Dara, gadis yang sedikit bar-bar layaknya gadis pada umumnya selalu menampilkan sisi ceria tanpa ada yang tahu dia mempunyai trauma yang cukup menyedihkan di masa lalu.
Dan Jeno, lelaki tampan yang ramah pada semua orang namun wajahnya memberi kesa...
ada yang masih nunggu nggak nih? boleh yuk di absen para pembaca yang budiman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"ALHAMDULILLAH!” Jaemin keluar dari kelasnya dengan merentangkan tangan. Menjadi tontonan teman sekelasnya yang menunggu giliran ulangan harian dikoridor.
“JAEMIN JANGAN KERAS-KERAS! TEMEN NYA MASIH BANYAK YANG BELUM SELESAI.”
“Eh Iya bu Maaf!!!” beberapa detik kemudian tubuhnya yang masih berdiri diepan pintu kelas pun terdorong kedepan.
“Jangan mejeng!” Dara keluar dari kelasnya, dirinya langsung duduk disamping Somi yang masih menghafal rumus. Sialnya ulangan harian kali ini diacak, dibagi menjadi dua sesi.
“Yang tadi gue suruh hafalin keluar nggak?” Tanya Renjun dengan santai.
“Boro-boro, njun. Inget soalnya juga enggak gue. Modal belajar yang semalem doang.” Jawab Dara.
“Belajar semalem doang kalo diajarin Jeno mah masuk semua.” Celetuk Somi. Benar, untungnya semalam Dara belajar, minta diajarin Jeno tepatnya karna cowok itu jago matematika. Dara yang nggak suka matematika harus nahan nggak mual pas belajar itu, karna Jeno yang ngajarin aja Dara jadi betah. Padahal mungkin Jeno juga udah abis kesabaran nya.
“Yeh padahal anak sebelah udah ngasih tau jawabannya.”
“Tai anjing! Beda soalnya.” sahut Jaemin depresi. Pasalnya dia udah belajar dari soal-soal yang dikasih kenalanan nya dikelas sebelah namun memang belum rejeki, soalnya berbeda pula.
“Lo nanya soal ke anak IPA kali, ya, Njun?” Tanya haechan, lalu Renjun dengan sewot menjawab.
“Ajegile, nggak ada hubungan nya sama anak IPA yang math nya beda guru. Minggir dah, orang ganteng mau ulangan dulu.” Renjun masuk kelas dengan pedenya. Beda sama Haechan yang udah pasrah akan kehendak tuhan. Kalau somi, masih ada sedikit harapan karna pada dasarnya otak dia sedikit encer.
“Banyak-banyak bismillah, banyakin nyebut nama Allah, chan!” Jaemin menepuk bahu Haechan sebelum masuk kelas. “Gue mau ulangan, bukan uji nyali!”
“Gas, Ra! Waktunya dilan mendua.” Jaemin merangkul Dara berjalan menuju kantin. Kalo lagi begini Dara berasa jadi cewek gelapnya Jaemin. Baru sampai diujung kantin, Dara nggak bisa nyari tempat duduk kosong. Padahal belum istirahat tapi kantin udah padat aja.
“Ada tuh yang kosong, lo pesenin ya, jaem.” Jaemin menacungkan jempol nya lalu pergi untuk memesan bakso.
Pandangan dara tertuju pada beberapa meja didepannya, beberapa murid lelaki mengerubungi meja itu.
“Giselle,” panggil Dara pada seorang yang dia kenal, kebetulan duduk disampingnya. Dara nggak kenal dekat, cuma setau Dara cewek ini satu angkatan dengannya.
“Eh, Kenapa, Ra?”
“Itu kenapa dikerubungi gitu?” Dara menunjuk meja itu dengan dagunya. “Oh, anak baru dikelas gue. Dari Bali, cantik sih.”