Bab 6

879 37 0
                                        

Pagi itu, Ansel duduk di atas motor di pinggir jalan, helmnya belum dipasang. Udara dingin masih menusuk, tapi kepalanya panas oleh berbagai pikiran—kejadian semalam, wajah Olivia yang menangis, tatapan kecewa mamanya, dan... Vanya di rumah sakit.

Ia menatap layar ponsel, jempolnya menekan kontak Raja—tetapi lagi-lagi, hanya terdengar nada sambung panjang tanpa jawaban.

"Kemana sih lo, Ja..." geramnya pelan.

Motor menderu, Ansel melaju menuju warung Abah. Tempat itu biasanya jadi titik kumpul Tigerangers, tapi hari ini hanya ada Bima, Agam, dan Rafi yang duduk sambil menyeruput kopi.

Bima mengangkat wajah, "Lo beneran nyariin Raja? Kayaknya dia udah nggak mau ketemu kita, Sel."

"Justru itu masalahnya," jawab Ansel, suaranya tegas. "Dia keluar dari geng nggak bilang-bilang, terus geng lain nyerang rumah Natasha. Ini udah jelas ada hubungannya sama dia."

Rafi menghela napas berat. "Gue udah denger-denger kabar, katanya Raja punya masalah sama anak-anak Cobrax. Cuma dia nggak mau cerita."

Ansel mengetukkan jarinya ke meja. "Kalau dia nggak mau cerita, kita yang harus nyari tau."

Agam menatap Ansel serius. "Lo mau ke markas Cobrax?"

"Mau. Kalau perlu gue dobrak pintu mereka."

Sebelum pembicaraan makin panas, Gading datang sambil menenteng rokok. Tatapannya ke Ansel masih penuh amarah sisa tadi pagi di rumah sakit. "Lo nggak usah sok jadi pahlawan, Sel. Lo aja semalam nggak ada waktu kejadian."

Ansel membalas tatapan itu, rahangnya mengeras. "Gue telat karena ada yang matiin HP gue."

Suasana di meja itu langsung mencekam. Gading mengangkat alis. "Olivia?"

Ansel hanya diam, tapi itu sudah cukup sebagai jawaban.

Bima cepat-cepat memotong, "Udah, jangan dibawa ribut. Kita fokus nyari Raja dulu."

Namun di dalam kepala Ansel, rasa kesal dan rasa bersalah bercampur jadi satu. Dan ia tahu, mencari Raja mungkin satu-satunya cara buat nyelesein semua kekacauan ini.

**

Di sisi lain, Olivia duduk sendirian di bangku taman sekolah, membuka bekal roti isi yang dibawanya. Pikirannya masih berat memikirkan tadi pagi—tatapan dingin Ansel, kata-katanya yang keras, dan rasa bersalah yang belum hilang.

"Liv."

Suara itu membuat Olivia menoleh. Damar Franz berdiri di depannya, tinggi menjulang dengan seragam olahraga voli yang masih basah oleh keringat. Rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumannya hangat.

"Kamu sendirian?" tanya Damar sambil menaruh botol minum di meja.

"Iya... lagi nggak pengen ngobrol sama siapa-siapa," jawab Olivia pelan.

Damar duduk di sebelahnya tanpa diminta. "Aku nggak tahu kamu lagi kenapa, tapi kalau kamu butuh cerita..." Ia menatap Olivia, matanya tulus. "Aku ada."

Olivia tersenyum tipis, berusaha sopan. "Makasih, Mar."

Mereka sempat diam beberapa saat, hanya suara siswa lain yang riuh di kejauhan. Damar lalu menambahkan, "Kamu tau nggak, dari kelas sepuluh aku udah sering ngeliat kamu. Dan..." Ia menggantung kalimatnya, lalu menggeleng sambil tertawa kecil. "Ah, nggak penting."

Olivia mengerutkan dahi, tapi memilih tidak memancing. Ia tahu Damar anak baik—dan bagian dari dirinya merasa nyaman—tapi situasi sekarang terlalu rumit untuk memikirkan hal lain.

