Bab 3

1.1K 45 0
                                        

Pagi itu, Ansel bangun lebih cepat dari biasanya. Alarm di ponselnya bahkan belum sempat berbunyi. Bukan karena rajin, tapi karena ia punya rencana: berangkat sekolah pagi-pagi sekali, supaya Mama tidak sempat menyuruhnya menjemput Olivia.

Sejak acara di rumah nenek kemarin, Mama entah kenapa jadi makin sering mencari-cari alasan untuk membuat mereka “bertemu.” Dan Ansel… jelas merasa itu melelahkan.

Udara pagi di luar rumah masih dingin. Jalanan sepi, hanya ada suara motor yang sesekali lewat. Ansel melajukan motornya tanpa tergesa, menikmati kesunyian yang jarang ia dapatkan.

Begitu sampai di sekolah, gerbang masih setengah terbuka. Hanya beberapa siswa yang sudah datang—kebanyakan anggota ekskul atau siswa yang piket.

Ia memarkir motor di area belakang, lalu melangkah menuju lapangan basket indoor. Niatnya cuma mau lewat, tapi matanya tertarik pada sosok yang sedang memantul-mantulkan bola di tengah lapangan.

“Raja?” gumamnya.

Raja menoleh singkat, keringat sudah membasahi pelipisnya. “Yo.”

“Pagi-pagi udah olahraga?” Ansel mendekat, menatap temannya yang kini lebih kurus daripada terakhir kali ia lihat ikut nongkrong di warung Abah.

Raja tidak menjawab. Ia hanya melempar bola ke ring—masuk bersih.

Ansel tersenyum tipis, lalu meraih bola yang memantul kembali. “Main yuk. Syaratnya gampang, siapa yang cetak lima poin duluan dalam lima menit, dia menang.”

Raja menatapnya ragu. “Lagi nggak mood.”

“Justru biar mood balik. Ayo, kalau kalah, traktir gue di warung Abah sore ini.”

Raja menghela napas, tapi akhirnya mengangguk. “Deal..”

Pertandingan dimulai. Pantulan bola, derap langkah, dan suara sepatu menggesek lantai bergema di seluruh lapangan. Ansel bermain cepat, mencoba memancing Raja untuk ikut agresif.

Awalnya, Raja terlihat malas. Tapi saat Ansel mencetak poin kedua, tatapan mata itu berubah—lebih tajam, seperti ada sesuatu yang ingin ia buktikan.

“Empat… tiga… dua… satu…,” Ansel menghitung dalam hati saat waktu hampir habis. Bola terakhir berada di tangan Raja, dan—swish!—masuk tepat saat timer lima menit berbunyi.

Raja menang.

Ansel terdiam sesaat, lalu tersenyum miring. “Ya udah, traktiran gue batal.”

Tapi Raja hanya memungut bolanya dan berjalan menuju pintu keluar. “Nggak usah ngomongin warung Abah. Gue udah nggak nongkrong di sana lagi.”

Langkahnya terdengar berat, seperti ada beban yang ia bawa.

Ansel memandang punggung itu, keningnya berkerut. “Kenapa? Lo udah nggak di Tigerangers?”

Raja berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. “Nanti lo juga tahu sendiri.”

Sebelum Ansel bisa bertanya lagi, Raja sudah keluar dari lapangan, meninggalkan pertanyaan yang menggantung di udara.

**

Kantin – Jam Istirahat.

Kursi plastik berwarna oranye itu dipenuhi suara bercanda dan bunyi sendok garpu yang saling beradu. Ansel duduk di meja pojok bersama Bima, Alfan, Gading, dan Agam.

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang