Bab 4

929 40 0
                                        

Pagi itu, udara terasa dingin walau matahari sudah naik. Ansel duduk di bangku motor yang terparkir di belakang gedung sekolah, memandang lapangan basket dari jauh. Matanya fokus saat sosok tinggi berjaket abu-abu muncul dari arah gerbang samping—Raja.

Cowok itu melangkah cepat, seperti sedang menghindari siapa pun. Tapi kali ini Ansel tidak mau membiarkan dia lolos lagi.

“Raja!” teriak Ansel.

Langkah Raja terhenti, lalu perlahan ia menoleh. Wajahnya datar, tapi tatapan matanya seperti ingin menghindar.

“Kita harus ngomong,” kata Ansel tegas.

“Besok aja. Gue ada urusan,” jawab Raja singkat, hendak melangkah lagi.

Ansel menarik lengannya. “Urusan lo sama geng itu, kan? Gue udah ketemu mereka kemarin.”

Tatapan Raja berubah—ada sedikit keterkejutan yang cepat ia sembunyikan. “Mereka ngomong apa?”

“Mereka nyari lo. Dan dari cara mereka ngomong, itu bukan urusan kecil, Ja. Lo pikir keluar dari Tigerangers bisa beresin semuanya?”

Raja menghela napas berat, lalu menatap Ansel dengan nada suara lebih rendah. “Gue nggak mau lo semua ikut kebawa masalah gue. Lo ngerti nggak? Ini urusan gue, dan kalau lo nyari tahu lebih jauh… lo bakal ikut kena.”

Ansel mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Lo pikir kita cuma nongkrong bareng doang? Kita teman. Kalau ada masalah, kita beresin bareng.”

Raja menggeleng. “Bukan kali ini, Sel. Percaya sama gue.”

Tanpa menunggu jawaban, Raja melangkah pergi, meninggalkan Ansel yang berdiri dengan kepala penuh tanda tanya.

Di kejauhan, suara bel sekolah mulai terdengar. Tapi di dalam kepala Ansel, bel itu kalah nyaring dibanding satu hal yang sekarang memenuhi pikirannya—ia tidak akan diam sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi.

**

Istirahat siang di SMA Pamore 2 biasanya riuh—suara tawa, langkah kaki, dan dentingan sendok garpu dari kantin memenuhi udara. Ansel baru saja keluar dari kelas, niatnya mau ke lapangan basket untuk sekadar duduk santai. Tapi langkahnya terhenti ketika tiga cowok asing berdiri di lorong ujung.

Bukan siswa Pamore 2. Seragamnya beda. Pandangan mereka terfokus ke Ansel.

“Ansel Alexia?” salah satu dari mereka—berjaket hitam dengan rambut cepak—menyeringai.

Ansel mengangkat dagu, santai tapi waspada. “Kenapa?”

“Raja nyuruh salam. Atau… lo mau ikut campur urusan dia?” Nada bicaranya meremehkan, tapi matanya menusuk.

Ansel menyipitkan mata. “Gue nggak nyuruh lo bawa-bawa nama dia di sekolah gue.”

Cowok itu melangkah maju, jarak mereka sekarang tinggal setengah meter. “Kalau lo ketemu Raja, bilang sama dia… dia punya waktu tiga hari. Kalau nggak, siap-siap aja orang-orang di sekitarnya kena masalah.”

Ansel mengepalkan tangan, tapi geng asing itu sudah melangkah pergi sebelum dia sempat membalas.

Sial.

Ancaman itu jelas ditujukan buat dia juga—terutama bagian orang-orang di sekitarnya. Dan Ansel tahu betul, siapa yang paling gampang jadi sasaran…

Ketika Ansel berbalik menuju kelas, suara langkah cepat menyusulnya. “Sel! Lo kenapa?” Vanya muncul dari arah kantin, wajahnya sedikit bingung.

Ansel menatapnya sebentar, lalu menariknya ke sisi lorong yang agak sepi. “Van, denger gue. Kalau ada orang asing nyamperin lo, apalagi nyebut nama Raja atau Natasha—lo jauhin. Jangan jawab apa pun.”

Alis Vanya terangkat. “Lho, kenapa emangnya?”

“Pokoknya. Lo janji dulu sama gue,” nada Ansel berat, tatapannya tegas.

Vanya menahan senyum tipis, mencoba mencairkan suasana. “Iya, iya… gue janji. Tapi lo bikin gue penasaran, Sel.”

“Jangan penasaran. Cukup janji.”

Ansel masuk kembali ke kelas, mencoba terlihat santai. Tapi matanya secara refleks mengawasi Vanya yang kembali ke mejanya. Dia tahu Vanya mungkin menganggap ini lebay, tapi Ansel nggak mau ada orang di kelasnya yang jadi korban cuma karena dia telat kasih peringatan.

**

Suara bel istirahat kedua memecah suasana kelas SMA Pamore 1. Olivia sedang membereskan buku-bukunya ketika ponselnya bergetar.

[Ansel]
Gue tunggu di depan gerbang.

Olivia sempat terdiam.

Jemput? Siang bolong begini?

Ada rasa hangat yang tiba-tiba merayap di dadanya. Sejak awal perjodohan, jarang sekali Ansel punya inisiatif seperti ini.

Begitu keluar dari gerbang sekolah, matanya langsung menangkap motor hitam yang sudah ia kenal. Ansel bersandar di setang, helm satunya terjepit di lengan.

“Ngapain?” tanya Olivia sambil menahan senyum.

“Jemput,” jawab Ansel singkat, menyerahkan helm. “Naik, cepetan. Gue buru-buru.”

Kalimat itu sedikit menurunkan ekspektasi Olivia, tapi dia tetap menurut. Saat motor melaju, ia menatap punggung Ansel, merasa… mungkin cowok itu mulai berubah.

Padahal, di balik helm, Ansel terus melirik spion. Jalan menuju rumah Olivia terasa terlalu ramai. Dia nggak mau ada orang asing yang mengikuti. Pikirannya masih dipenuhi peringatan dari mamanya pagi tadi:

Ansel, tolong antar Olivia pulang. Janji sama Mama.”

Dia memang menepati janji itu. Tapi bukan berarti hatinya tenang. Ancaman kemarin masih membayang-bayangi, dan Ansel nggak mau lengah.

Sesampainya di depan rumah Olivia, Ansel hanya berkata singkat, “Udah, turun. Gue ada urusan.”

“Bentar…” Olivia menahan, ingin bilang terima kasih, tapi Ansel sudah menyalakan mesin lagi.

Motor itu melaju pergi, meninggalkan Olivia yang berdiri di tepi jalan—masih mencoba menyakinkan dirinya bahwa tadi benar-benar perhatian… bukan sekadar kewajiban.










TBC.

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang