Bab 20

786 36 5
                                        

Sore itu, angin pantai masih terasa di rambut Olivia meski mereka sudah kembali ke Bandung. Usai membereskan barang-barang di rumahnya, ia menerima pesan dari Damar.

[Damar]
Bisa ketemu sebentar di taman dekat rumahmu?

Olivia sempat ragu, tapi akhirnya setuju. Saat tiba di taman kecil itu, Damar sudah duduk di bangku panjang, menatap langit sore yang mulai menguning.

“Capek banget habis liburan ya?” Olivia membuka percakapan, mencoba mencairkan suasana.

Damar tersenyum kecil. “Capek sih, tapi… aku mau ngomong sesuatu sebelum terlambat.”

Olivia mengernyit. “Sesuatu?”

Damar menarik napas dalam, lalu menatapnya langsung. “Liv, aku suka sama kamu. Dari dulu. Dan aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat, tapi aku nggak mau nyesel karena nggak pernah bilang.”

Suasana mendadak hening. Olivia merasa dadanya menghangat sekaligus berat. Ia menunduk sejenak sebelum menjawab pelan, “Dam… makasih, ya. Aku nggak nyangka kamu simpan perasaan itu selama ini.”

Damar menatapnya penuh harap. “Jadi…?”

Olivia menggeleng pelan. “Aku nggak bisa, Dam. Bukan karena kamu nggak baik—kamu itu teman yang luar biasa. Tapi aku udah dijodohin sama Ansel. Walaupun… hubungan kami belum jelas, aku mau coba jalanin dulu. Aku nggak mau kasih kamu harapan palsu.”

Ekspresi Damar meredup, tapi ia berusaha tersenyum. “Jadi kita cuma sahabatan, ya?”
Olivia mengangguk, mencoba memberi senyum hangat. “Iya. Aku nggak mau kehilangan kamu sebagai teman, Dam. Kamu penting buat aku, tapi… bukan dengan cara itu.”

Damar menghela napas panjang, lalu menatap langit yang kini mulai memerah. “Oke, Liv. Aku ngerti. Tapi jangan lupa, aku tetap di sini kalau kamu butuh.”

Olivia tersenyum tipis. “Makasih, Dam.”

Mereka duduk dalam diam, membiarkan sore merangkak menuju malam. Dan meski Damar mencoba menutupinya, Olivia tahu, butuh waktu lama untuk meredakan luka itu.

**

Malamnya, rumah Olivia terasa sepi. Ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, menimbang-nimbang apakah harus menceritakan pertemuannya dengan Damar atau tidak. Tapi pada akhirnya, ia memilih jujur.

Ia mengetik singkat ke Ansel.

[Olivia]
Bisa ke rumah?
Aku mau ngomong.

Tak sampai lima belas menit, Ansel sudah berdiri di depan pintu, masih memakai jaket motor. “Ada apa? Kok serius banget?” tanyanya sambil masuk.

Olivia menarik napas panjang. “Tadi sore… Damar confess ke aku.”

Ansel langsung terdiam. Pandangannya kosong beberapa detik sebelum ia mengangkat alis. “Confess? Maksud lo… dia bilang suka?”

Olivia mengangguk pelan. “Iya. Tapi aku nolak, Sel. Aku bilang aku mau jalani perjodohan kita.”

Rahang Ansel mengeras. “Dia tahu lo dijodohin sama gue, kan? Tapi dia masih—”

“Sel…” Olivia memotong, suaranya lembut. “Jangan salahin dia sepenuhnya. Dia cuma jujur sama perasaannya. Lagian aku udah jelas nolak, nggak ada yang perlu kamu khawatirin.”

Ansel menghela napas keras, lalu berjalan mondar-mandir di ruang tamu. “Gue nggak khawatir, Liv. Gue cuma… kesel. Kesel karena dia pikir dia punya kesempatan.”

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang