Tangga Keempat

34 7 34
                                    

   Nabastala tercengang karena semakin tahun semakin banyak ornamen yang dibangun di rumah Langit. Ia menaiki 2 tangga di depannya, maju ke depan, lalu menarik nafas panjang.

  Sementara di dalam, Shava dan Argita sedang berbincang-bincang di ponsel.

"Suprisenya sudah datang belum, Kak?" tanya Gita sambil menahan kekehannya.

"Suprise? Kakak ga lagi ulang tahun, loh!" Shava mengerenyitkan dahi sambil fokus memasak.

Tok ... Tok ... Tok....

"Ada tamu? Sebentar, ya, Git ... ada tamu, ini." Shava maju ke depan pintu lalu membuka pintu.

Pletak!

Shava menjatuhkan ponselnya ketika melihat Nabastala ada di depannya.

"Lang-it?" ucap Shava dengan terbata-bata, tangannya gemetar tak karuan sambil berusaha memegang orang di depannya.

"Nabas, Budhe!" ungkap Nabas polos sambil memberikan sekejap cengiran kuda.

"Nabas anaknya Argita?" tanya Shava tak percaya.

"100 lebih 10 untuk Budhe!" seru Nabas, dan orang-orang yang lewat di sana terheran-heran melihat tingkah Nabas.

Nabas menoleh, membuat tetangga kaget bukan main.

"Apa?! Apa lihat-lihat?!" bentak Nabas emosi.

Para tetangga lari sekencang-kencangnya, sampai ada yang terjatuh bahkan ada yang diam di tempat sambil menangis ketakutan.

"Lang-it!" ucap Shava lagi.

"Bukan Mas Langit, Budhe. Nabastala Buwana!" tegas Nabas dengan senyuman.

"I-ya, silahkan masuk, Nak Nabas!"

Nabastala masuk ke dalam, tanpa ada rasa sungkan seperti orang Jogja pada umumnya, Nabas justru duduk di sofa, padahal Shava belum mempersilahkannya. Tidak terbayang jika Argita melihatnya, bisa-bisa ditebas pantatnya itu.

  Tidak hanya itu, Nabas malah selonjoran. Bukannya marah, Shava hanya tersenyum melihat kelakuan Nabas.

"Kak Shava, masih tersambung sama aku, kan?" tanya Argita membuyarkan lamunan Shava.

"I-ya, Git."

"Suprisenya sudah datang?" tanya Argita penasaran.

"NABAS DI SINI IBUKKKK!" teriak Nabas heboh.

"Heh, ga baik teriak-teriak di rumah orang!" bentak Argita.

"Eh, gakpapa, Git. Makasih suprisenya! Ini hadiah terindah yang belum pernah kuterima sebelumnya, Git," ungkap Shava sambil menangis haru.

"Ya udah, Kak. Titip Nabas, ya! Kalau dia nakal, pukul aja dia! Dan, iya ... tolong laporin apa aja yang dia lakukan, ya, Kak! Biar ga aku bayarin kuliahnya!" perintah Argita sekaligus melemparkan ancaman pada Nabas.

"Iya, Git. Aku akan menjaga dia dengan sepenuh hati. Sekali lagi terima kasih!"

"Sama-sama, Kakak. Oh, iya ... aku mau pergi arisan dulu, ya! Nabas, bantu-bantu Budhe! Jangan tidur-tiduran aja!"

Akhirnya, sambungan telepon diakhiri. Shava duduk di depan kaki Nabas, lalu memijatnya.

"Yang sini, Budhe!"

Loh, bukan itu, Budhe ... yang siniii!" Nabas dengan nikmatnya merasakan pijatan Shava.

"Nabas haus? Budhe beliin degan, ya!" tawar Shava.

"Boleh. Esnya mintain yang banyak, ya!" jawab Nabas.

"Siap, anak gantengnya Budheee!"

Melisa hari ini pulang lebih pagi. Ia membuka pintunya dan kaget melihat ada sesosok pria ada di sofanya.

Tak Setinggi LangitWhere stories live. Discover now