Sabtu sore itu, langit mendung tapi udara terasa panas. Olivia berdiri di depan cermin, memperbaiki kerah blus putihnya. Wajahnya terlihat gelisah sejak pagi. Bukan karena acara keluarga besar Alexia Mahatma yang akan digelar di rumah nenek mereka, melainkan karena satu hal: ia tahu Ansel juga akan ada di sana.
Pintu kamarnya diketuk pelan. “Liv, udah siap? Ansel bentar lagi jemput,” suara ibunya terdengar dari luar.
Olivia memutar mata. Jemput? Sejak kapan Ansel jadi sopir pribadinya?
Di sisi lain, Ansel menyalakan mesin motornya. Celana jeans hitam robek di lutut, kaus putih, dan jaket denim biru sudah cukup membuatnya terlihat seperti dirinya sendiri—santai, nyaris tak peduli.
Ia sebenarnya malas, tapi ibunya memaksa. “Sekalian jemput Olivia, jangan lupa sopan.”
Sopan? Ansel hanya terkekeh pelan. Kata itu terasa asing di lidahnya.
Olivia keluar rumah dengan tas selempang kecil di bahu. Begitu melihat motor hitam Ansel di depan gerbang, langkahnya melambat.
“Kok motor?” tanyanya pelan.
“Mobil lagi dipakai,” jawab Ansel singkat, memasang helm cadangan di setang. “Naik aja, cepetan.”
Olivia menatap helm itu ragu. Ia tidak terbiasa naik motor, apalagi dibonceng oleh orang yang jarang mengajaknya bicara selain untuk membalas seperlunya. Namun, tatapan ibunya dari teras membuatnya tak punya pilihan.
Perjalanan menuju rumah nenek terasa sunyi. Angin sore berhembus, tapi tidak mampu menenangkan hati Olivia. Sesekali Ansel mengurangi kecepatan, entah karena lalu lintas atau karena ia sadar Olivia memegang jaketnya dengan sangat hati-hati—nyaris tidak menyentuh.
**
Rumah nenek sudah ramai. Tenda putih terpasang di halaman, suara obrolan bercampur dengan aroma masakan. Begitu mereka turun dari motor, beberapa sepupu langsung menoleh.
“Eh, datang bareng,” bisik salah satu sepupu perempuan sambil tersenyum menggoda.
Olivia buru-buru menjauh, pura-pura sibuk membantu di dapur. Ansel hanya mengangkat bahu, berjalan santai menuju ruang tamu.
Acara berlangsung meriah. Namun, di tengah tawa keluarga, tatapan-tatapan jahil tak henti diarahkan pada mereka berdua. Hingga pada akhirnya, nenek mereka memanggil.
“Ansel, Olivia, kemari.”
Keduanya berdiri di hadapan nenek yang tersenyum hangat namun matanya tajam penuh maksud.
“Kalian berdua ingat ya… tahun depan acara besar kita bakal lebih spesial. Aku ingin kalian… sudah siap.”
Olivia menahan napas, sementara Ansel menatap kosong. Kata-kata nenek itu menggantung di udara seperti ancaman yang dibungkus doa.
**
Pagi hari setelah acara keluarga, halaman rumah nenek sudah ramai lagi. Kali ini bukan untuk pesta, melainkan persiapan syukuran kecil yang katanya “nggak bakal ribet.” Nyatanya, semua orang sibuk berlarian, dan satu per satu anggota keluarga mulai mendapat tugas.
“Ansel, kamu sama Olivia yang atur meja tamu, ya,” kata Tante Rani sambil menunjuk tumpukan kursi dan meja lipat di sudut halaman.
Ansel memandang kursi-kursi itu sebentar, lalu melirik Olivia. “Serius, Tante? Nggak ada yang lain?”
Tante Rani tersenyum lebar. “Biar kompak. Latihan kerja sama.”
Olivia menghela napas, lalu mulai mengangkat taplak meja. Ansel berjalan di belakangnya, membawa kursi dengan satu tangan, seperti tidak ada beban.
“Lo angkat dua aja, kan ringan,” sindirnya sambil meletakkan kursi.
Olivia menoleh, keningnya berkerut. “Aku bisa, nggak usah ngajarin.”
“Bukan ngajarin, cuma bilangin,” jawab Ansel santai, lalu duduk di kursi sambil menyalakan ponselnya.
“Ansel…” Olivia berdiri di depannya, menahan kesal. “Bisa tolong geser meja ini?”
Ansel mengangkat alis. “Geser sendiri aja.”
“Aku nggak kuat!”
“Bohong. Gue pernah liat lo bawa galon di rumah.”
Olivia mengatupkan bibirnya, menahan emosi. Ia ingin membantah, tapi tatapan beberapa sepupu yang mengamati mereka membuatnya terpaksa menunduk dan melanjutkan pekerjaan.
Setelah hampir satu jam, meja tamu sudah rapi. Olivia mengatur vas bunga di tengah meja, sementara Ansel berdiri di sampingnya, pura-pura memeriksa hasil kerja.
“Tuh kan, bisa kalau mau,” ujarnya pelan.
Olivia meliriknya tajam. “Kenapa sih harus nyebelin terus?”
Ansel hanya tersenyum tipis—senyum yang entah kenapa membuat dada Olivia terasa sesak.
**
Menjelang siang, tamu mulai berdatangan. Olivia berkeliling membantu membagikan minuman. Tapi dari tadi, ia tidak melihat Ansel.
"Kemana sih dia?" gumamnya.
Rasa penasaran membuat Olivia melangkah keluar ke halaman belakang rumah nenek. Di sana, ia menemukan Ansel berdiri di dekat pohon mangga, ponsel menempel di telinga.
“...iya, nanti jam lima gue jemput,” suara Ansel terdengar jelas, nada bicaranya lembut.
Olivia berhenti di tempat, menahan napas.
“Enggak, nggak apa-apa kok. Lo mau makan di mana?” ansel tertawa pelan. “Ya udah, gue atur aja nanti.”
Olivia merasakan dadanya mengencang. Tidak sulit menebak siapa yang ada di ujung telepon itu.
Saat Ansel menoleh, ia terkejut melihat Olivia di sana. “Ngapain di sini?” tanyanya datar.
Olivia menggeleng pelan, mencoba tersenyum. “Cari kamu. Nenek nyari.”
Ansel mematikan telepon dan berjalan melewatinya tanpa penjelasan lebih lanjut. Sementara Olivia hanya berdiri di sana, menelan rasa pahit yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.
Siang itu, acara syukuran dimulai. Mereka duduk di meja paling depan, tepat di hadapan nenek. Sepanjang acara, beberapa tamu menanyakan hal yang sama.
“Eh, ini calon pengantin tahun depan, ya?”
“Wah, cocok banget, mirip.”
Olivia memaksakan senyum, tapi dalam hati ia ingin menghilang. Ansel? Ia hanya mengangkat bahu, seolah semua omongan itu tidak penting. Tapi sesekali, tatapan matanya mengarah ke Olivia—dan itu cukup membuat gadis itu semakin gelisah.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
