Bab 26

1.5K 40 1
                                        

Pagi itu, suasana di rumah Olivia dan Ansel sibuk tapi hangat. Di kamar Olivia, mama dan bibinya membantu dia mengenakan kebaya ungu muda dengan renda halus, sambil sesekali bercanda agar Olivia tidak terlalu gugup.

"Jangan lupa, hari ini hari besar, Liv. Tampil cantik ya!" kata mama Olivia sambil menyeka sedikit bedak di wajah putrinya.

Sementara itu di rumah Ansel, ayah dan mamanya sudah menyiapkan ruang tamu dan memastikan segala sesuatunya berjalan lancar. Ansel duduk di depan cermin, menyisir rambut dan memeriksa setelan jasnya. Teman-teman dekatnya sempat datang memberi dukungan dan sedikit bercanda untuk meredakan ketegangan.

"Cie Ansel," goda Agam.

Alfan menyenggol bahu Agam. "Katanya habis ini si Agam juga mau tunangan sama pacarnya."

"Beda agama mau tunangan?" ejek Bima.

"Heh, elu juga beda agama!" balas Agam.

Mereka tertawa.

"Santai aja, Sel. Ini bukan ujian sekolah," goda Gading sambil tertawa.

Ansel hanya tersenyum tipis. Di hatinya, dia sudah siap menerima masa depan yang tak pernah ia bayangkan dulu.


***

Ruang tamu rumah Olivia dipenuhi dengan bunga segar dan hiasan berwarna putih serta ungu muda, menciptakan suasana yang elegan dan hangat. Keluarga besar kedua belah pihak sudah berkumpul, duduk rapi dengan senyum haru dan penuh harapan.

Ansel berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam yang pas di badannya, matanya sesekali mencari sosok Olivia yang duduk di samping ibunya, mengenakan kebaya ungu muda yang anggun. Rambut Olivia disanggul rapi, dan wajahnya terlihat sedikit gugup tapi bahagia.

Mama Ansel menatap kedua anak muda itu dengan penuh kebanggaan, kemudian membuka acara dengan suara lembut. "Hari ini bukan hanya menjadi awal dari sebuah janji, tapi juga menyatukan dua keluarga dalam ikatan cinta dan persahabatan."

Ansel melangkah maju, mengambil tangan Olivia dengan lembut. "Olivia, aku mungkin ga sempurna, tapi aku berjanji akan selalu menjadi yang terbaik untuk kita, mendampingimu dalam suka dan duka."

Olivia menatap dalam mata Ansel, hatinya berdebar. "Ansel, aku percaya pada kita. Meskipun perjalanan kita penuh lika-liku, aku yakin kita bisa melalui semuanya bersama."

Saling bertukar cincin pertunangan, mereka diiringi tepuk tangan dan doa dari keluarga. Suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti ruangan.

Di balik senyum bahagia itu, Ansel menatap Olivia dengan pandangan penuh arti, tahu bahwa perjodohan yang dulu ia tolak kini telah berubah menjadi sebuah pilihan hati yang tulus.


***

Setelah pertunangan selesai, kedua keluarga berkumpul menikmati hidangan ringan sambil berbincang hangat.

Mama Olivia menatap Ansel dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih sudah mau menerima Olivia dengan baik."

Ansel membalas dengan tulus, "Ansel akan selalu berusaha sebaik mungkin."

Di sisi lain, ayah Ansel tersenyum puas sambil menepuk bahu anaknya. "Ini awal yang baik, Nak. Jadikan ini sebagai motivasi untuk jadi pria yang bertanggung jawab."

Olivia duduk di samping Ansel, merasakan kedamaian yang selama ini sulit ia rasakan. Mereka saling bertukar pandang, sebuah janji tanpa kata yang mengikat hati mereka lebih erat.


***

Setelah seharian penuh dengan persiapan dan acara yang menguras energi, malam itu Ansel ingin menciptakan momen spesial untuknya dan Olivia. Ia sudah menyiapkan meja makan kecil di balkon rumahnya, dihias dengan lilin-lilin kecil dan bunga-bunga segar yang wangi.

Olivia datang dengan mengenakan gaun sederhana tapi anggun, rambutnya tergerai alami. Ia terkejut sekaligus tersipu melihat suasana yang dibuat Ansel.

"Wow, ini... keren banget," katanya sambil tersenyum malu.

Ansel mengangguk, sedikit gugup tapi berusaha tenang. "Gue pengen kita punya waktu buat ngobrol dan nikmatin malam ini, cuma kita berdua."

Mereka duduk berhadapan, diiringi suara halus angin malam dan gemericik air kolam kecil di bawah balkon. Ansel menyajikan hidangan sederhana tapi spesial—pasta favorit Olivia dan jus jeruk segar.

Obrolan mengalir dengan santai, mulai dari rencana masa depan, sampai kenangan lucu saat mereka pertama kali bertemu. Sesekali, Ansel menatap Olivia dengan penuh arti, dan Olivia membalas dengan senyum manis yang membuat hatinya berdebar.

Di akhir makan malam, Ansel meraih tangan Olivia, menggenggamnya erat. "Hari ini baru permulaan, Liv. Gue janji akan selalu ada buat lo."

Olivia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya. "Aku percaya sama kamu."

Ansel menatap langit sebentar, lalu berbalik ke Olivia. "Lo pernah nggak, mikir gimana caranya kita bisa bener-bener paham satu sama lain? Bukan cuma karena kita dijodohin, tapi karena emang kita pengen?"

Olivia menarik napas panjang, memikirkan kata-katanya. "Aku juga mikir itu. Kadang aku takut, gimana kalau perasaan kita nggak sejalan? Tapi aku juga nggak mau terus-terusan takut. Mungkin kita harus kasih waktu dan kesempatan buat kita berdua."

Ansel tersenyum, meraih tangan Olivia lagi. "Gue setuju. Kita pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru. Yang penting kita sama-sama mau."

Olivia menatap mata Ansel, ada kehangatan dan ketulusan yang membuatnya merasa aman.
"Aku percaya sama kamu, Ansel. Kita jalani ini bareng, ya."

Malam itu, dengan bintang-bintang menjadi saksi, mereka berdua sepakat untuk memulai babak baru dalam hidup mereka—dengan harapan, kesabaran, dan cinta yang perlahan tumbuh.









TBC.

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang