Hari itu langit cerah tanpa awan, udara pagi dipenuhi aroma laut yang terbawa angin. Mobil keluarga Ansel melaju di jalan pesisir, diikuti mobil keluarga Olivia di belakang. Rencana liburan bersama ini sebenarnya ide kedua orang tua mereka—sebagai ajang silaturahmi sekaligus “mendekatkan” hubungan dua anak yang dijodohkan ini.
Begitu sampai, pasir putih dan birunya laut langsung menyambut. Suara ombak berpadu dengan tawa anak-anak yang berlarian di tepi pantai. Olivia turun dari mobil sambil memegang topi lebar, rambutnya sedikit berantakan karena angin. Ansel yang baru turun dari mobilnya sempat melirik, tapi buru-buru memalingkan wajah.
“Kita pasang tikar di situ aja,” ujar Mama Olivia sambil menunjuk pohon kelapa yang rindang.
Ansel ikut membantu membongkar barang-barang, sementara Olivia sibuk mengoleskan sunblock di tangannya.
Tak lama kemudian, mereka berjalan di tepi pantai. Ombak kecil menyapu kaki, meninggalkan jejak di pasir yang cepat terhapus.
“Lo nggak mau main air?” tanya Ansel datar, matanya menatap ke laut.
Olivia melirik sekilas. “Nggak mau basah-basah, ribet ganti baju.”
“Bilang aja nggak bisa renang,” Ansel tersenyum tipis, mencoba menggoda.
Olivia mengerucutkan bibir. “Bisa kali, cuma… nggak mau aja.”
Meski begitu, beberapa menit kemudian, Ansel malah sengaja memercikkan air ke kakinya.
“Ansel!” seru Olivia kaget, tapi matanya berbinar.
Mereka pun akhirnya bermain air, saling melempar cipratan sambil tertawa lepas. Orang tua mereka mengamati dari jauh, saling bertukar pandang penuh arti.
Siangnya, setelah makan ikan bakar bersama, mereka duduk di tepi pantai, hanya berdua. Angin sore membawa aroma asin laut, dan cahaya matahari mulai berwarna keemasan.
“Kamu pernah kepikiran nggak,” ujar Olivia pelan, “kalau suatu hari kita beneran nikah?”
Ansel menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Entahlah… Tapi kalau iya, semoga… kita nggak saling nyakitin.”
Olivia tersenyum samar, lalu kembali menatap laut.
Entah kenapa, sore itu terasa berbeda. Ombak memang terus datang dan pergi, tapi di hati mereka, ada sesuatu yang diam-diam bertahan.
***
Malam itu, suasana di penginapan terasa hangat. Lampu-lampu kuning temaram memberi kesan tenang, hanya suara ombak di kejauhan yang terdengar samar. Setelah makan malam bersama keluarga, Ansel keluar ke teras penginapan, membawa dua gelas teh hangat.
Olivia yang tadinya duduk di kamar sambil memainkan ponsel, melihat Ansel lewat.
“Kamu nggak tidur?” tanyanya.
“Belum ngantuk. Mau teh?” Ansel mengangkat gelas di tangannya.
Olivia sempat ragu, tapi akhirnya melangkah keluar dan duduk di kursi rotan di sebelahnya.
Dari tempat mereka duduk, cahaya bulan memantul di permukaan laut. Angin malam menyapu lembut rambut Olivia, membuatnya sedikit berantakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
