Libur panjang sebelum masa perkuliahan dimulai akhirnya tiba. Ansel dan Olivia, yang selama ini disibukkan oleh ujian sekolah dan pendaftaran kuliah, akhirnya punya kesempatan untuk benar-benar menghirup udara bebas.
Fajar baru saja menyentuh langit Bandung ketika Ansel tiba di Stasiun Hall. Udara pagi menusuk kulit, sedikit berkabut. Ia berdiri di peron dengan ransel hitam besar di punggung, kedua tangan diselipkan ke saku jaket. Pandangannya terus melirik arah pintu masuk stasiun, menunggu sosok yang sudah setengah jam lalu ia chat, tapi belum juga muncul.
“Selamat pagi,” suara Olivia terdengar dari belakang. Gadis itu muncul sambil menyeret koper kecil, jaket krem terpasang rapi, rambut diikat setengah tinggi. Pipinya memerah, entah karena udara dingin atau karena ia setengah berlari dari pintu masuk.
“Pagi? Ini udah hampir siang,” goda Ansel dengan nada datar, tapi matanya jelas menyiratkan senyum.
Olivia mengangkat alis. “Kereta berangkat jam enam, sekarang masih jam lima lima puluh lima. Aku nggak telat.”
“Nyaris.”
Begitu peluit tanda keberangkatan berbunyi, mereka melangkah masuk ke gerbong ekonomi premium. Ansel sengaja memilih kursi dekat jendela. Olivia duduk di sisi jendela, sementara Ansel di sebelahnya, menyelipkan tas di bawah kursi.
Kereta mulai bergerak. Stasiun demi stasiun terlewati, lalu pemandangan kota perlahan berubah jadi hamparan sawah berembun dan pegunungan yang puncaknya tertutup kabut tipis.
Olivia membuka novel dari tasnya, menunduk serius membaca. Ansel, yang sudah memasang headset, sesekali melirik ke arahnya. Setiap kali Olivia tersenyum kecil atau tertawa pelan karena bagian lucu di bukunya, Ansel pura-pura membetulkan posisi duduknya sambil mencuri pandang.
“Ngeliatin aku kenapa?” tanya Olivia tanpa menoleh.
“Siapa yang ngeliatin?” jawab Ansel cepat.
Olivia menutup bukunya, menyipitkan mata. “Ya udah, jangan nyesel kalo aku foto pas kamu tidur di kereta nanti.”
Sekitar jam sembilan, mereka berjalan ke kantin kereta. Meja kecil dekat jendela jadi tempat mereka duduk, di depannya ada dua gelas kopi hitam dan roti isi keju.
“Gue udah bikin list tempat yang mau kita datengin,” kata Ansel sambil menyeruput kopi.
Olivia mengangkat alis. “List? Aku kira kita cuma bakal muter-muter Malioboro.”
“Muter-muter Malioboro itu wajib. Tapi gue mau kita juga ke Prambanan, Pantai Parangtritis, sama makan gudeg asli Jogja. Kalo sempet, gue mau ajak lu ke Bukit Bintang. Malem-malem liat city lights dari atas.”
Olivia tersenyum. “Kedengerannya… romantis.”
Ansel mengedikkan bahu. “Ya… kan kita turis.”
**
Perjalanan terasa cepat, dan jam dua siang mereka tiba di Stasiun Tugu. Udara Jogja hangat, dengan aroma khas campuran makanan kaki lima dan debu jalanan. Dari stasiun, mereka naik becak ke penginapan kecil bergaya Jawa.
Begitu sampai di penginapan, Ansel membuka pintu kamar mereka. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman—lantainya dari kayu, dindingnya dihiasi lukisan wayang, dan aroma kayu manis samar tercium dari sudut ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Roman d'amour❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
