Pagi itu, sinar matahari masuk pelan lewat jendela ruang tamu, menerangi sofa yang biasanya jadi tempat tidur Ansel. Tapi pagi ini, sofa itu sudah diambil alih—oleh Damar.
Ansel melangkah masuk ke ruang tamu, matahari pagi belum cukup mencerahkan moodnya yang sedang kelam.
Matanya langsung menatap Damar dengan tatapan tajam.
“Lo ngapain di sini? Sofa gue,” suara Ansel tajam, hampir seperti tantangan.
Damar tersenyum tipis, santai. “Santai aja, gue juga di sini buat nemenin Olivia. Gak ada yang punya hak khusus atas sofa ini.”
Ansel mengerutkan dahi, napasnya memburu. “Ini rumah Olivia, dan gue yang biasa tidur di sini. Lo baru dateng, malah kayak punya hak penuh.”
Di kamar sebelah, Olivia sudah mulai mendengar suara mereka, garuk-garuk kepala kesal. “Ini pagi-pagi kayak anak kembar yang lagi rebutan mainan,” gumamnya lelah.
Ansel dan Damar mulai adu argumen, suara mereka makin keras.
"Lo gak tahu gue siapa?" tanya Ansel dengan nyolot dan sombong.
Damar tersenyum miring. "Buat apa gue tahu siapa elo? gak guna banget. Kita sama-sama sebagi teman Olivia, lo jangan belagu!"
"Gue? teman Olivia?" Ansel terkekeh sinis. Ia bersidekap dada— sikapnya begitu angkuh menatap Damar dengan kilatan menantang.
"Lo salah bro. Gue calon suaminya."
Mata Damar terbelalak, kaget tentu saja tapi juga dia ragu dan hanya menganggap itu lelucon Ansel.
"Dih, bangun lu udah pagi!" ejek Damar.
"Dih, terima kenyataan lu!" balas Ansel tak mau kalah.
"Gue di jodohin sama si Olivia," tambah Ansel.
Damar terdiam sejenak, ekspresinya berubah serius. "Kalo lo bohong, lo di botakin besok di sekolah!"
Ansel mendecak sebal. "Gue jujur banget ini Kalau ga percaya tanya aja si Olivia! Lagian kalo gue bohong ngapain coba gue pagi-pagi kesini," dumel Ansel.
Olivia yang sejak tadi mendengar dari kamar tidurnya— terganggu sampai akhirnya Olivia berdiri dan masuk ke ruang tamu.
“Udah, kalian berenti!” suara Olivia tegas tapi ada kelelahan di dalamnya.
Mereka terdiam, saling pandang.
“Maaf, Liv,” kata Ansel dan Damar serempak, suasana sedikit mencair.
Tapi di dalam hati Olivia, ada rasa penat yang tak mudah hilang—karena perang pagi itu bukan hanya soal sofa, tapi soal hati yang saling berebut perhatian.
**
Damar pulang setelah perdebatan kecil itu. Dan kini di dapur rumah Olivia, aroma bawang dan rempah mulai memenuhi udara.
Olivia sibuk mengiris sayur dengan cekatan, sementara Ansel mencoba membantu dengan memasukkan bahan ke dalam panci.
“Jangan salahin gue kalau masakannya gagal, ya,” canda Ansel sambil melempar senyum nakal.
Olivia menatapnya dengan mata berbinar. “Kalo gagal, berarti kita harus makan di luar besok.”
Tawa ringan mengisi dapur kecil itu, mengikis sedikit ketegangan yang selama ini terasa.
Saat Ansel mengambil mangkuk untuk mencampur bumbu, tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan.
Keduanya terdiam sejenak, saling pandang dengan mata yang sedikit merah dan napas yang tertahan.
“Tangan kamu dingin,” bisik Olivia pelan.
Ansel tersenyum, “Lo juga.”
Mereka kembali fokus pada masakan, tapi suasana sudah berubah—lebih hangat, lebih dekat. Di antara aroma rempah dan suara gemerincing alat dapur, tumbuh benih-benih yang tak terucap namun terasa kuat.
Setelah memasak selesai, mereka duduk di meja makan kecil di sudut dapur.
Ansel menyendokkan masakan ke piring Olivia, dan sebaliknya.
Olivia mencicipi, lalu mengerutkan dahi. “Eh, ini agak asin, ya?”
Ansel tertawa kecil, “Iya, gue terlalu semangat ngasih garam.”
Tapi anehnya, Olivia malah tersenyum lebar. “Aku suka. Masakan kamu ada ‘rasa’nya.”
"Aneh," komentar Ansel, padahal aslinya dia seneng masakannya dipuji dan disukai.
Mereka makan sambil ngobrol santai, suara piring dan gelas yang bergesekan jadi latar belakang hangat.
“Ngomong-ngomong soal perjodohan,” Olivia memulai dengan nada main-main tapi serius, “kalo kita nikah, kamu pengen kapan?”
Ansel menatapnya, senyum mengembang. “Nggak buru-buru, lah. Beberapa tahun ke depan aja. Gue masih pengen nikmatin hidup dulu.”
Olivia mengangguk, “Iya, aku juga. Nikah harus karena kita siap, bukan karena tekanan.”
Mereka saling bertukar pandang, ada rasa lega dan harapan yang tersembunyi di balik kata-kata itu.
Ansel berdehem, mencoba untuk tetap terlihat biasa saja. Tak boleh terlihat gugup karena itu akan menodai egonya. "Lo mau ambil kuliah minat apa?" tanya Ansel basa basi.
"Aku tertarik ke finance sih, tapi masih dipikirkan lagi," jawab Olivia. "Kalo kamu mau ambil apa?"
"Software engineer," jawab Ansel.
"Hebat! kamu pasti bisa!" ujar Olivia, suaranya terdengar tulus mendukung dengan antusias dan semangatnya.
Ansel hanya tersenyum. Hari itu, meski dengan masakan yang agak asin, ada rasa manis yang menghangatkan hati mereka berdua.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romansa❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