Dari jauh, beberapa siswi yang lewat sudah mulai berbisik-bisik, melirik ke arah mereka. Olivia merasa jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena Damar, tapi karena ia tahu... kalau ada yang melihatnya seperti ini, gosipnya bisa sampai ke telinga Ansel.

**

Di kelas, Ansel duduk bersandar di kursinya sambil menggulir layar ponsel. Matanya sesekali melirik jam di dinding. Vanya harusnya udah nyamperin dia sepuluh menit yang lalu untuk pulang bareng—mereka memang janjian pagi tadi.

Notifikasi chat masuk. Dari Vanya.

[Vanya]
Sel, sorry banget. Kayaknya kita nggak jadi pulang bareng hari ini.
Gading ngajakin aku makan di luar. Katanya mau ngobrol sesuatu.

Ansel menghela napas panjang. Matanya terpejam sebentar, mencoba menelan rasa kesal yang tiba-tiba muncul.

[Ansel]
Oke. Hati-hati aja.

Tangan Ansel terhenti di atas ponsel. Bayangan wajah Gading muncul di pikirannya—temannya sendiri di Tigerangers, tapi belakangan ini sikapnya aneh. Apalagi setelah insiden rumah Natasha, Gading makin sering terlihat dekat dengan Vanya.

Seketika Ansel menunduk, menyandarkan siku di meja.

Apa Gading tahu soal perasaan gue ke Vanya? Atau dia cuma iseng?

"Bro." Suara Bima dari meja belakang memecah lamunannya. "Lo nggak ikut ke warung Abah? Anak-anak udah pada jalan tuh."

Ansel menggeleng malas. "Nggak. Lo aja."

Bima mengangkat bahu, lalu pergi. Tinggal Ansel sendiri di kelas yang mulai sepi. Dia menatap ponsel lagi, membaca ulang chat dari Vanya. Ada rasa aneh di dada—bukan cuma khawatir, tapi juga semacam waspada. Karena kalau Gading punya niat yang nggak baik, Ansel nggak akan tinggal diam.

**

Malam itu, warung Abah lumayan rame. Lampu kuning remang-remang dan suara motor lalu-lalang jadi latar suasana. Ansel duduk di pojokan meja panjang bareng Bima, Alfan, dan Agam. Segelas kopi hitam di depannya udah dingin setengah jam yang lalu, tapi dia nggak terlalu peduli.

Sejak sore, mood-nya udah nggak enak. Vanya—yang tadinya janji mau ngobrol soal masalah Raja—malah batalin karena katanya mau keluar sama Gading.

Gading, men.

Ansel nyender di kursi, menatap ke arah jalan sambil ngehembus napas berat.

"Lo kenapa sih, Sel? Mukanya kusut bener," tanya Bima sambil ngemil gorengan.

Belum sempat Ansel jawab, ponselnya bergetar. Chat masuk dari Reza, temen lama yang sekolah di SMA Pamore 1.

[Reza]
Bro, gue liat Olivia tadi dijemput cowok anak voli Pamore 1.

[Ansel]
Siapa namanya?

[Reza]
Damar Franz. Dia tuh udah lama suka sama Olivia, dari kelas 10 katanya.

Ansel ngehela napas panjang, jari-jarinya mengetuk meja.

Bagus. Sempurna.

Bima yang penasaran langsung nyeletuk, "Kenapa, Sel?"

"Enggak," jawab Ansel singkat, tapi matanya dingin. Dalam kepalanya, dia cuma muter-muterin fakta: Vanya sama Gading. Olivia sama si Damar ini. Dan dia? Duduk di warung, ngopi, kayak nggak punya kendali atas apa pun. Rasanya pengen banget nyamperin keduanya dan bilang "cukup," tapi dia cuma diam—dengan rahang mengeras.

Bima melirik, "Sel, lo serius nggak kenapa-kenapa? Lo keliatan kayak siap ngajak orang berantem."

Ansel cuma tersenyum tipis. "Nggak. Gue cuma... kepanasan aja." Padahal yang panas sebenarnya dadanya.













TBC.

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang