnya aneh. Seru juga mengerjai seorang seperti Nabas.

"Dengerin, ya ... ini itu yang saya rasakan selama ini. Di mana-mana kamu ngaku pacar saya itu membuat saya malu dan panik kayak gini. Gimana, enak, gak?" beber Pelangi dengan tatapan datar, membuat Nabas hanya cengar-cengir.

"Mbak Cantik, aku mau ngomong serius. Begini, kalau kamu ga mau aku menjauh, kita akan seriusin hubungan kita. Kalau kamu ga mau serius, aku akan tetep menjauh. Aku itu sama sekali berniat menghosting kamu ... itu ga Nabaseble banget, loh. Kamu juga ga mau aku basa-basi terus, toh?" papar Nabas sambil menatap Pelangi serius.

"Hubungan serius? Apa maksudmu, Bas?" tanya Pelangi tentu dengan wajah yang serius.

"Ya, serius, Mbak ... aku sama kamu pacaran gitu," terang Nabas.

"Pa-caran? Saya belum siap, Bas," jawab Pelangi terbata-bata.

"Okay, aku menjauh kalau gitu. Ayo kita pulang!" Nabas mengangkat helmnya lalu diselipkan di sikunya.

Tak Setinggi LangitWhere stories live. Discover now