-Tak Setinggi Langit-
-Tangga Kesembilan Belas-Sesudah motor gede Awan mendarat di rumah Elang, dengan cepat Awan turun dan bersiap menghajar. Dengan emosi yang masih menindih, Awan mengetuk pintu rumah Elang yang amat besar itu. Mendengar ketukan yang nampak mengerikan itu, Elang pun pasang badan. Ia lalu membuka pintu dan terkejut siapa yang kini di depannya.
"Apa?" tanyanya santai.
"Lu apain Nabas?" tanya Awan balik dengan garang.
"Nabas? Ga gua apa-apain, kok," jawab Elang tak kalah garang.
Awan mendekati Elang, sehingga Elang hanya mengerenyitkan dahinya hingga terciptalah wajah marah bercampur keheranan. "Tadi gua telepon Nabas, terus dia marah dan marahnya itu ga biasanya! Lu apain dia?!"
Mengetahui bahwa Awan telah menelepon Nabas, Elang semakin meradang, "Elu ngapain telepon Nabas?" tanya Elang membuat Awan kebingungan mencari alasan.
"Itu bukan urusan lu, pertanyaan gua, kenapa Nabas tadi bisa semarah itu?" tanya Awan ulang.
"JAWAB GUA DULU, LU KENAPA TELEPON NABAS SAMPAI DIA EMOSI?!" teriak Elang dengan menggelegar.
"LU YANG BIKIN DIA EMOSI!"
"LU NUDUH GUA?!" Elang menarik kerah baju Awan, membuat rahang Awan mengeras.
"LU YANG NUDUH GUA, ANJIR!" teriak Awan.
"ELU!"
"ELU!"
Awan yang emosi sontak menonjok Elang. Membuat Elang terpental dan punggungnya hampir terbentur dengan meja ruang tamu rumahnya. Elang berdiri sembari memegang bahunya, kemudian berjalan menghampiri Awan.
"Udah main fisik ya, lu?!" ketus Elang lalu menonjok balik Awan. Karena tangan Elang lebih lebar, maka pentalan Awan jauh lebih lebar. Elang dengan bruntal menonjok Awan, membuat Awan juga tak mau kalah dan menonjok Elang pula. Terjadilah pertengkaran besar di antara kedua sahabat itu.
Beberapa warga yang melihat itu langsung berusaha menenangkan keduanya, sementara salah satu dari yang lain menelepon polisi untuk menyelesaikan perkara mereka lebih lanjut.
***
Malam harinya, Nabas bangun-bangun sudah jam makan malam. Ia mendesis kesakitan dan berusaha menutupi lukanya agar tidak diintrogasi lebih lanjut oleh Shava maupun adik sepupunya. Wajahnya yang masih terkantuk ia paksa berjalan ke ruang makan untuk menghibur cacing-cacing di perut.Akhirnya makan malam berakhir, Melisa memutuskan untuk menceritakan salah satu kisah teman sekelasnya.
"Ma, Mas ... tau, gak? Temennya Melisa kemarin barusan ilang, loh! Untungnya udah ketemu," jelasnya.
"Ilang? Kok bisa?" tanya Shava yang rupanya penasaran dengan kisah tersebut.
"Biasalah, kan pergi ke gunung, toh ... terus dia boong, ngakunya nginep ke rumah temennya, bukan muncak. Ilang, deh."
"Em, Melisa jangan gitu loh, ya! Meskipun ke manapun kamu berada, restu orang tua itu yang utama!" tutur Shava membuat Melisa mengangguk paham.
Nabas tersentak mendengar kisah Melisa. Apa karena berbohong dan menghindar perjodohan dengan Marssya sehingga ia tak bisa bersama Pelangi dan semesta seolah mengusirnya dan menariknya kembali ke Jogja?
"Ma, ada pertandingan bola gak, sih? Sini, aku mau nyalain TV dulu." Melisa berdiri lalu mengambil remote televisi.
"Headline news hari ini, dua orang mahasiswa dilaporkan melakukan pertengkaran fisik di salah satu daerah Jakarta."
Sebelum pertandingan, berita utama sudah dimainkan di televisi. Kagetnya serumah itu saat melihat Elang dan Awan memakai baju orange dan tertunduk malu di depan kamera.

YOU ARE READING
Tak Setinggi Langit
RomanceBumi akan tetap jadi bumi walaupun memanjat dengan cara apapun. Begitupula yang harus menjadi takdir Nabastala yang tidak akan bisa menjadi seperti yang diharapkan Pelangi.