Matahari pagi menyelinap lewat jendela kamar Olivia, menerangi wajahnya yang tengah cemberut.
Olivia duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang sedikit menggenggam selimut, mood-nya sudah terlanjur buruk sejak bangun tidur.
Di ruang tamu, suara Ansel terdengar sedang sibuk merapikan jaket dan helm motor.
“Gue mau jemput Vanya dulu, jadi kita berangkatnya sendiri ya,” suara Ansel terdengar santai tapi tegas.
Olivia mengerutkan dahi, napasnya tercekat. “Kenapa nggak berangkat bareng aja?”
Ansel menoleh, wajahnya datar. “Gue udah janji sama dia. Lagian, lo kan bisa sendiri.”
Olivia menatap Ansel dengan mata berkaca-kaca. “Tapi… aku pengen berangkat bareng kamu.”
Ansel diam, lalu menarik jaketnya. “Maaf, Liv. Gue harus pergi sekarang.”
Dengan langkah berat, Olivia menoleh ke arah jendela, membiarkan rasa kecewa dan kesal mengisi pagi itu.
Di luar, Ansel sudah menyalakan motor dan bersiap pergi, tanpa sadar ia baru saja meninggalkan hati Olivia yang mulai retak.
**
Suasana kelas terasa bising dengan suara guru dan murid yang bercampur, tapi di dalam kepala Olivia, semuanya seperti hilang fokus.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ansel.
[Ansel]
Malem ini gue nggak pulang.
Lo panggil temen buat nginep di rumah ya. Jangan sampe lo sendirian.
Olivia menatap layar dengan mata yang membara, campuran antara kesal dan kecewa. Lagi-lagi, Ansel milih Vanya. Lagi-lagi, dia merasa terpinggirkan.
Dengan nafas berat, dia mengetik balasan:
[Olivia]
Oke. Aku bakal ajak Damar.
Dan saat pulang sekolah, Olivia menemui Damar dan mengajaknya tanpa basa-basi. “Aku ngajak kamu nginep di rumah aku malam ini. Orang tua aku lagi ke Singapura, aku nggak mau sendirian.”
"Ha?!" kaget Damar, hampir tersedak air liurnya sendiri. Damar menatap Olivia dengan tatapan ragu. "Ga salah? Kamu ngajak aku?"
"Iya, emang kenapa sih? kamu gamau?" tanya Olivia.
"Bukan gitu," gumam Damar seraya menggaruk tengkuknya sendiri yang tak gatal. "Gimana ya..."
Olivia bersidekap dada menatap Damar tak mengerti— tak peka. "Kalo gamau juga gapapa sih, aku bisa ajak Radisti," ucapnya.
"Mau kok mau!" ucap Damar.
"Jangan ajak Radisti ya? dia bawel banget, aku gak suka," pinta Damar. Kesempatan dalam kesempitan.
Olivia dengan polos mengangguk. "Oke. Kamu aja yang nginap."
**
Lampu warna-warni berpendar tajam, menerangi ruangan penuh tawa dan sorak sorai. Musik ngebeat menggema, tapi di telinga Ansel, semua terasa seperti dengungan jauh yang nggak jelas.
Dia berdiri di pojok, segelas soda di tangan, tapi matanya malah sibuk menatap Vanya yang tengah asyik tertawa bersama teman-temannya.
Vanya — gadis yang dulu cuma bisa dia pandang dari jauh, kini benar-benar ada di sini, di pesta ulang tahunnya.
“Gue di mana, sih?” gumam Ansel dalam hati. “Di antara keramaian ini, apa gue cuma jadi bayang-bayang?”
Setiap kali Vanya melirik ke arahnya, Ansel ingin tersenyum, tapi senyum itu berat, penuh pertanyaan tanpa jawaban.
Obrolan ringan di sekelilingnya terdengar seperti gema kosong, bikin Ansel makin tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Teman-teman Vanya sesekali menatapnya dengan rasa penasaran, tapi Ansel malah merasa seperti orang asing di tengah keramaian yang seharusnya akrab.
Di balik tawa dan pesta yang riuh, ada luka yang tak terlihat, sebuah cerita yang belum selesai.
Ansel melangkah keluar ke teras belakang, mencari udara segar dan ruang untuk pikirannya yang penuh. Ia menyalakan rokok, matanya menatap gelapnya malam yang pekat. Angin dingin menerpa wajahnya, tapi hatinya yang panas terasa semakin membakar.
Langkah kaki Vanya mendekat dengan pelan, dan saat dia berdiri di samping Ansel, keheningan malam terasa begitu berat, penuh makna yang tak terucap.
“Lo di sini sendiri?” tanya Vanya, suaranya lembut, hampir seperti bisikan.
Ansel mengangguk pelan, lalu membuang asap rokok perlahan. “Iya. Kadang, di tengah keramaian, gue malah ngerasa paling sepi.”
Vanya menoleh, menatap mata Ansel yang sedikit redup tapi penuh luka. “Gue juga...” ujarnya lirih.
Ansel menoleh ke arah Vanya, mengambil napas dalam, dan akhirnya mengungkapkan apa yang selama ini tersembunyi.
“Vanya, gue suka sama lo. Bukan cuma teman, bukan cuma cewek biasa. Lo itu… spesial buat gue.”
Mata Vanya berkaca-kaca, tapi dia berusaha tersenyum. “Ansel...” katanya pelan, “gue seneng lo jujur. Tapi gue belum siap buat jawab perasaan lo sekarang. Butuh waktu.”
Ansel tersenyum pahit, lalu tanpa sadar tangannya meraih tangan Vanya, menggenggamnya erat.
“Makasih udah dengerin gue. Gue gak akan maksa. Tapi lo harus tau, gue bakal selalu ada buat lo, apapun yang terjadi.”
Vanya menggenggam balik tangan Ansel, sesaat mereka hanya diam menikmati kehangatan di tengah dinginnya malam.
“Gue takut, Ansel,” bisik Vanya, “takut kehilangan persahabatan kita.”
Ansel mengusap lembut punggung tangan Vanya. “Kalau itu yang terjadi, gue rela. Tapi gue juga pengen kita coba, walau perlahan.”
Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, mereka berdiri bersama, dua jiwa yang saling terpaut namun belum berani melangkah lebih jauh.
**
Disisi lain, lampu kamar Olivia redup, menciptakan suasana nyaman di tengah malam yang sunyi. Damar duduk santai di sofa kecil, sementara Olivia sibuk menyiapkan camilan di meja.
“Kamu beneran jago banget, ya, main voli?” Olivia tersenyum sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Damar mengambil teh itu, membalas senyum dengan ringan. “Ah, itu mah biasa aja. Yang penting latihan terus.”
Obrolan mereka mengalir tanpa beban, tertawa bersama atas candaan kecil yang membuat suasana makin cair.
Di sela tawa, Olivia merasa ada sesuatu yang beda malam ini—kehangatan yang selama ini ia rindukan.
“Kamu selalu bisa bikin aku lupa sama semua yang ribet, Dam.”
Damar menatap Olivia, mata yang penuh arti. “Itu tugas aku, Liv. Buat nemenin kamu kapan pun kamu butuh.”
Malam itu, dalam kebersamaan sederhana, Olivia merasa sedikit terlindungi dan dihargai—sesuatu yang tak ia rasakan sejak lama.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romansa❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
