Keesokan harinya, Pelangi dikejutkan dengan pesan di WhatsApp dari Nabastala. Semua merupakan rekaman suara.
"Awas kalau ga jelas isinya, gua blokir detik ini juga!" ancam Pelangi lalu membuka salah satu rekaman suara.
"MBAK CANTIK, I LOVE YOU!" teriak Nabas membuat Pelangi langsung malas membuka rekaman suara kedua dan memblokir kontak Nabas.
"MBAK CANTIK, I MISS YOU!" teriak Nabas.
Pelangi kaget bukan kepalang, padahal dia baru saja memblokir kontak bocah ingusan berkedok tubuh orang dewasa itu.
"MBAK CANTIK, I'AM SORRY MY LOVELY BABY!" teriakan Nabas sukses membuat Pelangi merinding.
"Nabas ga senasib sama Langit, kan? Kok udah jadi hantu penasaran? Apa mungkin karena kemarin matanya bener-bener sakit karena odol dan dia meninggal? Serem!" ucap Pelangi bergidik ngeri.
"Pelangi, temanmu di luar itu kenapa, sih?" tanya Agra yang terganggu dengan teriakan Nabas.
"Emang ada, Pa?" Pelangi berjalan keluar, dan terlihat jelas di luar ada Nabas yang berdiri dengan membawa balon Upin-Ipin.
"Astaga, kenapa sih tuh bocah?!" Pelangi tertawa terbahak-bahak.
"Woy, ngapain kamu? Jualan balon?" tanya Pelangi dengan berteriak.
"Turun!" perintah Nabastala.
"Ga mau, wek!" Pelangi menjulurkan lidahnya dengan jahil.
"Kenapa?" tanya Nabas.
"Kamu kemarin ga mau nurut saya, kan? Saya juga."
"Ya udah, biarkan aku menyusul Mas Langit dengan bantuan balon Upin-Ipin ini. Selamat tinggal, Pelangi!"
Mendengar ancaman itu, Pelangi langsung gelagapan turun melihat keberadaan Nabas. Entah apa yang dipikirkan Pelangi sampai-sampai percaya dengan ancaman tak masuk akal dari Nabas. Mungkin dia baru bangun tidur, akal sehatnya belum segar seutuhnya.
"Aaaghhh!" teriak Pelangi saat melihat balon Upin-Ipin ada di depannya.
"Balonnya aja? Nabas mana? Bass! Nabassss! Seneng banget ya kamu buat saya khawatir...."
"Nyapo?" tanya Nabas yang tiba-tiba muncul.
"Dih, ngagetin aja!" Pelangi mengelus dadanya.
"Maaf, ya. Janji ga demo-demoan lagi!" Nabas menunjukan gigi-giginya seperti mengharap sesuatu.
"Bener? Kalau si Elang mau apa-apa jangan diturutin! Kamu ini cuma teman, bukan babu. Fisik dia sama kamu itu beda, kamu harus bisa jaga fisik kamu. Katanya mau buat saya bahagia, kok nyenengin jiwa sendiri ga bisa?" tutur Pelangi seperti seorang ibu yang mengomeli anaknya yang banyak berkorban demi kawannya.
"Uluh-uluh, katanya kalau orang jatuh cinta itu perhatiannya lima kali lebih besar, loh! Perhatian sama dengan cinta, beneran loh!" goda Nabas.
"Ngerayu lagi? Ayo, rayu terus! Satpam, usir di...."
"Eh, jangan toh! Aku dari jam lima pagi mubeng-mubeng nyari rumahmu, loh. Masa kamu tega ngusir gitu aja?" ucap Nabas melas.
"Makanya jangan ngerayu terus. Bikin darting aja!" Pelangi memutar kedua bola matanya kesal.
"Ribut mulu ini mau apa, sih?" tanya Arga.
"Lang--" Argaa mengaga melihat Nabas di depan putrinya.
"Langit? Mas Langit udah meninggal, Pak. Saya Nabas, calon suami Pelangi," jelas Nabas percaya diri.
"Saya Arga, papanya Pelangi." Arga membalas halusinasi Nabas dengan senyuman.

YOU ARE READING
Tak Setinggi Langit
RomansaBumi akan tetap jadi bumi walaupun memanjat dengan cara apapun. Begitupula yang harus menjadi takdir Nabastala yang tidak akan bisa menjadi seperti yang diharapkan Pelangi.