Siang itu, di saat bel masuk kelas baru saja berbunyi, Ansel malah melipir keluar gerbang sekolah. Dia bukan sendirian—Gading, Agam, Bima, Alfan dan Rey ikut melipir bareng. Tujuan mereka jelas: warung Abah, tempat nongkrong favorit anak-anak Pamore 2 kalau lagi males belajar.
Warung sederhana itu sudah jadi saksi berapa kali mereka bolos. Meja panjang, kursi plastik, dan aroma mie goreng yang khas langsung menyambut mereka.
“Bah, mie dua, es teh enam!” teriak Gading begitu duduk.
Obrolan awalnya santai. Sampai Rey tiba-tiba nyeletuk sambil nyengir ke arah Gading. “Eh, gimana rasanya jadi pacarnya Vanya, Ding?”
Gading yang lagi nyeruput es tehnya langsung hampir keselek. “Biasa aja lah, jangan ribut.”
Agam ikut-ikutan. “Biasa? Jangan bohong deh. Dari kemarin muka lo sumringah mulu.”
Semua ketawa, termasuk Ansel… meski di dalam hati, ada rasa aneh yang dia sendiri malas mengakuinya.
Lalu Rey menatap Ansel, senyumnya licik. “Kalau lo gimana? Denger-denger di jodohin sama Olivia, tapi hatinya masih di tempat lain…”
Suasana langsung ramai. Gading menahan tawa, Agam bersiul pura-pura nggak mau ikut campur.
Ansel cuma mengangkat bahu, mencoba santai. “Santai aja, Bro. Hidup ini ngalir aja. Lagian… gue belum tentu cocok sama Olivia.”
Kalimatnya ringan, tapi ada nada samar yang cuma Ansel sendiri yang paham.
"Pasti cocok sih, lanjut aja udah sampe nikah," ucap Alfan, bukan sebuah saran tapi seperti persetujuan.
"Orang tua gue aja nikah hasil perjodohan, Sel. Siapa tahu lo juga gitu sama si Olivia bakal berakhir bahagia," tambah Bima.
"Si Olivia juga cantik kok, menarik," celetuk Agam.
Ansel melirik Agam. "Oh ya?"
Agam mengangguk. "Sayang banget kalo lo gamau, buat gue aja," guraunya.
"Lo mau gue pukul pake tangan kiri atau kanan, Gam?" tanya Ansel seraya ancang-ancang mengkretek jemarinya— meksipun itu hanya bercanda tapi cukup membuat Agam takut.
"Salam damai," cengir Agam.
W
arung Abah jadi riuh oleh canda tawa, tapi Ansel tahu—setiap kali nama Vanya muncul, pikirannya selalu ke sana. Dan tiap kali nama Olivia disebut, dia belum bisa benar-benar memutuskan arah hatinya.
**
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, langit oranye bercampur biru. Ansel baru aja pulang dari warung Abah, niatnya mau langsung balik ke rumah. Tapi di perempatan dekat taman kota, dia lihat sosok yang familiar—Vanya.
Dia sendirian, duduk di bangku taman sambil memainkan ponselnya. Seolah dunia di sekitarnya nggak penting.
Ansel sempat ragu, tapi kakinya entah kenapa melangkah sendiri.
“Sendirian?” tanya Ansel, suaranya agak pelan.
Vanya menoleh, sempat terkejut, lalu tersenyum tipis. “Iya. Nunggu jemputan, tapi kayaknya nggak jadi.”
Ansel mengangguk, lalu duduk di sampingnya. Hening sejenak. Hanya terdengar suara anak-anak kecil bermain di kejauhan dan deru motor yang lewat di jalan.
“Kamu nggak di rumah Gading?” Ansel mencoba basa-basi.
“Capek aja… pengen sendiri,” jawab Vanya. Dia menatap jauh, matanya memantulkan warna langit sore yang mulai pudar.
Ada jeda, lalu Ansel berkata, “Van, gue cuma mau bilang… kemarin waktu di pesta itu… gue nggak bercanda.”
Vanya terdiam. Napasnya sedikit berubah. “Ansel…”
“Terserah lo mau anggap gue apa. Tapi perasaan ini—gue nggak bisa pura-pura nggak ada.” Nada suara Ansel rendah, tapi ada ketegasan di sana. Dia menatap Vanya lekat-lekat, mencoba membaca isi hatinya.
Vanya mengalihkan pandangan, menggigit bibirnya sebentar. “Gue… nggak bisa kasih jawaban, tapi gue harap lo ngerti," ucap Vanya, suaranya bergetar seakan kata-kata itu berat keluar.
Ansel mengangguk, mencoba tersenyum walau hatinya nggak tenang. “Gue nggak maksa. Tapi gue pengen lo tahu.”
Hening lagi. Angin sore berhembus, membuat rambut Vanya sedikit berantakan. Tanpa sadar, Ansel merapikannya. Gerakan kecil itu membuat jantung Vanya berdebar… tapi ia tetap diam.
Di kejauhan, lampu jalan mulai menyala. Dan di antara remang sore itu, ada sesuatu yang tak terucap—perasaan yang tertahan di antara mereka.
Ansel berdehem. "Ayo gue antar pulang aja. Ke rumah lo kan?"
"Iya... maaf ya gue jadi ngerepotin lo, Sel," kata Vanya dengan nada bersalah.
Ansel terkekeh kecil. "Santai aja, Van."
**
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Olivia hampir memejamkan mata ketika dering ponselnya memecah keheningan kamar. Nama Ansel tertera di layar.
[Ansel]
Keluar bentar.
Gue nunggu di depan.
Tanpa banyak bertanya, Olivia berganti baju, mengenakan jaket, lalu keluar rumah. Ansel sudah menunggu di atas motornya, helm di tangan, pandangannya tenang namun sulit dibaca.
"Ke mana?" tanya Olivia setelah menerima helm itu.
"Nggak tahu. Keliling aja," jawabnya singkat.
Bandung di malam hari selalu menyimpan pesona. Lampu-lampu jalan berjajar rapi, seakan menuntun perjalanan mereka. Udara dingin menyapu wajah, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi.
Ansel memacu motornya melewati Dago, lalu berbelok ke arah Lembang. Olivia duduk di belakang, tangannya menggenggam ujung jaketnya sendiri, mencoba menahan dingin yang semakin menusuk.
"Kenapa tiba-tiba ngajak keluar?" suaranya terdengar di sela angin.
Ansel tidak langsung menjawab. "Nggak tahu… cuma mau tahu aja."
"Tahu apa?"
"Tahu rasanya kalau cuma sama kamu."
Olivia terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi meninggalkan kesan aneh di dadanya. Tidak ada percakapan lanjutan, hanya deru mesin dan suara angin yang mengisi jeda di antara mereka.
Perjalanan malam itu terasa panjang, namun juga terlalu singkat. Saat kembali ke depan rumah Olivia, Ansel turun lebih dulu, membantu melepaskan helm dari kepala gadis itu. Jemarinya sempat menyentuh pipinya yang dingin.
"Udah. Masuk, nanti masuk angin," katanya pelan.
Olivia mengangguk. Namun, di dalam hati, ia berharap perjalanan itu tak berakhir begitu cepat.
"Hati-hati ya."
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
